Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

No Buy Challenge

×

No Buy Challenge

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Haura Astila Rahma Khazim, Santri-Murid Kelas XI Pesantren-Sekolah Alam Planet Nufo Rembang

Tren “No Buy Challenge” ini sudah ada sejak penghujung tahun 2024 dan awal tahun 2026. Tren ini muncul dilatarbelakangi oleh berbagai faktor yang melibatkan banyak hal seperti sosial, psikologis, dan ekonomi. Tren ini dianggap sangat sesuai karena mencerminkan respons dari masyarakat terhadap isu isu ekonomi pada tahun 2026.

Example 300x600

Faktor ekonomi menjadi pendorong utama bagi masyarakat untuk menjadikan tren No Buy Challenge sebagai kebutuhan, bukan hanya sekedar untuk mengikuti tren terkini. Dengan banyaknya masyarakat terutama para generasi muda yang sadar akan pentingnya berinvestasi, menyiapkan dana darurat, dan sebagainya, tren No Buy Challenge menjadi alternatif yang cepat untuk memanage uang yang sebelumnya dikeluarkan untuk impulsive buying kepada pengeluaran untuk pembelian barang yang mutlak dibutuhkan. 

Tren No Buy Challenge ini, menjadi salah satu upaya untuk melawan budaya konsumerisme dan dopamin shopping. Sebagai contoh, di era digital ini, seseorang tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk belanja, dengan adanya aplikasi toko online di handphone yang mempercepat dan mempermudah pembelian, semua beres. Sebab kemudahan itulah, seringkali kita tergoda dan akhirnya kelepasan mengeluarkan banyak uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Mengikuti tren dan tidak mau ketinggalan punya ini dan itu menjadi alasannya.

No buy challenge memberikan banyak manfaat yang positif. Dengan memberikan boundaries pada setiap pengeluaran apalagi pada pembelian barang yang sifatnya konsumtif, maka seseorang akan lebih bisa memanagekeuangannya. Challenge ini juga dapat menjadi cara untuk menghilangkan atau memutus pembelanjaan yang pada dasarnya didorong oleh dopamine rush dari apa yang didapat. Challenge ini juga bisa membuat kita lebih mensyukuri, menghargai, dan menjaga apa yang sudah kita punya. Bahkan, challenge ini juga ternyata bisa mengurangi hasil emisi karbon dari setiap barang yang diproduksi.

Challenge no buy ini ternyata memiliki aturan pelaksanaan. Mulai dari aturan “kategori yang boleh dibeli” seperti, makanan dan minuman yang pastinya selalu kita butuhkan setiap harinya. Kebutuhan kesehatan seperti obat-obatan. Toiletries seperti, sabun, sampo, pasta gigi, pelembab, dan yang lainnya. Perlengkapan yang habis dan mutlak diperlukan. Ada pula  aturan “kategori yang dilarang dibeli” seperti, pakaian dan aksesoris yang dibeli hanya untuk memenuhi nafsu, mengikuti tren atau kalau sekarang biasa disebut FOMO. Produk kecantikan seperti, make up atau skincare yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan apalagi kalau motifnya itu “mengoleksi”. Dining Out terlalu sering, padahal tidak dalam keadaan yang darurat, misalnya ketika dalam urusan interaksi sosial wajib seperti organisasi. 

Semua yang ada di dunia ini pasti punya plus minus-nya. Begitu juga dengan tren ini. Selain memberikan manfaat positif, tren ini juga punya sisi negatif. Contohnya, tren ini bisa menimbulkan risiko kepada psikologis dan mental seseorang seperti timbulnya rasa tertekan dan frustasi.  Kebiasaan yang sebelumnya sudah melekat—seperti ketika masih bisa bebas memenuhi dopamine rush—untuk kemudian harus ditahan dapat menimbulkan tekanan mental dan ketika seseorang gagal mengatasinya, hal ini bisa menyebabkan timbulnya rasa bersalah atau frustasi yang malah membuat pengelolaan keuangan jadi terganggu.

Melihat contoh dampak negatif tadi, kita jadi bisa mempersiapkan beberapa hal agar tidak kaget saat mengikuti challenge tersebut. Seperti melakukan rules check. Gunanya adalah untuk memastikan aturan yang ada itu sudah pasti, jelas dan juga realistis untuk hidup kita. Apa saja rules check itu? Pertama, menentukan durasi. Kita harus memastikan bahwa tanggal mulai dan berakhirnya sudah dipastikan dengan mempertimbangkan banyak hal. Kedua, membuat daftar boleh dibeli (butuh) dengan cara menanyakan kepada diri sendiri dengan tegas, “apakah ini benar-benar penting dan saya butuhkan?”. Kemudian, kita juga harus menyiapkan dana untuk hal-hal yang diluar dugaan contohnya, ketika tiba-tiba jatuh sakit dan harus membeli obat-obatan. Dan, masih banyak lagi persiapan-persiapan sebelum memulai challenge untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Nah, bagi kalian yang masih susah untuk mengatasi pemborosan, challenge ini sangat disarankan untuk dicoba. Sendiri, bersama teman, keluarga, sahabat, siapapun itu. Jangan lupa, sebelum melaksanakan challenge sangat diperlukan untuk melakukan persiapan, baik pada aturan-aturannya, fisik, dan juga mental.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *