Oleh: Abyan Altaaf Ibrahim, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Jakarta
Pada suatu hari yang cerah di rumah baru saya, saya sedang berkeliling kompleks untuk mengenali lingkungan sekitar. Udara terasa segar, dan suasana begitu tenang. Tiba-tiba, pandangan saya tertuju pada seorang laki-laki yang sedang duduk di depan rumahnya. Wajahnya tampak lesu dan kelelahan. Di sekeliling rumahnya, terlihat kardus dan barang-barang yang berserakan. Sepertinya ia baru saja pindahan.
Saya pun menghampirinya dan bertanya,
“Hei, kamu kenapa?”
Ia menoleh dan menjawab,
“Saya orang baru di sini.”
Saya tersenyum dan berkata,
“Oh, kalau begitu saya juga. Oh iya, namamu siapa?”
“Nama saya Rohan. Saya sekolah di SDN Cirendeu No. 3. Kalau kamu?”
“Kalau saya sekolah di Azhari Lebak Bulus.”
“Oh iya, kamu baru juga, tapi dari kapan?”
“Dari setahun lalu, hehe.”
Kami pun tertawa bersama, meskipun saya sendiri sempat bingung bagaimana seseorang masih disebut ‘baru’ setelah setahun tinggal di tempat yang sama. Namun sejak percakapan singkat itu, kami mulai sering bertemu.
Hari-hari berikutnya kami habiskan dengan berbagai kegiatan sederhana. Kadang kami bersepeda keliling kompleks tanpa tujuan jelas, hanya menikmati angin sore dan tertawa tanpa sebab. Kadang kami duduk di depan rumah sambil membicarakan hal-hal yang tidak penting, seperti mengapa ayam bisa tidur sambil berdiri dan ke mana perginya sandal yang selalu hilang sebelah. Percakapan aneh itu justru membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.
Suatu hari, kami berniat bermain bola di lapangan dekat rumah. Dengan penuh semangat, kami membawa bola kesayangan kami. Namun, baru beberapa menit bermain, bola itu malah nyangkut di atas pohon yang cukup tinggi. Alih-alih panik atau berusaha mengambilnya, kami justru tertawa terbahak-bahak karena tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah berdiskusi singkat yang tidak menghasilkan solusi apa pun, kami akhirnya memutuskan pulang dan membeli es krim. Menurut kami, itu adalah keputusan paling masuk akal saat itu.
Sejak berbagai kejadian absurd tersebut, persahabatan kami semakin dekat. Walaupun sering melakukan hal-hal aneh dan tidak masuk akal, justru dari situlah kenangan-kenangan lucu tercipta. Saya pun menyadari bahwa persahabatan tidak selalu harus sempurna. Terkadang, hal-hal sederhana dan konyol itulah yang membuatnya terasa hangat dan berkesan.


















