Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Artikel Ilmiah

Lautan Bunga Warna Terang, gambaran dari mencintai secara radikal

×

Lautan Bunga Warna Terang, gambaran dari mencintai secara radikal

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

M. Abid Al Ghiffari (seonggok pengajar yang masih belajar)

Lagu adalah bagian dari bagaimana manusia membahasakan apa yang mereka rasa. Bahkan ada beberapa kesempatan lagu juga yang menemani keadaan mereka sehingga mereka merasa ditemani. Manusia bisa terbawa oleh melodi dari lagu tersebut, terbawa emosinya hingga merenungi apa pesan yang disampaikan penciptanya. Dari sekian banyak tema yang dibawakan dalam lagu materi terbesarnya adalah tentang cinta. Dikutip dari billboard.com ada kurang lebih tujuh dari 10 lagu teratas di pekan ini (3/10) adalah lagu yang bertemakan cinta.

Example 300x600

Sebagaimana yang tertulis di awal. Bahwa lagu adalah bentuk dari ikhtiar manusia membahasakan apa yang mereka rasa. Tema terbesar yang sering dibawakan dan populer adalah cinta. Lagu bertema cinta dibawakan dalam berbagai genre; mulai dari pop, reggae, folk, rock, metal, punk, rap dan lain sebagainya. Tema tersebut dibawa sesuai dengan apa yang dirasa, dimampu atau menurut pencipta paling pas untuk menyampaikannya. Sesuai dengan kemampuan manusia yang sangatlah kreatif aku ingin membedah dari genre punk. Karena punk biasanya menyampaikan kritik, keresahan sosial bahkan kebencian kepada rezim tetapi oleh Dongker dibawanya untuk menggambarkan cinta antar manusia.

Dongker membawakan cinta itu dalam beberapa nomor lagunya pada album terbaru mereka yang diberi nama Melankolia Radikal. Lagu-lagu itu seperti Metafora Berpelukan, Kisah Sedih Kontemporer, Lagu Selepas Hujan maupun Lautan Bunga Warna Terang. beberapa nomor lagu yang selalu melewati linimasa sosial media. Lautan Bunga Warna Terang sebenarnya adalah metafora dari Dongker kepada Balada Dongkap (penggemar dongker) yang sering menggunakan balaclava yang rupa-rupa warnanya kala Dongker sedang tampil.

Bukan hanya tentang Balada Dongkap tetapi kita bisa memahaminya sebagai lagu cinta antar manusia seperti yang tertulis dalam lirik-liriknya. Seperti yang tertulis dalam lirik-liriknya. “Ku tertipu di riuh cinta yang terus membunuh nasibku” Sebuah lirik pembuka lagu yang mungkin saja salah kubahasakan tetapi kurang lebih inilah yang aku tangkap darinya; bisa jadi pencipta lagu tersebut salah mempersepsikan tentang cinta yang rupanya malah menjadi pembunuh nasibnya. Pencipta tidak menceritakan apakah itu nasib baik atau buruk yang terbunuh, akan tetapi semoga yang terbunuh nasib yang buruk.

Cinta masih menjadi bawaan tema utama dari lagu Lautan Bunga Warna terang yang mana Dongker menuliskan “Oh, kita berdua menari liar, tak perlu alasan, Oh, nyatanya kita hidup tak hanya berdua” yang tertangkap dari dua baris ini cukup menarik. Di mana dongker menulis kata “Menari” kita bisa tafsirkan ini sebagai bentuk dari ekspresikan cinta sepasang manusia yang dilakukan secara liar tanpa perlu alasan apa yang dirayakan dari cinta. Larik berikutnya bisa diinterpretasikan bahwa pencipta menyadari bahwa mereka hidup bukan hanya berdua melainkan kolektif dengan lainnya. Karena itu diharapkan kita bisa menyadari lingkungan di sekitar kita, tetangga, warga bahkan alam raya harus lekas disadari eksistensinya.

Di bait lainnya Dongker masih membahas tentang cinta namun mulai memberi sentuhan isu sosial di dalamnya. “Pelukmu pagi itu lebih menenangkan, Ketimbang karya protes yang tak mewakilkan”. Dalam larik ini Dongker seakan memberitahu bahwa peluk hangat dari kekasih itu di pagi hari lebih indah daripada poster-poster protes yang tidak mewakilkan apa yang mereka rasakan. karya protes yang tidak mewakilkan itu sering terlihat kala aksi sedang digelar, biasanya berisi tulisan yang tidak substantif seperti meminta turunnya Nabi Isa saat momen aksi turunkan harga BBM. Pelukan juga bisa dianggap sebagai penentram dan rasa hangat di dinginnya pagi yang mungkin banyak aktivis tak sempat merasakannya karena mereka masih tertidur di sekretariat mereka, setelah semalaman berdiskusi mampus berdiskusi hingga dini hari.

Lirik lagu tersebut juga ada bagian yang cukup logis meski dilematis jika kita adu dengan idealitas punk itu sendiri. Yaitu pada “Suaraku hilang dari bumi, Ditelan nilai dan ambisi”. Semakin kita dewasa semakin realistis kita melihat keadaan di sekitar kita. Kita semakin menerima dengan keadaan baik parah maupun rusaknya sekitar. Semua yang dilantangkan hilang disapu nominal dan keinginan duniawi kita. Bisa juga dibaca bahwa suara kita hilang, suara yang diteriakan setiap hajatan lima tahunan sirna begitu saja kala mereka kalap dengan nominal proyek dan ambisi pribadi segelintir mereka.

Hal yang paling menarik dan masih mengangkat nilai-nilai perlawanan dan ranah lokal ada pada penggalan lirik berikut. “Paksa iblis turun dari kursi, Seperti revolusi di Pati” seperti yang diketahui bahwa warga Pati pernah berjuang untuk menggulingkan bupatinya pada tahun 2025. Sehingga banyak muncul gagasan dan tulisan seperti “Revolusi dimulai dari Pati”. Memaksa menurunkan “iblis” dari singgasananya memang tidak akan mudah, bisa dipastikan ada teror mengganggu bagi siapapun yang berani mengusik iblis dari singgasananya sehingga menjaga agar tetap hidup di setiap pagi adalah niscaya.

Sekarang kita masuk pada bagian chorus lagu ini, yaitu; “Lautan bunga berwarna terang, Ku berharap ku mati di sana, Kutemukan dasarnya yang tajam, Lalu berusaha hidup lagi” Lautan bunga yang dimaksud mungkin sebagaimana yang ditulis di awal, atau bisa saja letterlijk seperti yang pencipta tulis. Kebun bunga yang luas dengan ragam hayati di dalamnya, sehingga membuat pencipta ingin mengakhiri dirinya di sana. Meski dasar yang tajam, entah karena duri dari lautan bunga tersebut atau suatu hal yang menyakitinya, namun membuatnya menemukan alasan untuk hidup kembali. Cukup melankolis bait tersebut, berharap mati di tempat yang dianggapnya indah dan berjuang untuk hidup kembali.

Setelah chorus ada lirik ya di mana pencipta bertanya terkait kekasihnya yang seringkali tak sepaham dengan pencipta. “Hei, apa benar kau cintaku? Berulang kali kau tak setuju, Di hiruk-pikuk pajak negara, Yang diembat habis penguasa”. Selain skeptis pada kekasih terkait perbedaan yang wajar terjadi dalam romansa, pencipta juga menggambarkan keadaan kita yang hidup penuh dengan pajak. Bahkan sampai ada anekdot bertulis; “dimana bumi dipijak, di situ kamu dipajak.” yang merupakan plesetan dari dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Pajak kita diumbar habis penguasa dengan program-program mereka yang buat kita sakit kepala. Mulai dari MBG yang menyebabkan puluhan ribu rakyat keracunan. Ataupun Kopdes yang entah apa sebenarnya fungsi dan perannya.

Ada bagian yang sering melintas pada linimasa sosial media. Liriknya cukup dekat dengan keseharian kawula muda di negara berbunga +62 ini. “Kita berdua bisa saja lari, Berhutang uang di sana-sini, Tak peduli esok akan mati, Atau hidup seribu tahun lagi.” Karena mudahnya berhutang dan semakin tinggi gengsi menyebabkan banyaknya orang yang terjebak pinjaman online. Beberapa dari mereka akhirnya gali lubang tutup lubang hutang, bahkan memutuskan untuk lari dari para penagih hutang. Mereka tidak peduli lagi apakah besok mereka mati atau malah Tuhan beri kesempatan bernafas hingga seribu tahun kelak. Setelahnya kita dikembalikan lagi pada chorus yang berisi tentang lautan bunga dan harapan pencipta agar berakhir di sana serta dapat hidup kembali dari sana.

Sampailah kita pada bait menjelang akhir yang diisi oleh vokal dari Arno (vocalist Dongker yang gak pernah nyaleg). “Menatapmu di pantulan penuh nafsu, Bukan karena kita saling cinta”. Karena bisa kita percaya dan disepakati bersama bahwa cinta kepada pasti datang bersamaan dengan nafsu. Biasanya momen seperti ini juga hadir pada masa paling intim dengan kekasih. Dongker bercerita dengan jujur tentang rasa dan cinta dalam lagunya ini. Tidak hanya momen saling mencintai, akan tetapi juga pada momen paling bernafsu kita hadir sepenuhnya.

Setelahnya lagu ini ditutup dengan pertanyaan skeptis lagi pesimis dengan keadaan yang terjadi. “Apa kita berdua, Benar-benar saling cinta? Di peliknya, Sakit jiwa, sakit otak, dan hancurnya mental kita”. Pencipta disini masih memvalidasi apakah ia dan kekasihnya memang saling mencintai. Apalagi dia menyadari bahwa keadaan mereka memang sangat tidak baik-baik saja. Karena pencipta merasa bahwa mentalnya tidak baik-baik saja, bisa karena sakit otaknya atau malah jiwanya.

Begitulah sekiranya lagu yang membahasakan apa yang dirasa oleh penciptanya. Dengan ritme punk yang kencang namun tetap melodis. Sarat akan makna, isu sosial di sekitar kita. Dari Pati hingga teriakan protes yang tidak mewakilkan. Tentang cinta memiliki kadar yang sama kuatnya dalam lagu ini. di mana pencipta tertipu dengan hal itu, merasa peluk kekasihnya lebih indah dari protes yang tidak mewakilkan. Bahkan ada momen yang cukup radikal, pencipta merasa dapat mengajak kekasihnya lari berhutang (seperti mr.J) dan lari alias tidak mengangsurnya. Dongker juga bercerita momen melankolia yang terjadi pada kisah cinta pada akhir lagunya dengan tanya. Hal tersebut relevan dengan apa yang terjadi pada kawula; Sakit jiwa, sakit otak serta remuknya mental.

References:
https://www.billboard.com/charts/indonesia-songs-hotw/
https://id.wikipedia.org/wiki/Dongker
https://www.youtube.com/watch?v=2QW-JjZPs88
https://ronggo.id/sejumlah-poster-warnai-aksi-demo-mahasiswa-bojonegoro-pilih-harga-bbm-turun-atau-nabi-isa-yang-turun/
https://jakartaglobe.id/news/85000-rally-in-pati-demanding-regents-resignation-over-tax-hike
https://ugm.ac.id/id/berita/33-ribu-pelajar-keracunan-mbg-target-3000-porsi-per-sppg-dinilai-melebihi-kapasitas/
https://ekbis.sindonews.com/read/1759631/178/marak-gali-lubang-tutup-lubang-ojk-minta-pinjol-perketat-syarat-utang-1791799802

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *