Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

Penantian yang Tanpa Arti

×

Penantian yang Tanpa Arti

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Aku menunggu, bukan mengganggu
Aku memberikan ruang, bukan menyela ketika ada kesempatan
Kupeluk diam sebagai bentuk paling sopan
Agar perasaanku tak menjadi beban

Hari-hari berlalu tanpa suara darimu
Waktu berjalan, aku tetap di tempat yang sama
Menyusun harap dari hal-hal kecil
Yang ternyata tak pernah kau cari

Aku belajar sabar dengan caraku sendiri
Menyederhanakan rindu, menurunkan ekspektasi
Namun diamku tak pernah kau tafsir
Dan setiaku tak pernah kau sadari

Hingga akhirnya aku mengerti
Tak semua penantian ditakdirkan berbuah
Ada yang hanya hadir
Untuk mengajarkan kapan harus pergi

Maka aku berhenti menunggu
Bukan karena lelah, tapi karena paham
Bahwa penantian yang tanpa arti
Tak layak dipertahankan, meski dengan cinta yang paling dalam.

Oleh: Hafshah Shafira Arsdeswi, Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta

Example 300x600

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…