Oleh: Gunawan Trihantoro
Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah dan Ketua Satupena Kabupaten Blora
Beberapa bulan lalu, saya menulis tentang sebuah nasihat sederhana dari KH. Syamsul Huda: “Seng sabar.” Dua kata yang saya bawa pulang dari sebuah pertemuan, lalu saya renungkan dalam perjalanan kehidupan. (PikiranBangsa.co)
Pagi ini, saya kembali mendapatkan pesan dari beliau. Bukan pesan panjang, bukan pula nasihat yang berbelit. Hanya beberapa kalimat sederhana, tetapi kembali membuat hati saya tersentuh.
“Setelah kemarin sing sabar, sak mangke sing syukur, Mas.”
Setelah kemarin bersabar, sekarang bersyukurlah.
Saya terdiam membaca pesan itu. Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Bukan semata karena mendapat pesan dari seorang kiai, tetapi karena nasihat itu terasa begitu tepat dengan perjalanan hidup yang sedang saya jalani.
Saya kemudian berpikir, mungkin memang demikian cara seorang guru memberikan pelajaran. Tidak selalu melalui majelis panjang, buku tebal, atau ceramah berjam-jam.
Kadang, sebuah kalimat pendek justru menjadi bahan perenungan yang panjang.
Seng sabar. Kemudian seng syukur.
Dua nasihat sederhana yang sesungguhnya menggambarkan dua sikap penting manusia dalam menjalani kehidupan.
Sabar diperlukan ketika apa yang kita harapkan belum terjadi. Syukur diperlukan ketika sesuatu yang kita harapkan telah hadir, bahkan ketika yang hadir ternyata jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan.
Sabar menjaga kita agar tidak mudah menyerah. Syukur menjaga kita agar tidak mudah lupa.
Manusia sering kali pandai bersabar ketika sedang diuji, tetapi lupa bersyukur ketika mendapatkan nikmat.
Sebaliknya, ketika memperoleh keberhasilan, manusia terkadang merasa semua itu semata-mata hasil kerja kerasnya sendiri. Ia lupa bahwa ada doa, pertolongan, kesempatan, kesehatan, keluarga, guru, sahabat, dan begitu banyak tangan yang ikut mengantarkannya.
Karena itu, syukur sesungguhnya bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah.
Syukur adalah kesadaran bahwa apa yang kita miliki tidak sepenuhnya lahir dari kekuatan diri sendiri.
Ada kehendak Allah yang bekerja di balik setiap perjalanan manusia.
Ada hal-hal yang tidak mampu kita kendalikan, tetapi justru menjadi bagian penting dari jalan kehidupan kita.
Syukur juga bukan berarti berhenti berusaha.
Justru orang yang bersyukur seharusnya semakin bertanggung jawab terhadap nikmat yang diterimanya. Kesehatan digunakan untuk kebaikan. Ilmu digunakan untuk memberi manfaat. Waktu digunakan untuk hal-hal yang bernilai.
Dengan demikian, syukur memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar perasaan bahagia.
Syukur adalah cara manusia mengubah nikmat menjadi manfaat.
Saya kembali teringat pesan KH. Syamsul Huda pagi ini. Setelah mengatakan “seng syukur”, beliau juga menyampaikan bahwa pertemuan sebelumnya menjadi sesuatu yang baik dan dapat menjadi motivasi bagi para santri.
Kalimat itu kembali membuat saya merenung.
Ternyata sebuah pertemuan tidak selalu harus menghasilkan sesuatu yang besar untuk disebut berarti.
Kadang, percakapan sederhana dengan seorang guru dapat meninggalkan energi kebaikan yang panjang. Ia mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi pesannya bisa menemani seseorang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Di situlah saya memahami bahwa keberkahan tidak selalu hadir dalam bentuk materi.
Bisa berupa pertemuan. Bisa berupa nasihat. Bisa berupa kesehatan. Bisa berupa keluarga yang masih lengkap. Bisa berupa kesempatan untuk belajar dan terus memperbaiki diri.
Dan pagi ini, saya memilih untuk melihat semuanya sebagai alasan untuk bersyukur.
Barangkali selama ini kita terlalu sering menghitung apa yang belum dimiliki, sampai lupa menghitung begitu banyak hal yang sudah diberikan Tuhan.
Kita sibuk mengejar sesuatu yang belum sampai, sementara di belakang kita ada begitu banyak nikmat yang sebenarnya sudah lebih dahulu menemani perjalanan.
Karena itu, seng syukur bukan sekadar ajakan untuk menerima keadaan.
Ia adalah ajakan untuk mengubah cara pandang.
Bahwa hidup tidak hanya tentang apa yang belum kita dapatkan, tetapi juga tentang bagaimana menghargai apa yang sudah dipercayakan kepada kita.
Sabar mengajarkan kita bertahan ketika keadaan belum sesuai harapan.
Syukur mengajarkan kita menghargai keadaan ketika sebagian harapan itu mulai terwujud.
Keduanya seperti dua sisi yang saling melengkapi.
Sabar membuat manusia tidak mudah patah. Syukur membuat manusia tidak mudah sombong.
Sabar membuat kita kuat menghadapi kekurangan. Syukur membuat kita tetap rendah hati ketika memperoleh kelebihan.
Mungkin inilah salah satu rahasia ketenangan hidup.
Bukan karena semua persoalan telah selesai, melainkan karena hati memiliki kemampuan untuk menerima setiap keadaan dengan sikap yang tepat.
Ketika diuji, seng sabar.
Ketika diberi, seng syukur.
Dan ketika keduanya berjalan bersama, manusia belajar menjadi pribadi yang lebih matang dalam menjalani kehidupan.
Pagi ini saya merasa bahagia bukan karena tiba-tiba semua persoalan kehidupan selesai.
Saya bahagia karena kembali diingatkan oleh seorang guru bahwa setelah perjalanan panjang dengan kesabaran, ada satu sikap yang tidak boleh dilupakan: bersyukur.
Maka, jika dahulu saya membawa pulang pesan “seng sabar”, hari ini saya ingin membawa pulang pesan berikutnya: “seng syukur.”
Sebab boleh jadi, setelah kita belajar bersabar terhadap apa yang belum kita miliki, Tuhan sedang mengajarkan kita untuk mensyukuri apa yang selama ini ternyata sudah ada di hadapan kita.
Terima kasih, Pak Kyai.
Dawuh sederhana itu kembali menjadi pelajaran yang panjang.
Dan pagi ini, saya ingin belajar mengucapkan bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati:
Alhamdulillah. Seng syukur.


















