Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
CerpenSastra

The Third Person?

×

The Third Person?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP Alam Nurul Furqon Rembang

Seorang gadis berjalan menyusuri lorong yang cukup ramai. Saat melewati sebuah kelas, ia menoleh dan berhenti seketika. Gadis itu tengah mencari seseorang. Calista mendengus pelan; orang yang ia cari ternyata tidak ada di dalam kelas tersebut.

Example 300x600

​Calista pun pergi meninggalkan kelas itu. Saat ia hampir memasuki kelasnya sendiri, seseorang berteriak sambil berlari menghampirinya.

​“CALISTAAA!”

​Calista menoleh ke arah sumber suara. Ia mendapati seseorang tengah berlari kearahnya.

​“Apa, sih? Enggak usah teriak-teriak, deh,” ucap Calista sembari memegangi telinganya yang sakit akibat teriakan sahabatnya itu. Gadis yang kini berjalan memasuki kelas bersama Calista hanya tersenyum mendengar ucapan tersebut.

​Bel masuk berbunyi, dan jam pelajaran pertama pun dimulai.

​“Eh, Sel,” panggil Calista kepada Seline yang sedang mencatat materi dari Bu Tika. Seline hanya berdehem pelan, tetap fokus pada papan tulis di depan.

​“Sel, lu enggak tahu Kenan ke mana?” tanya Calista sesekali melanjutkan catatannya. Seline menoleh sejenak ke arah Calista sebelum kembali fokus ke depan.

​“Enggak, lah,” jawabnya singkat.

​Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Mereka berdua segera keluar menuju kantin karena sudah merasa lapar dan haus.

​“Eh, Calista, Seline!” panggil salah satu teman mereka. Keduanya menoleh ke belakang, ke arah Via yang tengah berjalan menghampiri.

​“Kenapa, Vi?” tanya Calista setelah Via mendekat.

​“Boleh gabung, enggak?” tanyanya. Calista dan Seline saling tatap, lalu mengangguk.

​Mereka bertiga pun ke kantin bersama. Di sela-sela makan, Via memecah keheningan dengan bertanya kepada Calista. “Eh Cal, kamu masih suka Kenan?”

​Calista agak terkejut. Ia tahu Via adalah masa lalu Kenan, namun sekarang Kenan sudah mendekati Calista, dan Calista pun menyukainya.

​“Kenapa, emang? Tiba-tiba banget nanya kayak gitu?” tanya Calista.

​“Cal, lu jangan suka sama dia lagi, ya?” ucap Via sembari memegang lengan Calista. Calista hanya mengernyit heran.

​“Lah, ngapain lu larang Calista? Terserah dia, dong, mau suka sama siapa. Jangan bilang lo cemburu, ya?” timpal Seline sembari mengaduk es matcha-nya.

​“Enggak gitu, Sel. Asal kamu tahu, dia itu bajingan, brengsek, Cal,” ucap Via menepis ucapan Seline.

​Calista sontak terkejut. Apa yang telah Kenan lakukan kepada Via sampai-sampai Via menjelek-jelekkannya seperti itu?

​“Vi, emang apa yang dilakukan Kenan ke kamu sampai kamu sebenci itu?” tanya Calista penasaran.

​“Bukan bermaksud enggak mau kasih tahu, tapi cukup aku saja yang terluka.”

​Bel pulang telah berbunyi. Kini Calista dan Seline berjalan bersama menyusuri koridor. Calista masih terbayang ucapan Via tadi.

​“Aku tuh kesal sama Via. Kenapa, coba, dia melarang kamu? Padahal Kenan kayaknya serius. Lo sih, Kenannya sudah confess, tapi kamunya masih gengsi melulu,” ucap Seline, menyadarkan Calista dari lamunannya.

​“Sudah, ih. Mungkin benar dia mengingatkan supaya aku enggak berakhir kayak dia. Tapi iya juga, ya, dia diapain sampai kayak gitu?”

​“Iya, itu yang bikin penasaran,” sahut Seline.

​Saat sampai di depan gerbang sekolah, Calista melihat sebuah mobil yang tidak asing. Ia merasa pernah melihatnya, tapi di mana?

​“Sel, coba lihat itu. Mobilnya kayak enggak asing, deh,” ujar Calista menunjuk sebuah mobil berwarna hitam. Tiba-tiba, seseorang keluar dari dalam mobil. Seline yang mengenali sosok itu langsung berlari sekuat tenaga menghampirinya.

​“Hei, jangan lari-lari, dong, Sayang,” ucap Kenzo sembari mengelus puncak rambut Seline. Seline tersenyum manis kepada kekasihnya itu. Calista pun menghampiri mereka.

​“Oalah, ternyata itu kamu, Zo. Pantas kayak enggak asing sama mobilnya,” ucap Calista singkat.

​“Hahaha, tumben sudah pulang? Kok cepat?” tanya Kenzo sembari melihat jam tangan di tangan kanannya. Seline dan Calista hanya mengangguk. Akhirnya, mereka bertiga pulang diantar oleh Kenzo.

​Sesampainya di rumah, Calista menghampiri bundanya yang tengah duduk di taman belakang. Wanita itu menoleh saat menyadari kehadiran putrinya.

​“Hai, Sayang,” sapa sang bunda.

​Calista menjawab dengan senyuman khasnya, lalu masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Kini ia mengenakan dress biru muda bermotif bunga kecil. Setelah berganti baju, ia merebahkan diri di ranjang, melamun mengingat ucapan Via.

​Tiba-tiba, sebuah notifikasi ponsel membuyarkan lamunannya. Ia segera meraih ponselnya dan tersenyum melihat pesan dari orang yang ia cari-cari seharian ini.

​Calista langsung keluar kamar dan berlari menuruni anak tangga. Saat membuka pintu rumah, berdirilah seorang laki-laki berkaos biru dan celana putih. Seketika Calista mengernyit kesal karena laki-laki di hadapannya ini tidak masuk sekolah dan menghilang tanpa kabar.

​Kenan menarik pergelangan tangan Calista dan mengajaknya masuk ke mobil yang terparkir di depan rumah.

​“Kenapa menatapnya gitu?” tanya laki-laki itu sembari membukakan pintu untuk Calista. Di dalam mobil, Calista hanya diam dan memainkan ponselnya.

​“Cal, kenapa? Ngomong, gih, jangan begini,” ucap Kenan sembari mengacak rambut Calista.

​“Tahu, tuh. Enggak bilang kalau enggak bakal masuk sekolah,” ucapnya ketus.

​“Jadi marah, nih? Tadi aku menemani Bunda arisan, jadi enggak bisa jemput kamu,” jelas Kenan.

​Calista masih berpura-pura tidak peduli, sibuk dengan ponselnya.

​“Ya sudah kalau enggak mau. Padahal tadi mau beli es krim sama main ke pantai, loh,” ujar Kenan. Mendengar itu, Calista menoleh dan tersenyum lebar.

​“Mauuu!” ujarnya semangat.

​Mereka pun pergi ke pantai bersama, menikmati siang yang indah dengan es krim di tangan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…

Puisi

Oleh: Seleno Juno ​Di antara mata teduh itu,…

Cerpen

Oleh: Rabbani Mrwa Aqsho Majida, Santri-Murid Kelas XI Pesantren-Sekolah…

Puisi

Oleh; Yanuar Abdillah Setiadi, Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan…

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…