Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Artikel Ilmiah

Bakteri Akuatik: Makhluk Tak Terlihat yang Ternyata Sudah Lama Membantu Manusia

×

Bakteri Akuatik: Makhluk Tak Terlihat yang Ternyata Sudah Lama Membantu Manusia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Ferry Cahya Raharja, Mahasiswa Magister Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Instagram: Cahyaferry_

Ketika mendengar kata “sumber daya akuatik”, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan ikan, udang, rumput laut, terumbu karang, atau mangrove. Semua itu memang penting. Namun, ada kehidupan lain yang jauh lebih kecil, tidak terlihat oleh mata, tetapi perannya sangat besar bagi manusia dan ekosistem perairan. Mereka adalah bakteri akuatik.Bakteri akuatik hidup di berbagai lingkungan perairan, mulai dari laut, sungai, danau, tambak, sedimen, hingga tubuh organisme air seperti ikan, udang, kerang, dan rumput laut. Walaupun ukurannya mikroskopis, bakteri ini memiliki kemampuan luar biasa. Mereka membantu menguraikan bahan organik, mendaur ulang nutrien, menjaga kualitas air, hingga menghasilkan senyawa yang dapat dimanfaatkan manusia.

Example 300x600

Menariknya, tanpa banyak disadari, manusia sebenarnya sudah lama memanfaatkan bakteri akuatik. Peran mereka hadir dalam makanan fermentasi, pengawetan alami produk perikanan, probiotik untuk budidaya ikan dan udang, produksi enzim, hingga pengembangan sumber protein masa depan. Dengan kata lain, bakteri akuatik bukan hanya bagian dari keanekaragaman hayati perairan, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari manusia.

Dari Ikan Fermentasi hingga Rasa Khas yang Kita Kenal

Salah satu contoh paling dekat dari pemanfaatan bakteri akuatik adalah pada produk perikanan fermentasi. Di Indonesia, kita mengenal berbagai produk seperti peda, bekasam, rusip, terasi, petis, dan berbagai olahan ikan atau hasil laut lainnya. Produk-produk ini memiliki rasa dan aroma khas yang terbentuk bukan hanya karena garam atau proses penyimpanan, tetapi juga karena aktivitas mikroorganisme. Bakteri asam laktat atau lactic acid bacteria (LAB) merupakan salah satu kelompok bakteri yang banyak berperan dalam fermentasi pangan. Beberapa contohnya adalah Lactobacillus, Pediococcus, Lactiplantibacillus, Enterococcus, dan Tetragenococcus. Bakteri ini membantu menghasilkan asam organik, membentuk cita rasa, memperbaiki tekstur, serta menekan pertumbuhan mikroba pembusuk. Pada produk ikan fermentasi, keberadaan bakteri tersebut dapat membantu meningkatkan mutu, memperpanjang masa simpan, dan memberikan karakter rasa yang khas (Khongthaw et al., 2026).

Dari sini terlihat bahwa teknologi pangan tradisional sebenarnya sudah sangat dekat dengan mikrobiologi. Masyarakat dahulu mungkin belum mengenal istilah bakteri asam laktat, starter culture, atau biopreservasi. Namun, melalui pengalaman turun-temurun, mereka telah memanfaatkan kerja mikroorganisme untuk membuat makanan lebih awet, lebih aman, dan lebih bernilai.

Bakteri Baik sebagai Pengawet Alami

Produk hasil perikanan termasuk bahan pangan yang mudah rusak. Ikan dan hasil laut memiliki kadar air dan protein yang tinggi, sehingga sangat mudah mengalami pembusukan apabila tidak ditangani dengan baik. Di sinilah bakteri baik memiliki peran penting.

Beberapa bakteri mampu menghasilkan senyawa antimikroba alami, salah satunya bakteriosin. Bakteriosin adalah senyawa protein atau peptida yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan patogen. Dalam bidang pangan, pemanfaatan senyawa seperti ini dikenal sebagai biopreservasi, yaitu pengawetan makanan menggunakan agen biologis atau senyawa alami yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Biopreservasi semakin menarik karena masyarakat kini cenderung mencari produk pangan yang lebih alami dan minim bahan pengawet sintetis. Putri et al. (2024) menjelaskan bahwa bakteriosin dari bakteri asam laktat memiliki potensi besar untuk memperpanjang umur simpan makanan dan meningkatkan keamanan pangan. Pada produk perikanan, pendekatan ini dapat menjadi solusi untuk menjaga mutu ikan dan hasil laut agar tetap aman dikonsumsi.

