Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

INE

×

INE

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072
Example 468x60

Bunda, aku di sini…
Aku masih sama kala berkata dengan tak senang hati
Aku anak kecil itu yang ke mana-mana masih jatuh dan olehmu dibantu berdiri
Seringnya aku melamun saat larutnya mentari

Bunda, jikalau aku degil sekarang ini
itu karna aku merindumu sekali
Jauh dari ucapanku yang mungkin menusuk sanubari
Ingin aku selamanya ada didalam dekapmu yang penuh kehangatan
Mengusir gelisah akan buana yang penuh kebohongan

Example 300x600

Bunda, bukan aku tak sayang karena beberapa kali mengabaikan pesanmu
Aku hanya merasa sakit mengetahui aku tak lagi sesering itu dibelai kepalanya oleh tangan lembutmu
Aku merasa dilematis akan komunikasi buruk yang terbangun itu
Tapi bunda, aku selalu menanti untuk mengulangi smara manis di masa lalu

Bunda, nanti kita bertemu lagi di waktu yang tepat dan pelukan yang hangat
ya…

(Salatiga untuk Jepara, pada riuhnya hirui piruk minimnya interaksi, dan rintangan didalam kota yang bukan tempat lahir)

Oleh: Selviana Safitri, Mahasiswa UIN Salatiga

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…