Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
PuisiSastra

Pilihan yang Tak Berubah

×

Pilihan yang Tak Berubah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Muhammad Wildan Maulana, Mahasiswa S2 Manajemen Universitas Semarang

Di senyap malam yang penuh bisikan
Ada nama yang selalu kudendangkan.
Namamu, perempuan dalam setiap doaku
Yang tak pernah tahu cintaku menyelimutimu.

Example 300x600

Aku berdiri di balik bayangmu,
Menjaga dari jauh, mencintai tanpa suara.
Kau berjalan dengan dunia yang kau tahu
Sementara aku tetap terpaut pada harap yang tak bermuara.

Mereka datang, membawa senyuman manis
Merangkai kata untuk menggoda hati ini.
Namun aku, lelaki yang tak berpaling
Tetap memilih satu nama di tengah badai yang menggiring.

“Mengapa kau tak berpaling?” mereka bertanya
Karena cinta ini bukan permainan rasa.
Aku memilihmu, bukan karena mudah
Tapi karena hatiku tahu, kau adalah rumah

Meski kau tak pernah tahu apa yang kurasa
Dan aku tak pernah punya keberanian berkata
Aku memilih mencintaimu dalam diam.

Jadi biarlah waktu yang menjadi saksi
Akan cinta yang tak pernah mati.
Meski dunia menggoda dengan seribu wajah.
Hatiku tetap pada satu arah: hanya kau, tanpa berubah.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Cerpen

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP…