Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
PuisiSastra

Kau Datang, Kini Kau Pergi

×

Kau Datang, Kini Kau Pergi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Gunawan Trihantoro

Dengan langkah yang diam-diam, kau singgah di ambang fajar,
Membawa kabut kesucian yang merangkul jiwa-jiwa lapar.
Suara azan menggema, merobek selimut kelam,
Kau datang bagai tamu agung yang disambut tangis dan salam.

Example 300x600

Di pelataran rindu, kami berhias debu dan doa,
Menyingsingkan lengan, mengukir taubat di lembar waktu.
Kau ajari kami bahasa sunyi, merangkai malam dengan tasbih,
Menyulam ikrar di dinding hati yang retak oleh nafsu yang lihai.

Kau adalah bulan yang meneteskan cahaya ke dalam sumur-sumur diri,
Menggali mata air sabar di tengah dahaga yang tak terperi.
Kami belajar memungut remah-remah syukur dari setiap lara,
Menyadap madu makna dari luka yang tersembunyi di sudut mihrab.

Tapi kini, kau beranjak, pelan, seperti bayang yang lelah,
Meninggalkan jejak-jejak purnama di setiap pintu taubat yang terkuak.
Kami terduduk di pelataran senja, memandang langit yang merapuh,
Merasakan ruang-ruang kosong di antara jari yang masih menggenggam rindu.

Kau pergi, tapi cahayamu menggantung di ujung sajadah yang basah,
Dalam desahan munajat yang masih bergetar di bibir-bibir yang diam.
Kau tinggalkan taman-taman hikmah di setiap malam yang kami simpan,
Di antara halaman Al-Qur’an yang terbuka, dan air mata yang menggenang.

Sebab di setiap sahur yang sunyi, kami masih mendengar desir jubahmu,
Di setiap Lailatul Qadar yang tersipu, kami temui jejak kasihmu.
Kau ajarkan kami bahwa perpisahan hanyalah pintu lain dari pertemuan,
Bahwa Ramadhan takkan mati, ia tumbuh dalam diam, di ladang amal yang tertabur.

Kini kami berdiri di perbatasan syawal, mengibarkan bendera kemenangan,
Membawa serpihan cahayamu sebagai bekal di jalan yang masih panjang.
Kau datang sebagai rahmat, kau pergi sebagai guru yang abadi,
Di antara datang dan pergi, kami belajar tentang cinta yang tak terhingga.

“Selamat jalan, wahai bulan yang mengajak kami pulang.
Kami akan menanti di musim semi, saat kau kembali mengurai berkah dari langit…”


Rumah Kayu Cepu, 30 Maret 2025.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Cerpen

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP…