Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
PuisiSastra

Skena Jarak

×

Skena Jarak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Putri ‘Aisyah Nurul Iman

Ketua Pondok Pesantren Alam Nurul Furqon 2024, Ketua Komunitas Puisi Esai Pelajar Kabupaten Rembang

Example 300x600

Kau dan aku seperti dua titik di peta buta—
Kompasku selalu menunjuk ke arahmu,
tapi langkah ini terjebak di garis lintang yang salah.
Malam-malam, kuhitung bintang yang sama,
seperti kode rahasia yang hanya kita pahami.

Musim berganti, tapi wajahmu di foto itu tetap sama:
senyum yang membeku di antara rintikan hujan.
Di sini, kusemai taman dengan bunga-bunga musim panas,
tapi akarnya tak pernah sampai ke tanah tempatmu berpijar.

Lautan antara kita bukan sekadar air dan garam—
ia adalah ribuan detik yang mengambang,
pesan dalam botol yang tersangkut karang.
Kadang kudengar suaramu di gemuruh ombak,
tapi itu hanya echo dari mercusuar yang mati.

Kuberjalan di jalan yang kau lewati kemarin,
menghirup udara yang mungkin masih menyimpan jejakmu.
Bayang-bayang kita pernah bersentuh di aspal panas,
sekarang ia jadi puisi tanpa rima yang kubaca sendiri.

Layar ponsel ini seperti jendela ke duniamu:
kutonton kau tertawa, kutonton kau berlari,
tapi jari ini tak bisa menyentuh cahaya yang memantul.
“Baik-baik di sana,” tulisku di kolom komentar,
disamarkan jadi emoticon senyum datar.

Jarak mungkin hanya ilusi waktu yang malas—
kau di sana, aku di sini, tapi langit kita satu.
Jika nanti bertemu, biar semua angka ini jadi debu,
dan jantung yang menunggu ini kubungkus jadi bulan.


Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Cerpen

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP…