Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
KesehatanLifestyle

Hari Alzheimer Sedunia: Lebih Peduli dengan Kesehatan Otak

×

Hari Alzheimer Sedunia: Lebih Peduli dengan Kesehatan Otak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Setiap tanggal 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia. Peringatan ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai Alzheimer dan demensia yang masih sering dianggap sebagai hal yang biasa terjadi pada orang lanjut usia. Padahal, demensia bukanlah bagian normal dari proses penuaan dan kondisi ini bisa memberikan dampak yang cukup besar, bukan hanya bagi penderitanya tetapi juga bagi keluarga yang merawat.

Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2021 terdapat sekitar 57 juta orang di dunia yang hidup dengan demensia. Lebih dari 60% di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Selain itu, hampir 10 juta kasus baru demensia terjadi setiap tahunnya. Alzheimer sendiri menjadi salah satu penyebab demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu sekitar 60–70% dari seluruh kasus demensia.

Example 300x600

Demensia dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir, berkomunikasi, berperilaku, sampai melakukan aktivitas sehari-hari. Karena itu, ketika seseorang mulai mengalami perubahan kemampuan mengingat atau berpikir yang sudah mengganggu aktivitasnya, kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai hal yang wajar karena usia.

Masalah Alzheimer juga tidak hanya dirasakan oleh penderitanya. Keluarga dan orang yang merawat biasanya juga harus menyesuaikan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari memberikan pendampingan, membantu aktivitas tertentu, sampai menghadapi beban emosional dan ekonomi. WHO mencatat bahwa biaya yang berkaitan dengan demensia secara global mencapai sekitar US$1,3 triliun pada tahun 2019. Hal ini menunjukkan bahwa demensia bukan hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi juga dapat memberikan dampak sosial dan ekonomi.

Walaupun sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan demensia secara keseluruhan, bukan berarti risikonya tidak bisa dikurangi. WHO pada tahun 2026 menyebutkan bahwa hingga 45% risiko demensia berkaitan dengan faktor-faktor yang sebenarnya dapat diubah atau dicegah. Beberapa di antaranya adalah kurang melakukan aktivitas fisik, kurangnya interaksi sosial, merokok, konsumsi alkohol, polusi udara, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

Dari sini kita bisa melihat bahwa menjaga kesehatan otak sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Aktivitas fisik yang cukup, menjaga pola hidup sehat, tetap bersosialisasi, serta mengontrol kondisi kesehatan seperti tekanan darah dan diabetes merupakan beberapa hal yang dapat dilakukan. Jadi, perhatian terhadap kesehatan otak tidak harus menunggu sampai seseorang memasuki usia lanjut.

Selain pencegahan, dukungan kepada orang yang mengalami demensia juga penting. World Alzheimer Report 2025 membahas mengenai pentingnya rehabilitasi demensia untuk membantu penderita mempertahankan kemampuan yang masih dimiliki dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri sesuai dengan kondisinya. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar juga dibutuhkan agar penderita tidak merasa dijauhi atau dianggap berbeda.

Peringatan Hari Alzheimer Sedunia seharusnya tidak hanya menjadi peringatan satu hari saja. Masih banyak orang yang belum memahami tentang Alzheimer dan demensia, bahkan masih ada anggapan bahwa lupa atau mengalami penurunan kemampuan berpikir pasti hanya karena faktor usia. Dengan pengetahuan yang lebih baik, masyarakat diharapkan bisa lebih peka, mengurangi stigma, dan memberikan dukungan yang tepat kepada penderita maupun keluarganya.

Oleh: Siti Naila Sya’bani

Anggota RPK PK IMN FKM UMJ Periode 2025-2026

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *