Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
PuisiSastra

Mantra Ayah, Kidung Mama

×

Mantra Ayah, Kidung Mama

Sebarkan artikel ini
Oplus_0
Example 468x60

Oleh: Juang Anugrah Langit,  Santri-Murid Kelas IX SMP Alam Nurul Furqon

Ayah,
Mantra apa yang kau punya?
Hingga kala itu,
Sedihku pun sirna dalam sekejap
Hanya dengan lelucon ringan darimu

Example 300x600

Lantas kini, aku sibuk mencari
Dimana candaanmu?
Sendu telah menyergapku,
Dimana ayah yang menyelamatkanku?

Mama,
Dimana indah suaramu?
Yang selalu menyanyikan kidung dengan senyum
Menghilangkan segala bayang seram sebelum tidur
Menyalurkan gemilau indah ‘tuk membuatku benderang

Dan saat ini,
Aku tak lagi benderang ma
Aku terjebak dalam bayang
Akankah seperti apa esok?
Adakah hal baik esok?
Apa hal buruk akan menyapa?

Tolong usir gelap ini,
Usir kehampaan ini
Berikan aku ruang untuk mengerti
Aku perlu mencerna semua ini

Mama, Ayah
Aku sudah tumbuh remaja
Segala hal terasa baru bagiku
Semua ini masih terlalu abu untukku
Ajarkan aku selagi kalian masih ada

Aku tak berniat menjadi manja
Tapi tolong,
Biarkan langit ini menerima gemilau kembali
Agar benderang lagi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Cerpen

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP…