Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

Menuntut Ilmu

×

Menuntut Ilmu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Nawwaf Absyar Rajabi, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang

Ada orang yang suka kamu.
Orangnya keturunan China.
Teruslah menuntut ilmu.
Walaupun hingga ke negeri China.

Example 300x600

Di Pegunungan ada batuan cadas.
Di lereng Gunung ada pohon tua.
Jadilah orang yang cerdas.
Agar membanggakan orang tua.

Ada Raja yang suka menindas.
Ada juga orang makan orang.
Kita harus bekerja cerdas.
Agar bisa memberdayakan orang.

Ada orang sedang kewalahan.
Karena sedang banyak tamu.
Salah satu kunci kesuksesan.
Ialah menuntut ilmu.

Lagi nonton malah ketahuan.
Katanya ikut yang lain.
Tuntutlah ilmu pengetahuan.
Agar dapat disebarkan ke yang lain.

Ke Amerika untuk lihat pacuan kuda.
Yang bermain adalah orang tua.
Belajarlah diwaktu muda.
Agar berguna di waktu tua.

Di pinggir jalan ada seorang Duda.
Sedang diam mengamati batu.
Belajar di waktu muda.
Bagaikan mengukir di atas batu.

Di kulkas ada Es Aqua.
Di panaskan agar mencair.
Belajar diwaktu tua.
Bagaikan mengukir di atas air.

Di rumah sedang ada tamu.
Tamunya dari kota tua.
Teruslah menuntut ilmu.
Agar tak menyesal di waktu tua.

Hari ini ingin ke rumah Sonia.
Niatnya ingin bertamu.
Barang siapa menginginkan dunia.
Hendaknya ia berilmu.

Seorang panglima punya keinginan.
Ingin mempunyai kekuasaan.
Orang cerdas menuntut ilmu karena keinginan.
Orang bodoh menuntut ilmu karena keterpaksaan.

Pagi-pagi dengar lagu kisinan.
Panas-panas segernya minum Es Temu.
Jangan bersedih jika tak sesuai keinginan.
Bersedih lah jika tak memiliki ilmu.

Sedang rapat untuk mencapai mufakat.
Ke Rumah teman rasanya sungkan.
Ilmu yang bermanfaat.
Adalah ilmu yang diajarkan.

Angka setelah nol adalah satu.
Ada ilmuwan yang diperas ilmunya.
Sebaik-baik orang yaitu.
Yang mengajarkan ilmunya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…