Oleh: Putri Syakseiah Mahiraswara, Santri-Murid Kelas XI Pesantren-Sekolah Alam Planet Nufo Rembang asal Karawang
“Kangen….”
Lirihan itu terambang di udara, tanpa ada yang menjawab, entah dibawa angin kemana. Hujan sejak pagi membuat sebagian santri memilih untuk bergulung di selimut maupun sarung masing-masing. “Ya Allah… kangen banget.” Perempuan berkerudung coklat berbaring menatap jendela di sampingnya. Sorot mata yang sedari awal sudah sayu kini bertambah redup karena sendu. Jari-jemarinya memainkan tasbih sang bunda yang tak sengaja terbawa, tapi kini menjadi benda favoritnya.
Hatinya masih bersuara menyebut asma Allah, tapi pikirannya tak berada di tempat. Yang pasti, bukan di tempat ia berbagi atap dengan santri lainnya ini. Target hafalan hari itu sudah selesai. Ketika ingin melanjutkan untuk persiapan, kenangan membanjiri kepalanya, membuatnya terhenyak di atas alas tidur.
Dibolak-balik posisi tidurnya, tapi tak kunjung tenang dirinya. Pagi itu ia senang tujuannya sudah tercapai, mencapai nilai bagus di ujian akhir semester itu. Namun, begitu kenangan itu mengambang di permukaan, tak bisa diayal, sedih juga dirinya. Sudah lm ia tak menghubungi sang bunda. Hatinya resah, ia benar-benar ingin mendengar suara dari perempuan yang membaanya ke dunia itu.
Ia tak ingin menyalahkan hujan, berkah dari Allah, tapi dengan derasnya ia sangsi. Di tempat seperti ini, sinyal di hari cerah saja susah, belum mengantrinya. Melihat hujan ini, ia tak yakin sinyal akan didapat.
Rindu menerpanya dan ia tak bisa melakukan apa-apa.
Dipejamkan matanya, meresapi rasa itu, mencoba menikmatinya dengan latar suara hujan dan dinginny udara. Nihil, hanya terasa makin meyakitkan dengan dirinya yang merasakan. Putus asa menderanya. Ia harus apa?
Matanya mengedar, menatap iri teman-temannya yang bisa tertidur nyenyak. Hingga matanya menangkap sepasang benda, ia berhenti. Dengan keinginan, ia berdiri dan pergi mengambil wudhu. Selesai, ia kembali ke dalam kamar dan membawa benda itu. Dibentangkannya sajadah dan ia pakai sepasang mukena itu, setelah merasa tenang ia mulai ibadah itu. Gerakan demi gerakan ia lakukan dengan khidmat dan khusyuk, hingga tak terasa genap sudah delapan rakaat shalat dhuha.
Tangannya menengadah, ia berdoa, saat itulah air mata yang ditahannya meluruh dari pelupuk. Kali ini bukan bukan hanya rindu rumah yang menderanya, ia rindu kepada rumah yang ‘sebenarnya’, entah apa ia termasuk orang-orang terpilih. Intinya, ia kini mulai merasa sedikit baikan, setidaknya ia tahu semua insan di dunia ini tak pernah sendirian. Manusia hanya harus memilih untuk pergi atau bertahan dan menikmatinya.
Tangisan itu mulai reda dengan sendirinya, meski sedu-sedan masih tertinggal. Dilipatnya baik-baik mukena dan sajadah sebelum beranjak dan mengambil barang yang menemaninya di kala senang maupun sedih. Adalah diari yang tak sengaja terbeli di salah satu kujungan keluarnya. Kini, diari itu menjadi sahabatnya yang selalu berhasil meredam emosinya.
Kali in bukan hanya curahan hati yang akan ia tulis di dalamnya. Akan ditulisnya sebuah surat untuk sang bunda, entah akan berhasil smaapi atau tidak. Tapi jika bukan dengan ini, ia harus bertahan dalam gundah gulana, dan itu bahkan bukanlah pilihan. Dimulailah tarian pena itu di atas kertas ivori polos, menorehkan tinta biru sebagai penghiasnya.
Rembang, 22 Desember 2025
Salam rindu ‘tuk Bunda tercinta
Apa kabar, Bun?
Semoga Bunda dan keluarga sehat selalu. Aamiin…. Alhamdulliah Teteh baik-baik saja. Sudah lama sekali rasanya Teteh tidak cerita apa-apa jika tidak ditanya. Bunda tau kan, Teteh gak pintar ngomong langsung, paling lewat voicenote ataupun tulisan. Karena itu, lewat tulisan ini Teteh mau bilang, maaf banget ya, Bun. Teteh yakin banyak kesalahan Teteh sama Bunda dan keluarga, terutama Bunda. Teteh minta maaf sebanyak-banyaknya. Teteh juga mau bilang teima kasih banyak sama Bunda yang mau sabar dan sayang dengan anak-anak dan keluarganya. Makasih ya, Bun.
Intinya, Teteh sayang banget sama Bunda. Selamat Hari Ibu, Bun!
Anak Perempuanmu,
Ira


















