Oleh: Rahmat Setiawan (Kabid PTKP HMI Korkom Walisongo Cabang Semarang)
“Pemimpin itu bukan sekadar pengarah, tapi jembatan. Ia hadir untuk membantu orang-orang menyebrang dari ketidakpastian menuju perubahan yang mereka yakini,” – Dr. Zulfikar Alimuddin.
Sebuah organisasi yang kehilangan nafas perjuangan, sudah semestinya harus me-reorientasi perjuangannya. Menurut keyakinan penulis para organisasitoris di organisasi itu hanya menjalankan tugasnya tanpa mengetahui tupoksi tugas dan tanggung jawabnya. Walaupun penulis tau bahwa kerja-kerja dalam organisasi itu merupakan kerja kolektif. Dalam artian satu kepengurusan harus saling topang menopang bukan malah hilang-hilangan seperti lepas tanggung jawab.
Jika mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), re-orientasi adalah peninjauan kembali terhadap wawasan untuk menentukan sikap dan sebagainya. Penulis melihat bahwa kerja-kerja bidang di organisasi yang penulis temui menjalankan tupoksinya hanya untuk formalitas belaka. Dalam artian apa yang dilakukan itu hanya menggugurkan kewajiban, lebih parahnya ada yang tidak sadar akan tugas dan tanggung jawabnya di setiap bidang yang ia emban.
Hal seperti itulah yang membuat nafas perjuangan untuk mewujudkan tujuan organisasi kadang kala terlupakan. Penulis mengamati mulai dari organisasi intra maupun ekstra itu sama saja. Intra kampus, kinerja Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) itu terlihat bekerja ketika moment-moment Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Sisanya hanyalah pamflet-pamflet ukuran persegi yang berisikan “Ucapan Selamat”. Terkesan sampah jika dilihat mata, namun bagaimana lagi realitas di lapangan seperti itu.
Itu kalo penulis bicara organisasi intra kampus, organisasi ekstra kampus pun demikian. Seperti contohnya organisasi hijau hitam ini. Penulis merasa perlu adanya reorientasi kesadaran penuh akan tujuan organisasi hijau hitam dengan seluruh elemen struktural. Baik itu Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendaharanya Umum, dan Bidang-bidang terkait. Karena penulis menemukan adanya sebuah ketidaksinambungan. Ketidaksabaran tupoksi struktural membuat pelaku organisatoris merasa lelah, karena seakan bergerak sendiri lelah gak bergerak ditagih.
Pusat vitalnya kepengurusan itu berada di titik visioner dan tidak visionernya Badan Pengurus Harian (BPH). BPH menjadi katalisator terpenting untuk hadir dan turun langsung ke lapangan. Selain itu ide-ide vissioner seorang BPH itu harus terus inovasi.
Anggota-anggota organisasi sejatinya membutuhkan kehadiran para BPH Organisasi untuk terus mengayomi dan membersamai. Terlepas jika berbicara egosentris, hal demikian seperti ego harus dihilangkan jauh-jauh karena yang dibutuhkan bukanlah EGO namun ECO yang saling terkoneksi.
Paradigma ego dan eco harus dipahami secara betul untuk kemajuan organisasi. Di samping itu kehadiran para pengurus BPH dalam mengawal setiap agenda kegiatan organisasi itu sangat ditunggu oleh kader-kader di organisasinya. Menekuk ego karena posisi jabatan sangat diperlukan, bukan bermaksud menyinggung tapi itulah letak asyiknya. Sebuah kepala tertinggi organisasi jika mau mengotori tangannya dengan melakukan kerja teknis itu salah satu point plus. Karena seiring berjalannya waktu para kader organisasi akan menilai sendiri mana yang ikhlas dan mana yang Cuma bermuka dua.
Sudah semestinya di bidang yang mencangkup penelitian kader, itu harus dipahami betul tugas dan tanggung jawabnya. Karena bidang ini menjadi hal paling vital sehabis BPH. Bidang penelitian bukan hanya menjalankan program kerja yang monoton, seperti Follow up materi dan sebagainya. Namun dalam bidang ini bagaimana menemukan potensi seorang kader lalu kader itu percaya akan potensi untuk diri sendiri. Hal buruk yang dilakukan oleh oknum organisasi itu adanya budaya klaim-klaiman. Budaya ini merusak citra organisasi, lebih jahatnya ada seorang kader yang dia tidak mendapatkan fasilitas di organisasi, suatu ketika dirinya menang lomba lalu di-klaim bahwa dia kader organisasinya.
Kinerja organisasi yang seperti itu, harus sedikit demi sedikit dihilangkan. Karena jantung organisasi perjuangan terletak bagaimana dia menempa kadernya untuk dibantu menemukan potensi dalam dirinya, lalu disalurkan melalui lomba, meng-upload, dan memberikan ruang untuk bertumbuh secara aman dan nyaman. Hal ini perlu didorong untuk mewujudkan kader yang memiliki nafas perjuangan dengan militansi yang ia miliki.
Dalam bidang ini harus menjadi partner bidang yang serupa, misal seperti Bidang Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan (PTKP). Ibarat kata bidang pembinaan anggota yang menempa interaksi kepercayaan antara kader dengan pengurus. Bidang satunya memoles sedikit cara interaksi dengan cara yang halus.
Pengurus pembinaan anggota sangat diperlukan kehadirannya untuk turun langsung melihat dan merangkul kadernya. Karena kader yang hilang bukan lagi yang disalahkan organisasi namun harus berkaca apa yang salah dari kepengurusan?
Anggota yang dibina secara tegas dan tangkas, akan menciptakan kader yang berkualitas. Tentu, untuk menciptakan kader yang berkualitas bukan hanya dibina satu hari, dua hari, atau satu jam. Melainkan secara terus menerus untuk menemukan apa potensi dalam diri seorang kader yang bingung di-persimpangan jalan. Seorang kader jangan menutup diri untuk terbuka kepada pengurus organisasi. Karena disitulah ada hak dan kewajiban seorang kader untuk menagih secara langsung. Jangan salahkan jika selama berproses tidak mendapatkan apa-apa namun tanyakan kepada diri sendiri seorang kader: “Apa yang menjadi kebutuhan ku? Agar bisa bersaing di ruang kelas maupun di luar kelas?”
Reorientasi organisasi dalam judul di atas adalah sebuah bahan refleksi struktural organisasi. Bahwa sebenarnya organisasi harus terus berjalan dengan ide gagasan serta semangat para kader organisasinya. Bukan untuk dilaksanakan sebagai formalitas melainkan harus dijalankan untuk menuju substansi tujuan organisasi. Sudah semestinya sebuah organisasi menjalankan kerja kolektifnya. Fenomena pengurus ghoib yang terlihat pas pelantikan dan penutupan merupakan situasi yang keliru. Organisasi yang hangat adalah organisasi yang kedua belah pihak (pengurus-kader) harus saling punya narasi dan aksi nyata. Narasi tanpa aksi dari seorang kader hanyalah menghasilkan sebuah ilusi.


















