Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Fiksi Mini

Rengganis dan Tabel Prioritas

×

Rengganis dan Tabel Prioritas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Husna Kamila Anwar, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Kota Semarang

Langit bersemu kemerahan, dihiasi kawanan burung yang melintas perlahan. Indah sekali, bagaikan lukisan yang dilukis para dewi. Di saat yang sama, seorang gadis tampak duduk termenung di tepi sungai, menatap alirannya yang tenang. Dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Example 300x600

“Huh, begini saja terus sampai aku mabuk,” gumamnya pelan.

Gadis itu bernama Rengganis. Seorang pelajar yang tengah dimabuk kesibukan. Menurutnya, kegiatan sedang marak-maraknya, hingga ia nyaris tak memiliki waktu untuk hal lain. Salah satunya adalah menepati janji kepada sang manajer—dan sepertinya, manajernya akan menagih tulisan itu sebentar lagi. Sebenarnya, Rengganis bisa saja bernegosiasi, tetapi ia terlalu malas melakukannya. Lagi pula, ia memang tidak pandai bernegosiasi.

Belum lagi kegiatan organisasi yang menanti, serta ulangan akhir semester yang akan segera dimulai.

“Nis, kamu ngapain?” tanya Bagaskara.

“Ngegalau. Jangan ganggu, Bang.”

Bagaskara adalah kakak sekaligus manajer bagi Rengganis.

“Heh, jangan keseringan galau kalau nggak menghasilkan karya. Ingat, kamu masih punya janji denganku. Kalau nggak salah, sebentar lagi juga ada ulangan. At least, kalau nggak bikin karya, ya belajar. Kasihan Ibu sudah nyekolahin kamu mahal-mahal.”

“Iya, aku bakal belajar kok. Dan bakal menghasilkan karya.”

Huh, abang banyak omong, batin Rengganis. Padahal biasanya dia juga yang keteteran.

“Heh, jangan menggunjing manajermu dalam hati. Nanti lukisanmu nggak laku, loh.”

“Mana ada yang kayak gitu.”

“Ada. Makanya, sana gerak. Jangan ngegalau mulu. Melukis kek, belajar kek.”

Bagaskara menarik tangan Rengganis, mengajaknya pulang.

Setelah perdebatan panjang, Rengganis akhirnya setuju untuk pulang dan mulai belajar sekaligus menyelesaikan proposal kegiatan karena ia menjabat sebagai sekretaris acara. Setibanya di rumah, ia langsung masuk kamar selama tiga puluh menit, lalu keluar untuk mandi dan bersiap makan malam.

Mereka makan malam bersama setelah salat Magrib.

“Gimana, Kak? Sudah belajar buat ujian akhir semester?” tanya Ibu.

“Sudah, tapi belum semua.”

“Kalau lukisan, sudah ada progres?” tanya Ayah.

Sebelum Rengganis menjawab, Bagaskara mendahuluinya. “Belum jadi, Yah.”

Entah mengapa, hati Rengganis terasa teriris. Perih. Bagaskara memang selalu blak-blakan, tetapi sebenarnya sangat peduli.

“Maaf, semuanya. Rengganis izin mengundurkan diri,” katanya lirih, lalu masuk ke kamar dan menguncinya.

Meja makan lengang sejenak.

Ayah menghela napas. “Ayo kita lanjutkan makan malam.”

“Tapi Rengganis bagaimana, Yah?”

“Mungkin dia butuh waktu sendiri, Bu.”

Makan malam itu pun dilanjutkan tanpa banyak bicara. Seusai makan, Ibu menyuruh Bagaskara mengantarkan makanan ke kamar Rengganis.

Tok, tok.

“Masuk. Nggak Rengganis kunci kok.”

“Maaf, dek—”

“Ngapain minta maaf? Abang nggak salah.”

“Oke. Oh iya, gimana progresnya?”

“Baik. Temanya sudah ketemu, tapi konsep dan gaya lukisnya belum.”

Rengganis benar-benar lelah. Kegiatan sekolah, organisasi, dan tuntutan berkarya bercampur jadi satu. Ia tahu akar masalahnya adalah prioritas. Namun, ia belum cukup paham bagaimana menentukannya. Menurutnya, semua itu penting dan harus seimbang. Jadwalnya pun menjadi berantakan.

“Jadi apa masalahmu?” tanya Bagaskara lembut. “Kalau ada masalah, bilang. Aku abangmu. Keluarga pasti bantu.”

Rengganis menarik napas. “Janji ya, bakal bantuin.”

“Ceritakan dulu. Aku pendengar yang baik.”

“Masalahku tentang memprioritaskan kegiatan.”

Bagaskara terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Dek, Abang sangat bisa membantu. Tugas manajer itu memanajemen. Jadi, apa saja kegiatan yang memusingkanmu?”

“Ujian, lukisan, dan organisasi.”

“Hanya itu? Kapan tenggatnya?”

“Organisasi satu hari lagi. Yang lain Abang tahu.”

Bagaskara mengangguk. “Ambil alat tulismu.”

“Buat apa?”

“Lakukan saja.”

Rengganis menuruti. Bagaskara menyuruhnya membuat tabel prioritas dan mengisinya sendiri. Bagaskara hanya mengamati, tanpa ikut campur.

Setelah selesai, Bagaskara mengambil kertas itu.

“Dasar nggak sopan.”

“Maaf, aku cuma mau lihat.”

“Gimana, bagus?”

“Bagus. Sekarang, selesaikan proposalmu dulu.”

Rengganis tersenyum. Ia bersyukur memiliki abang sekaligus manajer seperti Bagaskara, yang selalu membantunya keluar dari kebingungan.

Mata Rengganis kembali menatap tabel prioritasnya. Ia membuka laptop dan mulai mengerjakan proposal dengan semangat baru.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fiksi Mini

Oleh: Abyan Altaaf Ibrahim, Santri-Murid SMP Alam Nurul…