Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
News

Hidayatul Faizien Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Lanjutkan Tradisi Nasionalisme Sejak 2016

×

Hidayatul Faizien Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Lanjutkan Tradisi Nasionalisme Sejak 2016

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Garut, PikiranBangsa.co — Pondok Pesantren Hidayatul Faizien kembali melaksanakan upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB tersebut berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatul Faizien dan diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri atas santri, ustadz, pengurus, serta keluarga besar pesantren.

Pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan di Pondok Pesantren Hidayatul Faizien merupakan bagian dari tradisi yang telah dibangun sejak 2016. Kegiatan tersebut lahir dari semangat untuk menghadirkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme di lingkungan pesantren sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Example 300x600

Menurut keterangan yang disampaikan keluarga besar pesantren, tradisi tersebut tidak terlepas dari sosok KH. A. Wajihaddien. Semasa hidupnya, beliau dikenal memiliki perhatian terhadap pelaksanaan upacara pengibaran Bendera Merah Putih. Hampir setiap tahun, KH. A. Wajihaddien mengikuti upacara pengibaran bendera di Alun-alun Kabupaten Garut. Meskipun tidak tercatat sebagai peserta resmi, beliau tetap hadir di luar pagar alun-alun dengan membawa kursi dan payung sendiri. Ketika prosesi pengibaran bendera berlangsung, beliau berdiri dan turut memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih.

Kebiasaan tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi bagi keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatul Faizien untuk menyelenggarakan upacara pengibaran bendera di lingkungan pesantren. Sejak 2016, pelaksanaan upacara HUT RI menjadi salah satu bentuk pendidikan kebangsaan bagi para santri sekaligus penghormatan kepada KH. A. Wajihaddien sebagai guru, orang tua, dan panutan keluarga besar pesantren.

Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Faizien, A.H Fahmy Dzalmar Fawaiedh, mengatakan bahwa penyelenggaraan upacara di lingkungan pesantren memiliki latar belakang historis dan nilai pendidikan yang penting bagi generasi santri.

“Upacara ini lahir dari keteladanan KH. A. Wajihaddien. Beliau hampir setiap tahun mengikuti upacara pengibaran bendera di Alun-alun Kabupaten Garut. Walaupun tidak menjadi peserta resmi, beliau tetap hadir, membawa kursi dan payung sendiri, kemudian berdiri dan memberikan penghormatan ketika bendera dikibarkan,” kata A.H Fahmy.

Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap kemerdekaan dan simbol negara dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk dari lingkungan pesantren. Karena itu, nilai tersebut kemudian diteruskan melalui pelaksanaan upacara di Pondok Pesantren Hidayatul Faizien.

“Dari situlah kemudian muncul gagasan untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera di pondok pesantren. Selain sebagai bentuk patriotisme dan nasionalisme, kegiatan ini juga kami dedikasikan untuk beliau sebagai guru kami, orang tua kami, dan panutan kami,” ujarnya.

A.H Fahmy menegaskan bahwa keberadaan pesantren dalam perjalanan bangsa Indonesia memiliki hubungan erat dengan sejarah perjuangan kemerdekaan. Menurutnya, ulama dan santri memiliki kontribusi dalam perjuangan bangsa, sehingga nilai perjuangan tersebut perlu terus ditanamkan kepada generasi santri.

“Semangat juang kemerdekaan tidak pernah terlepas dari perjuangan para ulama dan santri. Kalau dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka perjuangan santri hari ini adalah mengisi kemerdekaan melalui ilmu, pendidikan, akhlak, kedisiplinan, dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Pelaksanaan upacara tahun ini berlangsung tertib dan khidmat. Para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, termasuk pengibaran Bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kehadiran sekitar 500 peserta menunjukkan keterlibatan yang kuat dari keluarga besar pesantren dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

A.H Fahmy juga berharap tradisi tersebut dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, upacara bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian dari proses pendidikan karakter bagi santri.

“Jangan melihat upacara ini hanya sebagai kegiatan seremonial setiap tanggal 17 Agustus. Di dalamnya ada pendidikan tentang disiplin, tanggung jawab, persatuan, penghormatan kepada para pahlawan, dan kecintaan terhadap tanah air. Nilai-nilai itulah yang harus terus diwariskan kepada para santri,” tutur A.H Fahmy.

Tradisi yang dimulai sejak 2016 tersebut kini menjadi bagian dari agenda keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatul Faizien dalam memperingati kemerdekaan. Konsistensi pelaksanaannya menunjukkan upaya pesantren dalam mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan pendidikan kebangsaan.

Sebagai salah satu pesantren yang telah lama berkembang di wilayah Garut, Pondok Pesantren Hidayatul Faizien juga memiliki sejarah panjang dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Sumber dokumentasi pihak lain mencatat keberadaan pesantren tersebut sebagai salah satu pesantren tua di Garut yang telah berdiri sejak 1866.

Melalui pelaksanaan upacara HUT RI ke-81, Pondok Pesantren Hidayatul Faizien kembali menegaskan komitmennya untuk menanamkan nasionalisme dan patriotisme kepada para santri. Nilai perjuangan para pendahulu diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi diwujudkan dalam kehidupan santri melalui pendidikan, kedisiplinan, akhlak, persatuan, dan pengabdian kepada bangsa serta negara.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *