Oleh: Farih Syahirul Alam, Pengurus PD PII Rembang, Santri-Murid Planet Nufo Rembang
Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi, arus globalisasi, serta perubahan pola pikir masyarakat terhadap pembelajaran membawa dampak besar bagi generasi muda. Di satu sisi, kemajuan tersebut membuka banyak peluang, namun di sisi lain juga melahirkan berbagai tantangan, seperti menurunnya semangat juang dan meningkatnya sikap individualisme. Dinamika masyarakat yang serba cepat dan instan ini berpotensi membentuk pribadi yang mudah menyerah, kurang tangguh, serta minim komitmen terhadap nilai-nilai perjuangan.
Kondisi tersebut menuntut adanya wadah yang mampu membina, mengarahkan, dan memperkuat karakter individu agar tidak terbawa arus negatif perubahan zaman. Dalam konteks inilah organisasi hadir sebagai jawaban atas permasalahan tersebut. Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, organisasi memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam membentuk karakter generasi muda. Organisasi tidak hanya menjadi tempat berkumpul dengan tujuan yang sama, tetapi juga berfungsi sebagai wadah pembinaan sikap, mental, kemampuan berpikir kritis, serta pembentukan kepribadian yang baik.
Salah satu karakter yang terbentuk melalui proses pembelajaran dalam organisasi adalah militansi. Militansi tidak dimaknai sebagai sikap keras tanpa arah, melainkan sebagai semangat juang yang tinggi, memiliki pendirian, loyalitas, disiplin, serta konsisten dalam memperjuangkan nilai dan tujuan bersama. Sikap ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Di Indonesia terdapat banyak organisasi dengan metode pembelajaran yang berkualitas, salah satunya adalah Pelajar Islam Indonesia (PII).
Organisasi PII menjadi wadah penanaman nilai-nilai tersebut karena di dalamnya berlangsung proses pendidikan nonformal yang kontinu. Melalui berbagai aktivitas seperti diskusi, pelatihan kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat, anggota organisasi secara tidak langsung dilatih untuk bersikap bertanggung jawab serta konsisten dalam menjalankan amanah. Pembentukan karakter militansi di dalam organisasi PII tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses yang panjang dan berkelanjutan.
Pertama, melalui proses disiplin. Setiap anggota PII dituntut untuk mematuhi aturan, menghargai waktu, dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Disiplin yang dilakukan secara konsisten akan menumbuhkan mental yang tangguh serta rasa tanggung jawab yang tinggi.
Kedua, melalui dinamika perjuangan dan tantangan. Dalam organisasi, anggota sering dihadapkan pada berbagai dinamika, mulai dari konflik internal, keterbatasan sumber daya, hingga tekanan eksternal. Justru situasi inilah yang membentuk mental tahan banting, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kemampuan bertahan dalam kondisi sulit. Di sinilah militansi seseorang diuji sekaligus ditempa.
Ketiga, melalui internalisasi nilai dan ideologi organisasi. PII memiliki nilai dasar yang menjadi tumpuan arah gerak perjuangannya, yaitu falsafah gerak PII yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. PII memiliki cita-cita “kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia.” Ketika nilai-nilai tersebut dipahami, diyakini, dan diamalkan secara konsisten, maka akan lahir militansi yang berlandaskan kesadaran, bukan paksaan. Militansi ini menjadi kokoh karena bersumber dari keyakinan pribadi.
Organisasi PII juga berperan sebagai sekolah kepemimpinan yang efektif. Dalam proses berorganisasi, anggota belajar memimpin sekaligus dipimpin. Dari proses ini tumbuh keberanian, ketegasan, serta kemampuan mengambil keputusan dalam situasi sulit. Pemimpin yang lahir dari proses organisasi yang sehat umumnya memiliki karakter militan: tidak mudah goyah, bertanggung jawab, serta mengutamakan kepentingan kolektif di atas kepentingan pribadi.
Lebih dari itu, militansi yang terbentuk dalam organisasi tidak hanya bermanfaat bagi organisasi itu sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas. Individu yang memiliki karakter militan cenderung mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, semangat mengabdi, serta komitmen untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
Di era globalisasi yang serba instan dan individualistis, karakter militansi menjadi semakin penting. Generasi muda dihadapkan pada kemudahan, kenyamanan, serta kecenderungan berpikir praktis. Tanpa militansi, seseorang mudah kehilangan pendirian, semangat juang cepat melemah, komitmen mudah goyah, dan idealisme perlahan memudar. Oleh karena itu, organisasi hadir sebagai benteng yang menjaga nilai perjuangan, kedisiplinan, dan keteguhan prinsip agar tidak hanyut dalam arus perubahan negatif.
Dari sini dapat dipahami bahwa peran organisasi sangat strategis dalam membentuk karakter militansi, khususnya di tengah dinamika masyarakat yang terus berubah. Tantangan seperti individualisme, krisis keteladanan, serta melemahnya semangat juang generasi muda menuntut hadirnya wadah pembinaan yang mampu membentuk pribadi yang tangguh, disiplin, dan berkomitmen. Organisasi menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya mengasah kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk mental dan karakter. Melalui disiplin, dinamika organisasi, internalisasi nilai dan ideologi, serta pembinaan kepemimpinan, militansi tumbuh sebagai kesadaran kolektif yang dilandasi tanggung jawab dan loyalitas terhadap tujuan bersama. Militansi yang terbentuk bukanlah sikap keras tanpa arah, melainkan semangat juang yang positif, konstruktif, dan bermoral.
Dengan demikian, keberadaan organisasi perlu terus dijaga dan diperkuat perannya dalam kehidupan sosial. Organisasi tidak hanya mencetak individu yang aktif dan kritis, tetapi juga melahirkan generasi yang berkarakter militan, berintegritas, serta siap berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Inilah esensi penting organisasi sebagai wadah pembentuk karakter militansi generasi muda.














