Garut, PikiranBangsa.co — Rabu (16/09/26), upaya membangun kesiapsiagaan peserta didik dalam menghadapi bencana terus menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di MIS Ar-Raudhotun Nur. Salah satunya melalui pemahaman mengenai gempa bumi yang tidak hanya dikenalkan sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai bagian dari edukasi mitigasi bencana. Kepala MIS Ar-Raudhotun Nur, Mutiara Selandiana Effendi, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa edukasi kebencanaan di lingkungan madrasah termasuk dalam mitigasi non-struktural, yakni upaya mengurangi risiko bencana melalui pendidikan, penyuluhan, peningkatan pengetahuan, dan kesadaran masyarakat.
Menurut Mutiara, pemberian pemahaman kepada siswa mengenai gempa bumi memiliki peran penting dalam membentuk kesiapsiagaan sejak dini. Pengetahuan sederhana tentang apa itu gempa, mengapa gempa dapat terjadi, serta bagaimana bersikap ketika guncangan muncul menjadi bekal yang dapat membantu siswa menghadapi situasi darurat dengan lebih tenang. “Penjelasan tentang gempa bumi kepada siswa bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi merupakan bagian dari pendidikan kesiapsiagaan agar mereka memiliki pengetahuan dan kesadaran ketika menghadapi bencana,” ujar Mutiara.
Mutiara menambahkan, pemahaman yang baik dapat membantu mengurangi kepanikan ketika siswa berada dalam situasi bencana. Anak-anak yang mengetahui langkah dasar penyelamatan diri akan memiliki gambaran mengenai apa yang harus dilakukan dibandingkan hanya mengandalkan kepanikan atau mengikuti reaksi orang lain. “Ketika anak memahami apa yang terjadi dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan, mereka akan lebih siap dan tidak mudah panik. Karena itu, edukasi kebencanaan perlu diberikan secara bertahap dan sesuai dengan usia peserta didik,” jelasnya.
Mutiara menilai bahwa kesiapsiagaan tidak seharusnya baru dibangun ketika bencana telah terjadi. Sekolah dan madrasah memiliki ruang strategis untuk menanamkan kesadaran tersebut melalui pembelajaran, pembiasaan, penyuluhan, maupun simulasi sederhana. “Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana datang. Sekolah menjadi salah satu tempat yang tepat untuk menanamkan pengetahuan tentang keselamatan, sehingga siswa mengetahui cara melindungi diri dan dapat mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat,” tuturnya.
Pendidikan mitigasi bencana pada akhirnya bukan hanya tentang mengenalkan jenis-jenis bencana, tetapi juga membentuk karakter peserta didik agar lebih waspada, tenang, peduli, dan mampu mengambil keputusan dalam situasi darurat. Melalui edukasi mengenai gempa bumi sebagai bagian dari mitigasi non-struktural, MIS Ar-Raudhotun Nur berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga memberikan bekal kehidupan nyata. Kesadaran yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat menjadi langkah kecil yang memberi dampak besar dalam membangun generasi madrasah yang lebih siap, tangguh, dan sadar akan keselamatan diri serta lingkungan.


















