Oleh: Rahmat Setiawan, Ketua Bidang PTKP Koordinator Komisariat Walisongo Semarang
“Ketika saya berani salat, konsekuensinya saya harus berani memihak yang miskin dan mengambil pilihan hidup yang sulit untuk memeriahkan perintah-perintah itu, seperti membela korban. Tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak berpihak kepada yang tertindas.” ~Munir Said Thalib (Kader HMI)
Di sela padatnya rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Walisongo Semarang 2022, sejumlah bendera Organisasi Mahasiswa ekstra (Ormek) berkibar bendera Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Islam Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) saling berkibar di depan kampus 2 dan kampus 3 di UIN Walisongo Semarang. Namun, dari banyaknya bendera tersebut aku memilih untuk berhimpun di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Sebagai mahasiswa baru, pastilah menjadi bingung dengan ajakan para Kaka Tingkat (Kating) untuk ikut organisasi yang ia ingin ikuti. Berdasakan data empiris penulis, para maba yang masih dikatakan baru seperti orang yang ingin menyebrang tapi tidak ada orang yang mengarahkan. Cara-cara penarikan kader sangat bermacam-macam, ada yang dichat secara intens, ada yang mendadak dimasukan group, ada pula yang bagi-bagi susu dan notebook kepada maba tapi pas sampai dalam malah disita oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Spiritual NU, Intelektual HMI
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi masyrakat (Ormas) Islam terbesar di Indonesia yang berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya. Pendiri NU ada beberapa ulama terkemuka, yakni KH Hasyim Asy’ari (Tebuireng Jombang), KH Abdul Wahab Hasbullah (Tambakberas Jombang), dan KH Bisri Sansuri (Denanyar Jombang). Di tambah latar belakang keluarga saya berasal dari NU yang sangat ke-NU an sekali.
Berangkat dari backround keluarga NU, ditambah pengalaman pondok yang sangat NU membentuk spiritual saya dengan sendirinya. Namun, pertama kali saya melangkahkan kaki ke kampus UIN Walisongo, diri saya tidak langsung memilih PMII yang backroundnya jelas NU. Tetapi saya memberanikan diri untuk melangkahkan diri untuk mengambil sebuah keputusan: untuk berproses di HMI.
Waktu masih menjadi maba UIN 2022, saya mencoba mengulik dari masing-masing organisasi ekstra yang saya temui di kampus UIN Walisongo. PMII yang bergerak dengan nilai Aswajanya (NU), IMM dengan nilai Muhammadiyahnya, dan HMI yang masih saya pertanyakan pada saat itu. Kenapa? Karena HMI menurut saya pada waktu maba ia adalah organisasi yang tidak ke-NU an namun juga tidak ke-MU an.
“Lantas di manakah letak purnanya berproses kader HMI selepas ia lulus dari bangku perkuliahan?,” ucap saya.
Sedikit demi sedikit, waktu maba saya mencoba membuka diri, sampai-sampai saya memutuskan untuk mengambil langkah berproses di HmI dengan tradisi keintelektual dan berspritual NU dengan tradisi ibadahnya. Besar di keluarga NU yang kesehariannya mengaji di majlis talim, tahlilan, sowan kyai, dan alim ulama itu semua merupakan makanan keseharian saya. NU memberikan nilai kehidupan: ketundukan pada guru, cinta tanah air, dan berdzikir sebagai media pelipur luka.
Berserikat Tanpa Sekat, Itulah HmI
Menurut saya, tidak ada masalah kita berserikat atau berhimpun di organisasi ekstra mana saja. Karena saya yakin semua organisasi diciptakan oleh pendirinya dengan tujuan yang mulia. Namun, yang mungkin dipertanyakan oleh maba yang masih kebingungan tentang arah yakni “Bagaimana cara organisasi itu merayu maba dengan cara elegan atau malah arogan”.
