Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kolom

Pengetahuan yang Belum Menjadi Kebiasaan

×

Pengetahuan yang Belum Menjadi Kebiasaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh:

Beberapa waktu lalu saya menulis artikel berjudul “Pendidikan yang Memuja Teori dan Melupakan Praktik” (Vinsensius, Pikiranbangsa.co, 7 Februari 2026). Dalam tulisan tersebut saya mengkritik kecenderungan pendidikan yang terlalu menekankan penguasaan konsep, tetapi sering kali kurang memberi ruang bagi pengalaman nyata. Pendidikan akhirnya menghasilkan banyak orang yang mengetahui sesuatu, tetapi belum tentu terbiasa melakukannya.

Example 300x600

Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak saya adalah apakah gejala tersebut juga tampak dalam pembelajaran keuangan. Apakah mahasiswa yang memahami pentingnya mengelola uang benar-benar mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah pengetahuan keuangan hanya berhenti sebagai materi kuliah yang dipahami tanpa pernah menjadi kebiasaan hidup?

Untuk melihatnya, saya melakukan refleksi pembelajaran pada mata kuliah Manajemen Keuangan yang melibatkan 25 mahasiswa Semester 2 D3 Keuangan dan Perbankan. Tujuannya bukan untuk mencari siapa yang paling baik mengelola uang, melainkan untuk melihat sejauh mana pengetahuan yang dipelajari di ruang kuliah telah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya menunjukkan bahwa kesadaran keuangan mulai tumbuh, tetapi proses membangun kebiasaan masih menjadi tantangan.

Kesadaran yang Mulai Tumbuh

Hasil refleksi menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai pentingnya pengelolaan keuangan. Sebanyak 88 persen mahasiswa telah memiliki tabungan pribadi. Angka ini menunjukkan bahwa menabung bukan lagi sesuatu yang asing bagi mereka.

Kesadaran tersebut juga terlihat dari cara mereka memandang masa depan. Sebagian besar mahasiswa memahami bahwa menabung perlu dimulai sejak masih berada di bangku kuliah. Mereka menyadari bahwa kondisi keuangan seseorang pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga oleh kebiasaan yang dibangun sejak sekarang.

Selain memiliki tabungan, sebanyak 72 persen mahasiswa mengaku memiliki dana cadangan yang dapat digunakan untuk kebutuhan mendadak. Dalam manajemen keuangan, keberadaan dana cadangan merupakan salah satu bentuk kesiapan menghadapi ketidakpastian. Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kebutuhan keluarga, masalah kesehatan, atau berbagai pengeluaran tak terduga dapat muncul kapan saja.

Kesadaran finansial juga terlihat dalam cara mahasiswa mengambil keputusan sebelum berbelanja. Sebanyak 76 persen mahasiswa menyatakan selalu mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli sesuatu. Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan merupakan salah satu dasar penting dalam pengelolaan keuangan pribadi.

Temuan lain yang cukup menggembirakan adalah 80 persen mahasiswa menilai bahwa materi manajemen keuangan pribadi penting dipelajari di perguruan tinggi. Artinya, mahasiswa menyadari bahwa kemampuan mengelola uang bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi merupakan keterampilan hidup yang akan mereka bawa setelah menyelesaikan pendidikan.

Data-data tersebut memberikan gambaran yang cukup positif. Kesadaran mengenai pentingnya mengelola keuangan mulai tumbuh di kalangan mahasiswa. Mereka memahami bahwa uang tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga perlu dipersiapkan untuk kebutuhan masa depan.

Jarak antara Paham dan Praktik

Meskipun kesadaran tersebut telah tumbuh, hasil refleksi juga memperlihatkan kenyataan yang menarik. Tidak semua mahasiswa yang memahami pentingnya pengelolaan keuangan telah menerapkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contohnya terlihat dari kebiasaan mencatat pengeluaran. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang selalu mencatat setiap pengeluaran yang mereka lakukan. Padahal, pencatatan merupakan langkah sederhana yang dapat membantu seseorang memahami ke mana uangnya digunakan.

