Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah berhari-hari mendung, matahari benar-benar keluar. Bukan yang mengintip malu-malu di sela awan, tapi yang utuh, terang, membuat genangan sisa hujan berkilau seperti pecahan kaca. Langit bersih, rata, tanpa tingkat-tingkat awan yang biasanya bersusun seperti tangga.
Hari itu Bang Kay dan Bang Sat berkunjung ke rumah Bang Said.
Bang Said atau, bagi para pengagumnya, “Sang Begawan”—dulu nama besar. Senior legendaris, dikutip ke mana-mana, diidolakan anak-anak muda. Tapi Bang Kay, jujur saja, tak pernah benar-benar mengerti pemujaan itu. Sebab kalau diukur dengan penggaris yang biasa ia pakai, Bang Said itu… ya, gagal.
Rumahnya kecil, di gang sempit. Motornya butut. Ia tak punya jabatan, tak punya usaha besar, tak pernah menjadi apa pun yang bisa dipamerkan. Seumur hidup mengurus komunitas, menulis, mengaji—dan tak satu pun dari itu membuatnya kaya. Di usia yang sudah kepala lima, ia hidup sederhana, nyaris pas-pasan.
“Kasian juga, ya, Bang Sat,” bisik Bang Kay di perjalanan. “Dulu tokoh. Sekarang gini-gini aja. Makanya dia sekarang suka ngomongin penerimaan diri, ikhlas, nrimo. Ya iyalah. Orang gagal kan butuh filosofi biar nggak stres.”
Bang Sat cuma nyengir. “Kok kamu yakin banget dia gagal?”
“Ya lihat aja. Secara duniawi, jelas. Nggak punya apa-apa.”
Mereka disambut Bang Said dengan teh tawar dan singkong rebus. Ia tampak… entahlah. Tenang. Terlalu tenang untuk orang yang, menurut hitungan Bang Kay, seharusnya menyesali hidupnya.
Obrolan mengalir. Basa-basi dulu. Lalu Bang Said bertanya kabar, dan tanpa sadar, Bang Kay dan Bang Sat mulai mengeluh—soal susahnya merintis usaha, soal orang-orang yang menyebalkan, soal si anu yang begini, si polan yang begitu. Mengalir lancar, seperti biasa.
Bang Said mendengarkan. Lalu, pelan, ia berkata, “Kalian tahu nggak, ciri orang yang nggak bahagia?”
Keduanya menggeleng.
“Ada tiga. Suka mengeluh. Suka marah. Suka ngrasani—ngomongin orang.” Ia menyeruput tehnya. “Dari tadi, kalian sudah melakukan ketiganya.”
Bang Kay tersedak singkong.
“Jangan tersinggung,” kata Bang Said, tersenyum. “Aku dulu juga begitu. Parah malah. Aku cuma mau cerita apa yang akhirnya aku ngerti setelah lama.”
Ia meletakkan gelasnya.
“Kenapa orang mengeluh? Karena dia lihat ke atas. ‘Kok dia dapat, aku nggak.’ Kenapa orang marah? Karena dia mau menegakkan posisinya, mau menang, mau di atas. Kenapa orang ngrasani? Karena dengan menjatuhkan orang lain, dia merasa naik sedikit. Ketiganya sama akarnya: kalian menaruh manusia di tangga. Ada yang di atas, ada yang di bawah. Dan hidup kalian habis buat manjat, atau takut melorot.”
“Terus salahnya di mana, Bang?” tanya Bang Sat.
“Salahnya, di tangga itu nggak ada garis finis. Selalu ada yang lebih tinggi. Orang terkaya masih iri sama yang lebih kaya. Pejabat masih ngincer kursi yang lebih tinggi. Jadi selama kalian mikir vertikal—atas-bawah—kalian nggak akan pernah sampai. Nggak akan pernah cukup. Nggak akan pernah bahagia.”
Bang Kay mengernyit. “Tapi Bang, kita kan sering senang juga. Ketawa-ketawa, seneng-seneng.”
“Nah, itu yang sering ketuker,” kata Bang Said. “Senang, gembira, bahagia—dikira sama, padahal beda. Kesenangan itu dari badan: makan enak, dipuji, dapat duit. Nikmat, tapi sebentar, dan minta diulang terus. Kegembiraan itu selangkah lebih dalam—dari peristiwa: menang, kumpul sama kawan, dapat kabar baik. Lebih kaya, tapi tetap naik-turun, tergantung apa yang lagi kejadian.”
Ia menunjuk ke langit yang cerah.
“Dua itu kayak cuaca. Hari ini panas, besok hujan. Kalau kalian ngejar-ngejar cuaca, ya capek, karena cuaca nggak bisa dipegang. Nah, bahagia itu beda. Bahagia itu bukan cuaca—dia iklim. Karakter jangka panjang. Orang bahagia bisa aja lagi nggak senang, lagi nggak gembira, lagi sedih malah—tapi di dalamnya tetap ada rasa cukup, rasa utuh, rasa ‘ya udah, aku baik-baik aja’. Itu nggak goyah cuma gara-gara hari ini hujan.”
“Terus gimana caranya punya ‘iklim’ itu, Bang?” tanya Bang Sat.
“Ya itu tadi. Turun dari tangga.” Bang Said tersenyum.
“Selama kalian masih di tangga, yang kalian punya cuma cuaca, senang pas di atas, sengsara pas melorot. Bahagia baru mungkin pas kalian berhenti ngukur diri naik-turun. Orang yang ngejar kesenangan sama kegembiraan doang, hidupnya bisa kelihatan rame terus—tapi di dalamnya kering. Sebab dia nyari iklim di tempat yang cuma jual cuaca.”
Bang Kay, yang masih menyimpan pikiran tadi, akhirnya nyeletuk, setengah menantang. “Tapi Bang Said, maaf ya. Abang ngomong gini… apa nggak karena Abang sendiri, maaf, nggak berhasil? Maksudku, secara ekonomi. Gampang ngomong turun dari tangga kalau kita emang nggak pernah nyampe puncak.”
Bang Sat menyikut Bang Kay, kaget. Tapi Bang Said malah tertawa lepas.
“Nah, itu pertanyaan paling jujur yang aku dengar hari ini,” katanya. “Bagus. Kamu pikir aku ini gagal, kan?”
Bang Kay salah tingkah. “Bukan gitu, Bang…”
“Nggak apa-apa. Tapi coba jawab: gagal itu ukurannya apa? Kaya? Jabatan? Terkenal?” Bang Said menatapnya. “Itu semua ukuran tangga, Kay. Ukuran vertikal. Kamu bilang aku gagal karena aku nggak berdiri di anak tangga yang tinggi. Tapi aku sudah nggak berdiri di tangga itu. Jadi buatku, pertanyaannya bukan aku ada di anak tangga berapa. Tapi: apakah aku hidup sesuai nilai yang aku yakini, dan apakah aku memberi manfaat buat sekitar. Cuma dua itu.”
Ia menyeruput tehnya, lalu melanjutkan.
“Kalian sibuk mikirin gimana kelihatannya kalian di mata orang, kan? Itu namanya ngurus citra. Beda sama ngurus diri. Ngurus diri itu ke dalam—apa aku sudah jadi orang yang aku mau, menurut ukuranku sendiri. Ngurus citra itu ke luar, apa aku sudah kelihatan hebat di mata orang. Dan makin kalian nggak nerima diri sendiri, makin kalian rakus ngurus citra. Citra itu plester buat luka yang kalian nggak berani lihat.”
“Orang yang paling suka pamer hebat,” lanjutnya, “biasanya justru yang paling nggak yakin sama dirinya. Sombong itu, sebenarnya, minder yang pakai topeng. Yang benar-benar penuh nggak perlu tumpah. Yang tumpah-tumpah itu yang di dalamnya kosong.”
Ia menunjuk ke luar, ke matahari yang menerpa halaman.
“Orang yang sudah nerima diri, nggak butuh panggung. Nggak butuh diakui. Dia kayak matahari—nggak teriak-teriak minta dilihat, cuma ngasih terang. Sebaliknya, orang yang hidup dari citra, capek terus. Sebab citra harus disuplai pengakuan tiap hari. Sekali nggak dipuji, dia gelisah. Makin dikejar citra baik, makin rapuh orangnya.”
Bang Kay mulai terdiam. Tapi satu keberatan masih tersisa. “Tapi Bang Said, ‘nerima diri’ itu… jangan-jangan cuma cara halus buat pasrah? Buat males-malesan terus bilang ‘ya beginilah aku’?”
Bang Said mengacungkan telunjuk, seolah senang pertanyaan itu datang.
“Nah. Ini yang paling penting, dan paling sering disalahpahami. Nerima diri itu BUKAN membenarkan segala hal tentang dirimu. Yang kamu terima itu yang nggak bisa diubah—asal-usulmu, bakatmu, rupamu, masa lalumu. Tapi yang sesuai nilai, yang hati kecilmu bilang benar, itu tetap harus kamu perjuangkan. Terus dikembangkan.”
Ia mencondongkan badan, menatap Bang Kay lekat.
“Contoh. Malas. Coba tanya hati kecilmu: malas itu sesuai nilaimu, nggak?”
Bang Kay menggeleng pelan. “Nggak.”
“Nah. Kalau hati kecilmu bilang nggak, terus kamu jadikan kemalasan itu sebagai ‘penerimaan diri’—’ya beginilah aku, orang males, terima aja’—itu SALAH. Itu bukan nerima diri. Itu ngibulin diri. Kamu pakai kata ‘penerimaan’ buat nutupin sesuatu yang sebenarnya bisa, dan harus, kamu ubah.”
Ia bersandar kembali.
“Nerima diri yang benar itu: terima yang nggak bisa diubah, perjuangkan yang sesuai nilai. Bukan pasrah pada semuanya. Justru orang yang nerima dirinya dengan benar itu paling rajin berkembang—tapi berkembangnya bukan biar ngalahin orang lain, melainkan biar makin dekat sama nilai yang dia yakini. Bedanya halus, tapi jauh. Yang satu tumbuh buat menang. Yang satu tumbuh buat jadi benar.”
Bang Kay terdiam lama. Singkong di piringnya sudah dingin. Ia datang tadi dengan rasa kasihan—mengira ia sedang menjenguk seorang yang gagal, yang menghibur diri dengan filosofi. Sekarang, pelan-pelan, ia sadar siapa yang sebenarnya perlu dikasihani.
Bang Said, yang menurut hitungannya “gagal”, ternyata sudah selesai dengan dirinya. Tenang. Cukup. Bahagia—dalam arti yang paling sederhana sekaligus paling susah. Sementara Bang Kay, yang merasa “lebih berhasil”, justru yang tiap malam gelisah, gampang tersinggung, sibuk membandingkan, tak pernah merasa cukup.
Yang gagal bahagia, ternyata, bukan Bang Said. Tapi dirinya sendiri.
Di perjalanan pulang, matahari masih terang. Bang Kay diam, mencerna. Dan pelan-pelan, ada rasa hangat menjalar di dadanya—rasa seperti orang yang baru saja naik kelas. Aku sekarang paham, batinnya. Aku sudah turun dari tangga. Aku sudah lebih sadar daripada orang-orang yang masih sibuk vertikal.
Ia hampir tersenyum bangga—sampai ia sadar apa yang barusan ia pikirkan.
Ia berhenti melangkah.
Sebab “aku lebih sadar daripada orang lain” itu… ya, tangga lagi. Ia baru saja turun satu anak tangga, dan langsung ingin memuji dirinya karena berhasil turun—yang artinya ia sedang memanjat tangga baru: tangga “orang yang sudah tercerahkan”. Tangganya memang licin. Baru dilepas satu, tumbuh satu lagi.
Bang Kay tertawa kecil, pada dirinya sendiri.
“Masih jauh, Kay,” gumamnya. “Masih jauh.”
Bang Sat menoleh. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa.” Bang Kay menengadah ke langit yang kini benar-benar rata, tanpa tangga. “Cuma baru sadar, turun dari tangga itu nggak sekali jadi. Tiap hari harus turun lagi. Karena tiap hari, tanpa diminta, selalu ada tangga baru yang numbuh di kaki kita.”
Mereka berjalan pulang di bawah matahari yang, untuk pertama kalinya sepanjang cerita panjang ini, tak menyilaukan siapa-siapa—cuma menerangi, rata, untuk semua.
Diambil dari buku “Apologia Aktivis Kampret” oleh Mokhamad Abdul Aziz. Dalam buku tersebut, bab ini berjudul ‘Turun dari Tangga‘.


















