Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Santri

Jiwa yang Tersakiti, Lalu Bangkit!

×

Jiwa yang Tersakiti, Lalu Bangkit!

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Ali Alaq Musa Abdurrahman, Siswa Madrasah Aliyah (MA) Darul Huda Mlagen, Santri-Murid Planet Nufo Rembang

Waktu itu di pondok aku sedang menjemur baju. Namun sebelum benar-benar kering, bajuku sudah kotor semua. Aku tidak tahu siapa yang mengobrak-abriknya karena saat itu aku sedang makan di warung. Ketika di warung, temanku memberi tahu bahwa bajuku berantakan. Aku langsung kembali ke pondok.

Example 300x600

Sesampainya di sana, aku mengecek dan ternyata benar, semuanya sudah kotor. Akhirnya aku mencuci lagi sampai dua kali.

Di suatu malam, aku duduk sendirian di serambi mushola. Lampu kuning yang redup menggantung, dan angin membawa bau tanah basah. Air mataku jatuh satu per satu tanpa suara. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku kurang baik sampai setiap hari dibully?

Saat itulah seorang ustazah tua duduk di sampingku. Tidak ada pertanyaan, tidak ada nasihat panjang, hanya secangkir teh hangat. Sejak malam itu, aku mulai sadar bahwa aku terluka setiap hari. Aku mulai menulis segala hal yang tidak mampu aku ucapkan. Aku juga menceritakan semua masalahku kepada keluarga. Kakakku memberiku nasihat.

Namun selang beberapa hari, aku dibully lagi oleh gerombolan temanku yang bernama Ilham dan Abdul. Mereka menggangguku setiap hari. Saat aku tidak menelepon atau tidak ada sambangan, pasti aku diganggu. Sampai akhirnya aku bosan, malas sekolah, dan malas makan.

Suatu hari, guruku datang menemuiku. Lalu aku dipanggil ke sekolah. Di sana, guruku bertanya, “Ali, memang benar kamu dibully oleh teman sekamarmu sendiri?”

Aku menjawab dengan santai, “Iya, Bu.”

Kemudian guruku bertanya kepada Ilham dan Abdul, “Apakah benar kalian membully Ali?”

Mereka menjawab, “Iya, Bu.”

Akhirnya Ilham dan Abdul dihukum oleh ibu guru. Namun mereka belum kapok, sampai akhirnya kakakku ikut melapor.

Suatu hari saat aku ingin mencuci, aku dipanggil temanku untuk menemui kakakku. Setelah selesai menemui kakakku, aku melanjutkan mencuci bersama temanku. Setelah selesai, aku menenangkan diri dengan tidur di masjid sampai azan Asar tiba. Aku pun bangun untuk melaksanakan salat Asar.

Setelah azan Asar selesai dan aku menunaikan salat, hatiku terasa sedikit lebih tenang. Aku duduk kembali di sudut masjid, memandang lantai yang dingin, lalu menarik napas panjang. Aku sadar, mungkin masalah ini tidak akan langsung selesai. Namun setidaknya sekarang aku tidak sendirian.

Beberapa hari kemudian, keadaan mulai berubah sedikit demi sedikit. Guruku lebih sering memperhatikanku, dan kakakku juga terus memberi semangat. Ilham dan Abdul masih sesekali mengganggu, tetapi tidak separah sebelumnya. Aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkan mereka dan mulai fokus pada diriku sendiri.

Aku belajar bahwa tidak semua orang akan menyukaiku, dan tidak semua keadaan akan berjalan sesuai keinginanku. Namun aku juga belajar bahwa aku harus kuat untuk diriku sendiri. Aku tidak boleh menyerah hanya karena perkataan atau perlakuan orang lain.

Sejak saat itu, setiap kali merasa sedih, aku kembali ke mushola. Duduk di bawah lampu kuning yang redup, mengingat malam ketika ustazah hanya memberiku secangkir teh hangat tanpa banyak kata. Dari situ aku mengerti, kadang yang kita butuhkan bukanlah nasihat panjang, melainkan kehadiran dan ketenangan.

Aku mungkin pernah terluka, tetapi aku tidak akan membiarkan luka itu menghentikanku untuk terus berjalan.

Dan perlahan, aku belajar untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Tamat.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *