Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Santri

Menakar Ulang Target Setoran: Ketika Kecepatan Menghafal Al-Qur’an Mengorbankan Kualitas dan Makna

×

Menakar Ulang Target Setoran: Ketika Kecepatan Menghafal Al-Qur’an Mengorbankan Kualitas dan Makna

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Luluk Khoiriyah, Mahasiswa Prodi Teknologi Informasi ’24 Fakultas Saintek UIN Salatiga

“Menghafal Al-Qur’an bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat sampai, melainkan perjalanan panjang untuk menjaga kalam Allah tetap hidup dalam hati.” Kalimat tersebut terasa semakin relevan ketika berbagai program tahfiz kilat bermunculan dan menawarkan janji menghafal puluhan juz dalam waktu yang sangat singkat. Di tengah antusiasme masyarakat terhadap program-program tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan bersama: apakah kecepatan menghafal benar-benar menjadi ukuran keberhasilan seorang penghafal Al-Qur’an?

Example 300x600

Fenomena program tahfiz akselerasi kini menjadi tren yang banyak diminati. Berbagai lembaga menawarkan program karantina satu tahun hafal 30 juz, kelas intensif akhir pekan, hingga target setoran harian yang sangat tinggi. Bagi sebagian orang, program seperti ini dianggap sebagai solusi praktis untuk mencapai impian menjadi hafiz Al-Qur’an. Namun di balik capaian yang tampak mengesankan, terdapat persoalan yang tidak boleh diabaikan, yaitu menurunnya kualitas hafalan, lemahnya daya tahan hafalan, serta minimnya pemahaman terhadap makna ayat yang dihafalkan. Kondisi ini penting dibahas karena tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tetapi juga dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Idealnya, proses menghafal Al-Qur’an berjalan beriringan dengan perbaikan bacaan, pemahaman isi kandungan ayat, dan pembiasaan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Namun realitas yang sering ditemukan justru menunjukkan sebaliknya. Banyak santri yang berfokus mengejar target setoran sehingga mengandalkan memori jangka pendek. Ayat dihafalkan untuk disetorkan pada hari itu juga, tetapi mudah terlupakan beberapa hari kemudian. Dalam situasi seperti ini, aspek tajwid, makharijul huruf, dan ketelitian bacaan sering kali terabaikan. Akibatnya, hafalan memang bertambah secara kuantitas, tetapi kualitasnya belum tentu terjaga.

Jika dilihat dari sudut pandang pendidikan dan psikologi belajar, pemahaman makna merupakan salah satu faktor penting yang membantu seseorang mempertahankan hafalan dalam jangka panjang. Ketika seorang penghafal mengetahui konteks, kisah, atau pesan yang terkandung dalam ayat yang dihafalnya, otak akan membangun hubungan yang lebih kuat antara informasi dan pengalaman emosional. Sebaliknya, hafalan yang hanya berorientasi pada bunyi cenderung lebih mudah hilang karena tidak memiliki keterikatan makna. Selain itu, tekanan target yang terlalu tinggi juga berpotensi menimbulkan burnout atau kejenuhan. Banyak santri merasa terbebani oleh tuntutan setoran harian dan akhirnya kehilangan semangat ketika harus menghadapi tumpukan murajaah yang sangat banyak setelah program selesai.

Melihat kondisi tersebut, sudah saatnya lembaga pendidikan tahfiz melakukan reorientasi terhadap metode pembelajaran yang diterapkan. Keberhasilan menghafal Al-Qur’an seharusnya tidak hanya diukur dari kecepatan menyelesaikan 30 juz, melainkan juga dari kualitas bacaan, kekuatan hafalan, dan kedalaman pemahaman terhadap isi Al-Qur’an. Metode yang dicontohkan para sahabat Nabi Muhammad SAW dapat menjadi inspirasi. Mereka mempelajari beberapa ayat terlebih dahulu, memahami maknanya, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian melanjutkan ke ayat berikutnya. Pendekatan ini memang membutuhkan waktu lebih lama, tetapi menghasilkan hafalan yang lebih kuat dan berpengaruh terhadap pembentukan karakter.

Pada akhirnya, menghafal Al-Qur’an bukanlah perlombaan lari cepat yang berakhir pada sertifikat atau panggung wisuda. Menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan seumur hidup yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan kedekatan dengan makna yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, paradigma pendidikan tahfiz perlu bergeser dari pertanyaan “kapan khatam?” menjadi “seberapa kuat hafalan dan seberapa dalam pemahaman terhadap Al-Qur’an?”. Sebab, keberhasilan sejati seorang penghafal tidak terletak pada jumlah juz yang berhasil diselesaikan, melainkan pada kemampuannya menjaga, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang hidupnya. Ketika makna menjadi bagian dari hafalan, Al-Qur’an tidak hanya tersimpan di dalam kepala, tetapi juga hidup di dalam hati.

Luluk Khoiriyah,
Email: [email protected]
Instagram: @lulukkryh_
TikTok: @lulukkryh_

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *