Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
BudayaLifestyle

Yang Kelihatan Mewah Belum Tentu Semewah Itu

×

Yang Kelihatan Mewah Belum Tentu Semewah Itu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pernah merasa hidup orang lain lebih enak setelah scroll media sosial? Teman berganti HP, membeli barang mahal, atau liburan ke tempat bagus, sementara kita masih berpikir berkali-kali sebelum membeli barang yang kita butuhkan. Tanpa sadar, kita membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain dan merasa tertinggal.

Dalam psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai social comparison, yaitu kecenderungan menilai diri dengan membandingkannya pada orang lain. Artinya, membandingkan diri sebenarnya hal yang wajar. Kita melakukannya hampir setiap hari tanpa sadar. Manusia memang cenderung mengukur dirinya lewat orang-orang di sekitarnya, apalagi ketika tidak ada patokan yang pasti. Masalah muncul ketika patokan yang kita pakai ternyata tidak adil.

Example 300x600

Dan media sosial membuat perbandingan ini sangat tidak adil. Kita membandingkan kehidupan kita yang utuh, lengkap dengan kesulitannya, dengan cuplikan terbaik hidup orang lain. Orang jarang mengunggah momen ketika uangnya menipis atau ketika bingung memikirkan kebutuhan esok hari. Yang muncul di layar hanyalah hasil seleksi: foto terbaik, momen paling menyenangkan, barang yang paling baru.

Aku pernah mengalaminya. Seorang teman yang dulu memakai HP Android biasa sepertiku tiba-tiba menggunakan iPhone seri terbaru dan sering membeli barang mahal. Setiap kali ia mengunggah barang barunya, aku diam-diam membandingkan dengan keadaanku sendiri dan merasa minder. Rasanya seperti berlari di lintasan yang sama, tetapi aku selalu tertinggal satu langkah.

Namun, belakangan aku mendengar bahwa ia ternyata cukup sering meminjam uang kepada teman-temannya. Aku tidak senang mendengarnya. Tetapi aku sadar bahwa selama ini aku menilai hidupnya hanya dari apa yang terlihat.
Setelah itu, cara pandangku berubah. Aku mulai bertanya-tanya, jangan-jangan ia juga sedang berusaha keras agar tidak dianggap kurang oleh lingkungannya.

Mungkin ia merasakan tekanan yang sama denganku, hanya saja dengan cara yang berbeda. Ia memilih membeli barang agar diterima, sementara aku memilih diam dan merasa kecil. Dua-duanya sama-sama melelahkan.
Barang mahal memang tidak selalu mencerminkan kemampuan finansial. Ada yang membelinya dari hasil kerja keras, tetapi ada pula yang membelinya lewat cicilan, paylater, atau memakai uang yang seharusnya untuk kebutuhan lain. Dari luar, keduanya tampak sama. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik layar: apakah barang itu dibayar lunas, atau justru masih harus dicicil berbulan-bulan.

Di era sekarang, memamerkan barang atau gaya hidup, yang sering disebut flexing, sudah menjadi hal yang biasa. Tidak semua pelakunya berniat buruk. Tetapi bagi yang melihat, tumpukan unggahan seperti ini bisa memunculkan FOMO, yaitu rasa takut ketinggalan. Kita merasa harus ikut membeli, ikut pergi, dan ikut punya, agar tidak terlihat berbeda dari lingkungan.

Di sinilah bahayanya. Terlalu sering melihat gaya hidup orang lain membuat kita ikut terdorong membeli sesuatu bukan karena butuh, melainkan karena gengsi. Bagi mahasiswa yang uang sakunya terbatas, memaksakan diri demi terlihat sama dengan teman hanya akan menjadi beban sendiri, mulai dari uang jajan yang habis sebelum waktunya sampai utang yang menumpuk. Padahal, tidak ada yang benar-benar menang dari perlombaan yang tidak pernah kita setujui untuk diikuti.

Dampaknya pun tidak berhenti di dompet. Perasaan terus-menerus merasa kurang bisa membuat kita sulit menikmati hal yang sebenarnya sudah kita punya. Prestasi kecil terasa tidak berarti, kebahagiaan sederhana terasa hambar, dan pikiran dipenuhi pertanyaan mengapa hidup kita tidak seindah milik orang lain. Pelan-pelan, rasa percaya diri ikut terkikis.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, belajar bersyukur. Nasihat mamaku sederhana, tetapi membuatku berpikir. Aku terlalu sibuk memikirkan yang belum kumiliki sampai lupa bahwa aku masih bisa kuliah, punya tempat pulang, dan punya HP yang berfungsi baik.

Kedua, berpikir sebelum membeli. Tanyakan pada diri sendiri apakah barang itu benar-benar dibutuhkan atau hanya ingin dimiliki karena orang lain punya. Sering kali keinginan itu hilang setelah beberapa hari. Kalau setelah seminggu barang itu masih terasa penting, barulah pertimbangkan dengan tenang.

Ketiga, mengatur konsumsi media sosial. Jika sebuah akun terus membuat kita merasa kurang, membatasi waktu melihatnya atau berhenti mengikutinya sementara bukanlah hal yang salah. Kita berhak menjaga ruang pikiran kita tetap sehat.

Keempat, buat anggaran sederhana. Catat uang masuk dan keluar tiap bulan, lalu sisihkan sedikit untuk tabungan. Saat kita tahu ke mana uang pergi, godaan membeli sesuatu demi gengsi jadi lebih mudah ditolak, karena kita punya patokan yang jelas.

Kelima, bandingkan diri dengan dirimu yang kemarin. Daripada bertanya mengapa orang lain sudah sampai sejauh itu, lebih baik bertanya apakah hari ini aku sedikit lebih baik dari sebelumnya. Mungkin nilaiku naik sedikit, kebiasaan menabungku mulai rutin, atau aku berhasil menahan diri tidak membeli barang yang tidak perlu. Kemajuan kecil tetap kemajuan.

Aku sendiri masih sesekali merasa minder. Namun aku mengingatkan diri bahwa setiap orang punya keadaan yang berbeda, dan layar tidak pernah menunjukkan keseluruhan cerita.

Kita boleh punya keinginan untuk hidup lebih baik. Tetapi kebahagiaan tidak bergantung pada memiliki semua yang dimiliki orang lain. Yang kita perlukan adalah berhenti sejenak dan menilai hidup dengan ukuran kita sendiri. Sebab yang kelihatan mewah belum tentu semewah itu, dan yang terasa cukup sering kali jauh lebih berharga daripada yang terlihat banyak.

Oleh: Ariella Aurellia Putri
Mahasiswa FEB Universitas Pamulang

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Oleh: Silvia Nur Hafizhoh, Santri-Murid Kelas X Pesantren-Sekolah…