Hal serupa juga terlihat dalam kebiasaan membuat rencana penggunaan uang. Sebagian mahasiswa belum terbiasa menyusun anggaran sebelum menggunakan uang yang dimiliki. Akibatnya, pengeluaran sering kali mengikuti keinginan yang muncul saat itu juga, bukan berdasarkan rencana yang telah dibuat sebelumnya.

Temuan yang paling menarik adalah masih banyak mahasiswa yang pernah mengalami kehabisan uang sebelum akhir bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa memahami pentingnya menabung atau mengelola uang belum tentu langsung menghasilkan perilaku keuangan yang teratur. Ada proses yang harus dilalui sebelum pengetahuan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam ilmu manajemen keuangan, kondisi seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Banyak orang mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tetapi tidak selalu mampu melakukannya secara konsisten. Mereka memahami manfaat menabung, tetapi masih sulit mengendalikan keinginan untuk berbelanja. Mereka mengetahui pentingnya membuat anggaran, tetapi sering menunda untuk melakukannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan keuangan sering kali bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada kesulitan membangun kebiasaan. Pengetahuan memberikan arah, tetapi kebiasaan menentukan apakah seseorang benar-benar berjalan menuju arah tersebut.

Kebiasaan yang Membentuk Karakter

Dari sudut pandang filsafat, manusia tidak hanya dibentuk oleh apa yang diketahuinya, tetapi juga oleh apa yang dilakukannya secara berulang-ulang. Pengetahuan memang penting, tetapi kebiasaanlah yang perlahan-lahan membentuk karakter.

Seseorang tidak menjadi disiplin hanya karena memahami arti disiplin. Seseorang juga tidak menjadi bijaksana hanya karena mengetahui definisi kebijaksanaan. Karakter tumbuh melalui tindakan yang dilakukan terus-menerus hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hal yang sama berlaku dalam pengelolaan keuangan. Menabung bukan hanya soal menyimpan uang. Menabung juga merupakan latihan mengendalikan diri. Membuat anggaran bukan sekadar menghitung pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga latihan menentukan prioritas. Mencatat pengeluaran bukan hanya pekerjaan administratif, melainkan cara untuk memahami bagaimana keputusan-keputusan kecil memengaruhi kondisi keuangan seseorang.

Tantangan tersebut menjadi semakin besar pada era digital. Berbagai aplikasi belanja menawarkan kemudahan transaksi dalam hitungan detik. Promosi dan potongan harga hadir hampir setiap hari. Keinginan untuk membeli sesuatu sering kali muncul lebih cepat daripada pertimbangan yang matang.

Karena itu, pendidikan keuangan tidak cukup berhenti pada penyampaian teori. Pendidikan perlu membantu peserta didik membangun kebiasaan yang sehat dalam mengelola uang. Pengetahuan memang penting, tetapi kebiasaanlah yang menentukan apakah pengetahuan tersebut benar-benar hadir dalam kehidupan nyata.

Refleksi sederhana ini menunjukkan bahwa benih kesadaran keuangan telah tumbuh di kalangan mahasiswa. Namun pekerjaan pendidikan belum selesai. Tantangan berikutnya adalah membantu pengetahuan tersebut berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

Pada akhirnya, masa depan keuangan seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia ketahui tentang uang. Masa depan keuangan lebih banyak ditentukan oleh apa yang ia lakukan setiap hari. Sebab dalam kehidupan, seperti juga dalam pendidikan, pengetahuan baru menemukan maknanya yang sesungguhnya ketika berubah menjadi kebiasaan.

Bionarasi: Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. Menaruh minat pada bidang filsafat, literasi keuangan, perilaku keuangan, dan pendidikan sebagai sarana pembentukan karakter manusia.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom

Oleh: Gunawan TrihantoroSekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah…