Oleh: A.J.A.G
Di tikungan malam yang sunyi,
sebuah film diputar di layar terang.
“S. Lane”, judulnya seperti bisikan,
menyelinap ke jiwa muda
yang belum sempat belajar membedakan
realitas dari fiksi yang meracuni.
Mereka berkata:
“Kalau belum menonton S. Lane,
kamu ketinggalan zaman.”
Tangan gemetar membuka aplikasi,
mata berselancar di ulasan dan spoiler—
bukan karena ingin,
melainkan takut menjadi yang terakhir tahu.
FOMO—takut tertinggal obrolan
di sekolah, di kantor, di media sosial.
Seolah nilai manusia diukur dari
apa yang ia tonton minggu lalu,
bukan dari apa yang ia pahami hari ini.
Film ini tak hanya bercerita,
ia membentuk persepsi.
Kekerasan dibungkus gaya,
pelecehan dibalut sinematografi.
Aku menonton—bukan sekadar menatap—
tetapi merenungi bagaimana adegan
membungkus kekerasan dalam estetika,
mewajarkan luka dalam bingkai sinematik.
Darah mengalir seperti puisi patah,
namun siapa yang membaca nilai moral di dalamnya?
Tanpa sempat bertanya:
“Apakah yang sebenarnya aku simpan dalam kepala?”
Kita terlalu sibuk mengejar cerita viral
hingga lupa memilah
mana yang sehat
dan mana yang hanya sensasi.
Ada anak yang meniru adegan—
bukan karena ingin,
melainkan karena film itu tampak “keren”.
Dan akhirnya,
budaya tontonan menjelma arena lomba kosong:
siapa cepat menonton,
siapa cepat mengunggah ulasan,
siapa cepat bercanda tentang trauma
yang bahkan tak mereka mengerti.
Mereka berkata, “Itu hanya film.”
Namun aku bertanya:
jika seni mampu membangun jiwa,
mengapa ia tak bisa pula merusaknya?
FOMO membuat kita lupa berpikir.
Kita serahkan akal pada algoritma,
rasa pada rating,
dan prinsip pada popularitas.
S. Lane bukan sekadar film.
Ia menjadi simbol zaman:
tentang bagaimana kita lebih takut
tak tahu cerita fiksi,
daripada tak tahu batas moral diri sendiri.
Sastra dan sinema pernah bersatu
untuk menyuarakan keadilan.
Namun kini, sebagian layar
menjadi cermin retak peradaban,
mencetak generasi
yang paham kekerasan
tetapi buta pada empati.
Aku tidak menolak film.
Aku menolak lupa
bahwa layar memiliki kuasa.
Dan kuasa yang tak diawasi
kerap menjelma luka
yang tak pernah sempat kita sadari asalnya.
Catatan:
Kritik film dan tren S-Line
https://ohmedia.my/ohtidak/trend-s-line-di-media-sosial-undang-kebimbangan-remaja-muslim-dinasihat-jangan-buat/


