Waktu maba saya cuma berpikir, jika saya berorganisasi saya ingin organisasi itu menghargai potensi dalam diri saya. Karena di UIN Walisongo Semarang, saya butuh ruang berpikir tentang keintelektualan dan sudut pandang saat diskusi tentang Islam dan Indonesia. Terlebih kampus UIN Walisongo Semarang terkenal sebagai kampus Kemanusiaan dan Peradaban. Dan itu semua saya temukan di HMI.
Berhimpun di HMI tidak membuat saya lupa dengan spiritual NU, menjalankan yang wajib dan meninggalkan yang dilarang olehNya. HMI menjadi jalan saya berproses selama kuliah di tengah derasnya perubahan dunia luar. Keduanya tak saling bertolak belakang melainkan sebuah sinergisitas tanpa sekat yang saling melengkapi satu sama lain: tradisi dan keintelektualnya.
Berserikat tanpa sekat di HMI menjadi ciri khas antara junior dan senior yang berbeda angkatan. Di HMI saya saling bertukar pikiran dengan abang-abang selama saya berproses. Bahkan tak segan barang senior seperti asap kehidupan, kader HMI mencomot satu persatu untuk dibakar. Tidak ada yang tua maupun muda, muda menengadah tua mengolah. Mengolah daya pikir muda untuk menjadi kader ummat dan kader bangsa.
Sebagai mahasiswa Islam, tidak sepatutnya mempersempit makna Islam dengan sekat organisasi. Karena sebuah taman yang indah dan tumbuh bunga yang beragam adalah sebuah tempat bertumbuh, jangan pernah sesekali menjadikan perbedaan sebagai ajang alasan untuk saling menjauh satu sama lain. Mahasiswa Islam adalah mahasiswa yang tercipta dengan nalar kritis dan terbuka. Karena sebuah upaya untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan cara yang damai dan inklusif.
NU Sebagai Akar, HMI Sebagai Cabang
Mengambil sebuah langkah untuk berproses di HMI bukan menjadi alasan untuk meninggalkan akarku untuk bertumbuh. Bahkan HMI datang, bukan untuk merusak akarku melainkan untuk menumbuhkan cabangku yang masih membutuhkan tempat untuk bertumbuh. Sebuah tradisi yang tanpa diuji bisa sewaktu-waktu beku. Dengan nalar tanpa akar yang kuat bisa hanyut terbawa arus yang kuat.
NU bukan anti nalar, ia mengajarkan saya apa arti ta’dzim, adab, dan berpikir secara terbuka. Bukan berpikir yang ikut membuta tetapi berpijak dalam kebijaksanaan. Bukan berpikir secara bebas melainkan berpijak pada asas yang bertanggung jawab. Jika ada orang yang bilang bahwa NU itu taqlid dan HMI itu rasional, bisa dipastikan mereka salah membaca dengan logika yang struktur. Menjadi seseorang yang diam dan takut dicap nyasar serta takut tidak diakui sebagai kader sejati adalah bukan jalan saya. Lagian sejak kapan tempat berproses untuk mencari ilmu dan kebenaran dibatasi oleh warna bendera organisasi?
Era pluralisme yang menghantam isu radikalisme yang menjamah di lingkungan mahasiswa, HMI menunjukkan diri untuk bersikap secara terbuka dengan tradisi intelektualnya, sehingga menjembatani perbedaan dan membangun kesatuan. Melalui berbagai program dan kegiatan, HMI terus berupaya untuk membentuk kader yang paham tentang toleransi dan kerukunan di masyarakat yang plural.
Berdasarkan data empiris tersebut, menjadi penting sebagai kader HMI yang sedang berproses di seluruh penjuru negeri untuk saling ikut serta dan bertransformasi menjadi kader-kader yang cerdas sebagai seorang intelektual, taat sebagai seorang pencipta, dan ikhlas sebagai pengabdi. Bersama NU sebagai akar serta HMI sebagai cabang untuk berproses akan semakin bahagia untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang adil dan makmur yang diridhoi allah Swt.


