Probiotik Akuakultur: Bakteri Kecil untuk Ikan dan Udang yang Lebih Sehat

Bakteri akuatik juga membantu manusia melalui sektor akuakultur. Dalam budidaya ikan dan udang, bakteri probiotik banyak digunakan untuk menjaga kesehatan organisme budidaya. Bakteri seperti Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Lactobacillus, Pediococcus, dan Enterococcus dapat membantu memperbaiki pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, menekan bakteri patogen, serta menjaga kualitas air budidaya. Manfaat ini sangat penting karena ikan dan udang yang sehat akan menghasilkan produk perikanan yang lebih baik untuk dikonsumsi manusia. Selain itu, penggunaan probiotik juga menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik dalam budidaya perikanan. Mohammed et al. (2025) menyebutkan bahwa probiotik dalam akuakultur berperan dalam meningkatkan pertumbuhan, efisiensi pakan, pencegahan penyakit, dan pengelolaan kualitas air. Artinya, bakteri baik tidak hanya membantu organisme budidaya, tetapi juga mendukung sistem produksi pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Bakteri Laut sebagai Pabrik Enzim Alami

Lingkungan laut adalah tempat hidup yang penuh tantangan. Ada salinitas tinggi, tekanan, suhu yang berubah-ubah, dan ketersediaan nutrien yang tidak selalu stabil. Karena hidup di lingkungan seperti itu, banyak bakteri laut memiliki kemampuan adaptasi yang unik. Salah satu potensi besar bakteri laut adalah kemampuannya menghasilkan enzim. Enzim dari bakteri akuatik dapat digunakan dalam berbagai proses pengolahan pangan. Misalnya, enzim protease dapat membantu memecah protein ikan menjadi senyawa yang lebih sederhana, lipase dapat membantu pengolahan lemak, sedangkan kitinase dapat digunakan untuk mengolah limbah cangkang udang atau kepiting menjadi produk bernilai tambah. Maldonado-Ruiz et al. (2024) menjelaskan bahwa bakteri laut merupakan sumber penting berbagai bioproduk, seperti enzim, bakteriosin, pigmen, dan eksopolisakarida. Potensi ini menunjukkan bahwa bakteri laut tidak hanya penting bagi ekosistem, tetapi juga memiliki nilai besar untuk industri pangan, farmasi, kosmetik, dan bioteknologi.

Sumber Senyawa Bioaktif dari Perairan

Bakteri akuatik, khususnya bakteri laut, juga dikenal mampu menghasilkan senyawa bioaktif. Senyawa bioaktif adalah senyawa yang memiliki aktivitas biologis tertentu, misalnya sebagai antimikroba, antioksidan, antiinflamasi, atau imunomodulator. Dalam bidang pangan, senyawa bioaktif dapat dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional, pengawet alami, pewarna alami, atau bahan tambahan pangan. Beberapa bakteri laut juga menghasilkan pigmen alami yang berpotensi menggantikan pewarna sintetis. Selain memberikan warna, beberapa pigmen mikroba juga memiliki aktivitas antioksidan. Namun, pemanfaatan bakteri untuk pangan tidak boleh dilakukan sembarangan. Tidak semua bakteri aman. Beberapa bakteri akuatik justru dapat bersifat patogen bagi manusia maupun organisme perairan. Karena itu, setiap bakteri yang akan dimanfaatkan harus melalui proses identifikasi, uji keamanan, uji toksisitas, dan standar produksi yang ketat.

Protein Sel Tunggal: Peluang Pangan Masa Depan

Selain digunakan untuk fermentasi dan probiotik, bakteri juga mulai dilirik sebagai sumber protein alternatif. Konsep ini dikenal sebagai single-cell protein atau protein sel tunggal. Protein ini berasal dari biomassa mikroorganisme, termasuk bakteri, yang memiliki kandungan protein tinggi. Saat ini, protein sel tunggal dari bakteri banyak dikembangkan untuk pakan akuakultur. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada tepung ikan dan bahan baku pakan konvensional. Jika pakan ikan dan udang menjadi lebih efisien dan berkelanjutan, maka produksi pangan akuatik untuk manusia juga akan lebih terjaga.Mugwanya et al. (2026) menyebutkan bahwa bacterial single-cell protein memiliki kandungan protein tinggi, profil asam amino yang baik, serta berpotensi menjadi bahan pakan akuakultur yang berkelanjutan. Walaupun pemanfaatannya untuk konsumsi langsung manusia masih memerlukan kajian keamanan yang lebih luas, potensinya dalam mendukung sistem pangan masa depan sangat besar.

Bakteri Akuatik dan Lingkungan Perairan yang Sehat

Manfaat bakteri akuatik tidak hanya terlihat pada produk pangan. Di alam, bakteri juga membantu menjaga lingkungan perairan agar tetap seimbang. Mereka berperan dalam penguraian bahan organik, siklus nitrogen, siklus karbon, dan pengendalian limbah alami di perairan. Dalam sistem budidaya, bakteri tertentu dapat membantu mengurangi amonia, memperbaiki kualitas air, dan menjaga keseimbangan mikroba. Lingkungan budidaya yang sehat akan mendukung pertumbuhan ikan dan udang yang sehat pula. Pada akhirnya, hal ini berpengaruh pada kualitas pangan yang sampai ke meja makan manusia.Namun, keseimbangan tetap menjadi kunci. Bakteri yang menguntungkan perlu didukung, sedangkan bakteri patogen harus dikendalikan. Beberapa bakteri seperti Vibrio tertentu dapat menyebabkan penyakit pada ikan, udang, bahkan manusia. Oleh karena itu, pemanfaatan biodiversitas bakteri akuatik harus dilakukan secara hati-hati, berbasis ilmu pengetahuan, dan memperhatikan keamanan pangan.

Kecil, Tidak Terlihat, tetapi Sangat Berarti

Bakteri akuatik mengajarkan bahwa tidak semua hal penting harus terlihat besar. Di balik produk ikan fermentasi, budidaya udang yang sehat, kualitas air tambak, hingga potensi pangan masa depan, ada peran mikroorganisme yang bekerja diam-diam.

Selama ini, manusia mungkin lebih sering memandang perairan sebagai sumber ikan, udang, atau rumput laut. Padahal, perairan juga menyimpan kekayaan mikroba yang luar biasa. Bakteri akuatik adalah bagian dari biodiversitas yang memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan bioteknologi.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, potensi ini sangat besar. Laut, sungai, dan tambak kita bukan hanya menyimpan sumber daya hayati yang tampak oleh mata, tetapi juga kekayaan mikroorganisme yang belum semuanya terungkap. Dengan riset yang tepat, bakteri akuatik dapat terus dikembangkan untuk mendukung pangan, kesehatan, lingkungan, dan industri berkelanjutan.

Pada akhirnya, bakteri akuatik bukan sekadar makhluk mikroskopis di perairan. Mereka adalah pekerja kecil yang ikut menjaga ekosistem, membantu produksi pangan, dan membuka peluang inovasi bagi masa depan manusia.

Daftar Pustaka

FAO. (2024). The State of World Fisheries and Aquaculture 2024: Blue Transformation in Action. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations. https://doi.org/10.4060/cd0683en

Khongthaw, B., Dladla, M., Chauhan, P. K., Dulta, K., Kumar, V., Oneyaka, H., & Ghosh, S. (2026). Fermented fish products: A comprehensive overview of traditional processing techniques, varieties, and their health benefits. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety. https://doi.org/10.1111/1541-4337.70457

Maldonado-Ruiz, K., Pedroza-Islas, R., & Pedraza-Segura, L. (2024). Blue biotechnology: Marine bacteria bioproducts. Microorganisms, 12(4), 697. https://doi.org/10.3390/microorganisms12040697

Mohammed, E. A. H., Ahmed, A. E. M., Kovács, B., & Pál, K. (2025). The significance of probiotics in aquaculture: A review of research trend and latest scientific findings. Antibiotics, 14(3), 242. https://doi.org/10.3390/antibiotics14030242

Mugwanya, M., Muteti, K., Dawood, M. A. O., Binaii, M., Amer, A. A., Yilmaz, S., & Ahmadifar, E. (2026). Bacterial single-cell proteins as sustainable aquafeeds: A meta-analysis of growth, physiological homeostasis, and antioxidant capacity. Aquaculture Nutrition, 2026, 4548847. https://doi.org/10.1155/anu/4548847

Putri, D. A., Lei, J., Rossiana, N., & Syaputri, Y. (2024). Biopreservation of food using bacteriocins from lactic acid bacteria: Classification, mechanisms, and commercial applications. International Journal of Microbiology, 2024, 8723968. https://doi.org/10.1155/ijm/8723968

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *