Oleh: AM
Tahun 2025 mungkin telah meninggalkan bekas di jiwa kita. Terkadang rasanya seperti tanah yang semakin gersang: harapan yang menguap, tenaga yang terkikis, semangat yang layu pelan-pelan. Kita berjalan di antara daftar resolusi yang gagal, berita-berita yang memadatkan kegelisahan, dan rutinitas yang terasa seperti menggerus. Ada keletihan yang dalam, yang membuat kita bertanya, “Untuk apa lagi berjuang? Untuk apa lagi berharap?”
Layu bukan hanya metafora. Ia adalah kondisi di mana hidup kehilangan kesuburannya. Ketika rasa ingin tahu mengering, ketika empati berubah menjadi bebatuan, ketika tawa tak lagi merembes dari dalam. Layu adalah mati gaya hidup—masih bernapas, tapi berhenti tumbuh. Dan tahun-tahun yang berat kerap membawa angin yang mempercepat kelayuan itu.
Namun, perhatikanlah sebentar: pepohonan di musim kemarau. Mereka tak mati. Mereka melawan layu. Akarnya menghujam lebih dalam, mencari sumber air yang tak terlihat oleh mata. Daunnya mungkin berguguran untuk menghemat tenaga, tapi di dalam batangnya, aliran kehidupan tetap mengalir, menunggu waktu yang tepat untuk bertunas kembali.
Melawan layu, pada dasarnya, adalah tindakan memilih hidup. Bukan hidup yang glamor dan penuh sorak, tapi hidup yang dalam dan punya akar.
Di tahun 2026 ini, mari kita jadikan perlawanan terhadap kelayuan sebagai nafas baru. Bagaimana caranya?
Pertama, siramilah akar. Akar kita adalah nilai-nilai paling dalam: kejujuran pada diri sendiri, rasa syukur untuk hal kecil, kehendak untuk belajar. Beri mereka perhatian. Bacalah buku yang menggerakkan, dengarkan musik yang menyentuh, luangkan waktu hening untuk bertanya, “Apa yang masih kupercayai?”
Kedua, terima saja bahwa beberapa daun harus gugur. Beban yang tak perlu, ekspektasi orang lain, kegagalan yang terus kita pikul—biarkan mereka pergi. Pengurangan bukanlah kekalahan. Itu adalah strategi bertahan hidup agar energi terkonsentrasi pada tunas yang penting.
Ketiga, carilah komunitas hujan. Kita tak bisa menghijau sendirian. Carilah orang-orang yang bisa menjadi “hujan” untukmu: yang kata-katanya menyejukkan, yang presensinya mengingatkanmu bahwa kamu tidak kering sendirian. Jadilah hujan untuk yang lain juga. Percakapan yang dalam, dukungan tanpa syarat, itu adalah tetesan yang menghidupkan.
Keempat, percaya pada musim. Hidup punya iramanya sendiri. Setelah kemarau, akan datang hujan. Setelah layu, bisa datang hijau kembali. Tahun 2026 adalah lembaran baru dari siklus itu. Kita tak tahu kapan hujannya, tapi kita bisa memperdalam akar, membersihkan tanah, dan bersiap.
“Melawan Mati” di sini bukan sekadar tentang fisik, tapi tentang matinya kepekaan, matinya rasa ingin tahu, matinya keberanian untuk mencinta dan dicinta. Itu adalah mati dalam hidup, yang jauh lebih sunyi dan menyakitkan.
Maka, di ambang tahun baru ini, mari kita berikrar: Kita akan menjadi pekebun bagi jiwa sendiri. Kita akan melawan layu dengan sengaja. Dengan menanam satu benih kebaikan kecil setiap hari. Dengan menyirami hubungan yang kita sayangi. Dengan berani melihat matahari terbit meski malam terasa panjang.
Tahun 2026, kita tidak menuntutmu untuk selalu cerah. Kami hanya meminta kekuatan untuk tetap menghijau, bahkan di tengah terik. Untuk tetap hidup, bukan sekadar bernafas.
Selamat Tahun Baru 2026. Mari tumbuh kembali, lebih dalam, lebih kuat, lebih hidup.
Melawan Layu adalah Pilihan. Melawan Mati adalah Keberanian.


















