Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kolom

Qurban dan Redistribusi Makanan Bergizi

×

Qurban dan Redistribusi Makanan Bergizi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Dr. Mokhamad Abdul Aziz, M.Sos., M.E., Pengasuh Harian Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Rembang

Setiap tahun, saat Iduladha tiba, jutaan keluarga di seluruh Indonesia menyaksikan pemandangan yang sama: antrean panjang warga membawa kantong plastik berisi daging segar. Di masjid, musala, hingga lapangan kampung, panitia qurban sibuk memotong, menimbang, dan membagikan daging kepada tetangga, fakir miskin, dan mereka yang jarang memiliki akses terhadap protein hewani berkualitas.

Example 300x600

Di balik ritual keagamaan yang sarat makna spiritual itu, tersembunyi sebuah mekanisme sosial yang luar biasa: redistribusi makanan bergizi dalam skala masif dan terstruktur.

Skala yang Mencengangkan

Angka-angka berbicara lebih keras dari kata-kata. Pada Iduladha 1446 H / 2025, Kementerian Agama mencatat sebanyak 1.856.962 ekor hewan kurban disembelih di seluruh Indonesia — terdiri dari 627.130 ekor sapi dan kerbau, serta 1.229.832 ekor kambing dan domba. Hanya dalam hitungan hari (Kementerian Agama RI, 2026).

Untuk memahami betapa luar biasanya angka ini, bandingkan dengan aktivitas pemotongan hewan sepanjang tahun: jumlah sapi dan kerbau yang disembelih saat Idul Adha saja setara dengan 65 persen dari total yang dipotong di seluruh rumah potong hewan (RPH) Indonesia selama 365 hari. Untuk kambing dan domba, angkanya bahkan mencapai 740 persen. Sementara dari sisi ekonomi, Pusat Kajian Strategis BAZNAS memproyeksikan perputaran nilai kurban nasional tahun 2025 mencapai sekitar Rp34,85 triliun (Puskas BAZNAS, 2026)—sebuah ekosistem ekonomi kerakyatan yang bergerak serentak dalam satu momentum.

Bukan Sekadar Halal, tapi Thayyib

Di sinilah saatnya kita jujur pada diri sendiri. Selama ini, diskusi publik tentang makanan dalam Islam hampir selalu berhenti di satu kata: halal. Apakah hewannya disembelih dengan benar? Apakah dagingnya bebas dari najis? Pertanyaan-pertanyaan itu penting, tetapi tidak lengkap.

Al-Qur’an sesungguhnya tidak pernah menyebut halal sendirian dalam konteks makanan. Dalam QS. al-Baqarah ayat 168, perintahnya berbunyi: “Wakulū mimmā fī al-ardhi ḥalālan ṭayyiban,” makanlah dari apa yang ada di bumi, yang halal lagi thayyib. Dua kata itu selalu hadir beriringan. Halal bicara soal cara dan sumber. Thayyib bicara soal kualitas, kebaikan, dan manfaat — yang dalam konteks gizi modern dapat diterjemahkan sebagai: bergizi, seimbang, dan menyehatkan.

Maka pertanyaannya bukan hanya “apakah daging ini halal?” tetapi juga “apakah makanan yang kita konsumsi sehari-hari sudah thayyib?” Dan bagi puluhan juta masyarakat Indonesia yang kekurangan akses protein hewani, jawabannya tegas: belum.

Protein yang Langka di Meja Makan Kaum Rentan

Di sinilah letak urgensi qurban yang sesungguhnya. Indonesia mencatat konsumsi daging hanya 19,16 kilogram per kapita per tahun (semua jenis daging: sapi, kambing, ayam, dan lainnya), menjadikannya salah satu yang terendah di kawasan ASEAN, padahal Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Bahkan Malaysia mencatat 70,80 kilogram, Vietnam 53,56 kg, Filipina 35,06 kg, dan Thailand 25,93 kg—semuanya jauh di atas Indonesia (World Population Review, 2022).

Dua data sekaligus menggambarkan betapa tertinggalnya Indonesia. Pertama, khusus daging sapi: konsumsi Indonesia hanya sekitar 2,57 kilogram per kapita per tahun, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 6,4 kilogram. Artinya, untuk daging sapi saja, orang Indonesia rata-rata mengonsumsi kurang dari separuh standar dunia. Kedua, jika dihitung semua jenis daging, angka total Indonesia 19,16 kilogram itu pun hanya seperenam dari Australia yang mencapai 112,34 kilogram, atau Amerika Serikat 122,80 kilogram (World Population Review, 2022). Dua data ini bukan sekadar statistik—keduanya adalah cermin ketimpangan akses gizi yang nyata dan mendesak untuk dibenahi.

Adapun di jazirah Arab, meski konsumsi daging secara keseluruhan tidak setinggi negara Barat, tradisi menyantap daging kambing dan domba sudah mengakar kuat dalam budaya sehari-hari; menjadikan protein hewani bukan barang istimewa, melainkan bagian dari menu harian.

Daging merah mengandung protein lengkap dengan profil asam amino esensial yang sulit ditemukan dalam jumlah memadai dari sumber nabati. Selain itu, daging juga kaya zat besi heme yang mudah diserap tubuh, zinc untuk imunitas, serta vitamin B12 yang vital bagi fungsi saraf dan pembentukan sel darah merah. Bagi kelompok rentan: anak-anak, ibu hamil, dan lansia—asupan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendasar. Inilah esensi thayyib yang sesungguhnya: bukan kemewahan, melainkan hak dasar atas makanan yang baik.

Qurban sebagai Sistem Pangan Berkeadilan

Secara fikih, pembagian daging qurban sudah dirancang dengan prinsip keadilan yang terukur. Sepertiga untuk keluarga shohibul qurban, sepertiga untuk kerabat dan tetangga, dan sepertiga sisanya khusus diperuntukkan bagi fakir miskin. Konstruksi ini bukan kebetulan. Ini adalah sistem distribusi pangan yang telah berusia lebih dari 14 abad.

Yang membuat qurban istimewa sebagai instrumen redistribusi bukan hanya kuantitasnya, tetapi juga kualitasnya. Hewan yang dikurbankan disyaratkan sehat, cukup umur, dan tidak cacat, sebuah standar thayyib yang melekat sejak awal. Artinya, daging yang diterima masyarakat adalah daging pilihan, bukan sisa atau kualitas kedua. Syariat mengharuskan yang terbaik, bukan yang tersisa.

Bayangkan dampaknya secara konkret: jika hampir 1,9 juta hewan kurban menghasilkan rata-rata 15 kilogram daging bersih per ekor, maka dalam beberapa hari saja lebih dari 28 juta kilogram daging bergerak dari tangan yang berkecukupan ke tangan yang membutuhkan, tanpa birokrasi, tanpa biaya distribusi yang memberatkan. Bagi jutaan keluarga yang konsumsi dagingnya jauh di bawah rata-rata global, momen ini bisa menjadi satu-satunya kesempatan dalam setahun untuk mendapat asupan protein hewani yang layak, untuk benar-benar makan secara thayyib.

Potensi yang Belum Sepenuhnya Dioptimalkan

Meski potensinya besar, sistem redistribusi qurban masih menghadapi beberapa tantangan. Pertama, distribusi yang tidak merata, penerima di perkotaan kadang mendapat daging dari banyak panitia sekaligus, sementara wilayah terpencil sama sekali tidak terjangkau. Kedua, keterbatasan pengelolaan: tanpa fasilitas pendingin memadai, daging yang terdistribusi tidak tepat waktu bisa terbuang sia-sia dan justru tidak lagi thayyib secara harfiah.

Di sinilah inovasi dibutuhkan. Sejumlah lembaga amil zakat kini mulai mengolah daging qurban menjadi kornet atau rendang kaleng yang tahan lama, lalu mendistribusikannya ke daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Inisiatif ini patut diapresiasi dan didorong lebih luas, karena mengubah momen qurban dari peristiwa satu hari menjadi dampak berbulan-bulan, dan memastikan nilai thayyib itu benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.

Lebih dari Sekadar Ibadah Ritual

Sudah saatnya paradigma halalan thayyiban diangkat dari sekadar frasa teologis menjadi kerangka kebijakan pangan yang hidup. Ketika ulama berbicara tentang makanan, bicarakanlah juga gizinya. Ketika panitia qurban bekerja, pastikan dagingnya sampai kepada mereka yang paling membutuhkan nutrisi itu. Ketika pemerintah menyusun program ketahanan pangan, libatkanlah momentum Idul Adha sebagai bagian dari ekosistem distribusi protein nasional.

Qurban mengajarkan bahwa ibadah sejati tidak pernah berhenti pada dimensi vertikal, hubungan antara manusia dan Tuhan. Ia selalu memancar ke dimensi horizontal: kepedulian antarmanusia. Ketika hampir dua juta ekor hewan disembelih atas nama Allah dalam satu momentum Idul Adha, yang sesungguhnya bergerak adalah roda keadilan sosial terbesar yang dimiliki bangsa ini.

Maka qurban bukan sekadar ritual penyembelihan. Ia adalah perwujudan paling konkret dari perintah halalan thayyiban—bahwa setiap manusia berhak atas makanan yang tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga baik bagi tubuh dan jiwa. Tidak ada seorang pun yang seharusnya kelaparan, apalagi kekurangan gizi, di tengah kelimpahan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom

Oleh: Gunawan TrihantoroSekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah…