Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

Untukmu, Pahlawan Tanpa Lencana

×

Untukmu, Pahlawan Tanpa Lencana

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Syukur Abdillah

Di fajar yang masih menguap sepi,
Langkahmu berat namun pasti,
Mengejar kereta pagi,
Jakarta memanggil, Cirebon merindu sunyi.

Example 300x600

Seminggu sekali, kau pulang,
Membawa lelah yang tak pernah kau ceritakan,
Kantong matamu saksi bisu,
Bahwa cinta tak selalu tentang kata rindu.

Rel-rel panjang adalah teman setiamu,
Membelah jarak demi sesuap asa,
Di balik kaca jendela yang berembun,
Kau titipkan harapan untuk keluarga di rumah.

Anak-anak menanti, istrimu berdoa,
Agar angin malam tak terlalu dingin di bahumu,
Kau tersenyum, walau hatimu tahu,
Perjalanan ini adalah perjuangan tanpa henti.

Bapak,
Engkau bukan hanya tulang punggung rumah,
Kau adalah langit yang melindungi,
Dan tanah tempat kami berpijak.

Semoga kereta yang membawamu pergi,
Selalu mengantarkanmu kembali,
Karena rumah ini,
Tak pernah lengkap tanpa hadirmu di sini.

Barakallah fii umrik, Bapak.
Semoga rezekimu senantiasa mengalir
Sehat selalu dan panjang umur
Melihat anak-anak sukses dan melihat anak2 lembur
—

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…