Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
News

Bukan Sekadar Membaca, Siswa MIS Ar-Raudhotun Nur Menyelami Sejarah Garut di Perpustakaan Umum Kabupaten Garut

×

Bukan Sekadar Membaca, Siswa MIS Ar-Raudhotun Nur Menyelami Sejarah Garut di Perpustakaan Umum Kabupaten Garut

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Garut, PikiranBangsa.co — Literasi tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Hal tersebut ditunjukkan MIS Ar-Raudhotun Nur melalui kunjungan siswa kelas IV dan V ke Perpustakaan Umum Kabupaten Garut yang dikelola oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) Kabupaten Garut. Kegiatan tersebut dikemas sebagai pengalaman belajar yang memadukan penguatan kemampuan membaca, eksplorasi sumber pengetahuan, serta pengenalan sejarah dan budaya Kabupaten Garut.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari komitmen madrasah dalam menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan siswa. Para siswa tidak hanya diajak mengenal perpustakaan dan berbagai koleksi bacaan, tetapi juga diberikan kesempatan untuk membaca secara langsung, memilih bahan bacaan yang menarik, serta mendapatkan informasi mengenai perjalanan sejarah dan perkembangan Kabupaten Garut. Pembelajaran kemudian diperkuat melalui pemutaran tayangan edukasi yang dilaksanakan di Ruang Auditorium atau Mini Auditorium DISPUSIP Kabupaten Garut.

Example 300x600

Melalui kegiatan tersebut, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda. Jika selama ini sejarah dan literasi lebih banyak diperoleh melalui buku pelajaran dan penjelasan guru, kali ini siswa dapat melihat secara langsung berbagai sumber informasi sekaligus menikmati pembelajaran audiovisual. Cara tersebut diharapkan dapat membuat siswa lebih mudah memahami materi sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap daerah tempat mereka tumbuh.

Kepala MIS Ar-Raudhotun Nur, Mutiara Selandiana Effendi, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa madrasah harus mampu menjadi rumah yang tepat bagi perkembangan kompetensi siswa. Menurut Mutiara, penguatan literasi tidak cukup hanya dengan memastikan siswa mampu membaca, tetapi juga harus diarahkan agar mereka mampu memahami informasi, membaca situasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan secara bijak. “Madrasah harus menjadi rumah yang layak bagi tumbuhnya kemampuan siswa. Literasi bukan hanya tentang lancar membaca, tetapi bagaimana anak mampu memahami informasi dan menggunakannya dalam kehidupan. Karena itu, pengalaman belajar seperti kunjungan ke perpustakaan sangat penting untuk mereka,” ujar Mutiara.

Mutiara juga menilai pengenalan sejarah dan budaya lokal merupakan bagian penting dalam pendidikan. Setiap lembaga pendidikan, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk membantu siswa mengenal daerahnya sendiri agar mereka tidak kehilangan hubungan dengan identitas dan kebudayaan lokal. “Setiap lembaga pendidikan harus mengenalkan sejarah, kebudayaan, dan berbagai hal tentang daerahnya. Anak-anak perlu mengenal Garut bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga memahami perjalanan sejarah dan kekayaan budayanya,” tambah Mutiara.

Lebih jauh, Mutiara menegaskan bahwa pendidik juga harus terus belajar agar mampu menjadi sumber pengetahuan yang baik bagi siswa. Guru, menurutnya, perlu memiliki wawasan luas sehingga pembelajaran tidak berhenti pada materi yang terdapat dalam buku pelajaran. “Seorang pendidik harus mampu menjadi perpustakaan hidup bagi siswa. Guru harus terus membaca, belajar, dan menambah wawasan. Ketika guru memiliki pengetahuan yang luas, pembelajaran akan menjadi lebih hidup dan siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih bermakna,” tegasnya.

Hal tersebut juga dirasakan Lilis Siti Aisyah, S.Pd., guru kelas V yang turut mendampingi kegiatan. Lilis mengaku mendapatkan pengalaman baru selama berada di perpustakaan. Menurutnya, kelengkapan fasilitas dan sumber informasi yang tersedia memberikan kesempatan bagi guru dan siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan secara lebih luas. “Saya cukup terpesona dengan kelengkapan yang ada di perpustakaan. Kesempatan ini tentu tidak ingin saya sia-siakan. Bersama siswa, saya mencoba mengeksplorasi lebih jauh berbagai informasi tentang sejarah Garut agar pembelajaran tidak hanya berasal dari buku yang ada di kelas,” ungkap Lilis.

Sementara itu, Ai Nia Rahma, S.Pd., guru kelas IV yang turut mendampingi siswa, menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menumbuhkan sisi positif siswa dalam bidang literasi. Menurutnya, kemampuan membaca harus terus dikembangkan agar siswa memiliki bekal dalam menghadapi berbagai informasi dan persoalan di lingkungan sekitarnya. “Semua siswa harus menunjukkan sisi positif dalam hal literasi. Membaca dapat menjadi bekal untuk menjaga diri dari gelapnya kebodohan. Anak-anak juga perlu belajar membaca situasi dan kondisi agar tidak salah dalam melangkah maupun mengambil keputusan,” ujar Ai Nia.

Kegiatan tersebut akhirnya tidak hanya menjadi kunjungan biasa, tetapi menjadi ruang belajar bersama bagi siswa dan guru. Dari buku yang dibaca, tayangan yang disaksikan, hingga sejarah Garut yang dieksplorasi, siswa mendapatkan pengalaman bahwa literasi memiliki hubungan erat dengan kehidupan. MIS Ar-Raudhotun Nur berharap pengalaman tersebut dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap membaca sekaligus rasa bangga terhadap sejarah dan budaya Kabupaten Garut.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *