Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
E-Koran

Membangkitkan Semangat Perlawanan terhadap Penjajah Gaya Baru

×

Membangkitkan Semangat Perlawanan terhadap Penjajah Gaya Baru

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pernyataan tegas Presiden Prabowo Subianto yang menolak segala bentuk intervensi serta eksploitasi asing kini memicu dinamika politik baru di ruang publik nasional. Ketegasan Kepala Negara dalam menjaga kedaulatan ekonomi dan kekayaan alam Nusantara justru memantik reaksi serta serangan balik dari berbagai kelompok kepentingan di dalam negeri. Fenomena ini mengonfirmasi adanya benturan nyata antara kekuatan yang menginginkan kemandirian bangsa dengan jaringan komprador yang nyaman menjadi perpanjangan tangan agenda global.

Guna membedah anatomi konflik ekonomi-politik tersebut, Redaksi Pikiranbangsa.co melakukan wawancara mendalam bersama Dr. Mohammad Nasih, M.Si., Dosen Ilmu Politik FISIP UMJ sekaligus Pengasuh Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Rembang. Melalui momentum peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026, pakar politik sekaligus tokoh agama ini menyerukan pentingnya konsolidasi nasional untuk membentengi presiden dari kepungan penjajah gaya baru. Simak ulasan kritis dan tajam selengkapnya dalam petikan wawancara khusus berikut ini.

Example 300x600

Pikiranbangsa.co (PB): Selamat siang, Pak Kiai Nasih. Belakangan ini ruang publik kita dihangatkan oleh pidato tegas Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan tidak takut pada intervensi asing yang ingin menjajah dan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia. Menariknya, pernyataan ini justru memicu serangan politik balik dari beberapa kalangan di dalam negeri. Bagaimana Anda melihat peta konflik politik ini?

Dr. Mohammad Nasih (MN): Selamat siang. Saya mau berikan disclaimer dulu. Dan saya tegaskan bahwa saya akan berusaha selalu objektif dalam memberikan pandangan-pandangan saya. Dan bisa dilihat rekam jejak saya dalam menyikapi setiap dinamika politik di Indonesia. Langsung ke pertanyaan Anda tadi. Serangan politik terhadap Presiden Prabowo setelah pidato kebangsaan tersebut sebenarnya adalah konfirmasi nyata atas apa yang dikhawatirkan selama ini. Itu adalah counter-attack dari sistem yang merasa kenyamanan mereka terusik. Ketika seorang Kepala Negara dengan lantang menegaskan kedaulatan dan menolak didikte oleh kekuatan asing, maka antek-antek asing di dalam negeri—yang pernah disebut oleh Presiden Prabowo sebagai “londo ireng”—pasti akan bereaksi. Mereka merasa kepentingannya terancam.

Bagi saya, serangan politik ini bukan sekadar dinamika demokrasi biasa, melainkan benturan ideologi antara kelompok yang menginginkan Indonesia berdaulat penuh dengan kelompok komprador yang nyaman menjadi perpanjangan tangan kepentingan global.

PB: Anda nampaknya juga mengamini istilah “londo ireng” dan penjajah yang bersembunyi di balik tabir lembaga. Bisa dijelaskan lebih spesifik siapa atau lembaga apa yang Anda maksud?

MN: Penjajahan gaya baru (neo-colonialism) tidak lagi datang membawa meriam atau kapal perang. Mereka datang membawa dokumen perjanjian, investasi yang mengikat, regulasi multilateral, hingga mendirikan berbagai lembaga non-pemerintah, lembaga donor, maupun korporasi multinasional yang sekilas tampak berniat membantu. Padahal, misinya tunggal: memastikan kekayaan alam Indonesia dieksploitasi untuk kemakmuran negara mereka, bukan untuk rakyat Indonesia.

“Londo ireng” adalah metafora untuk anak-anak bangsa yang secara fisik berkulit sawo matang dan berpaspor Indonesia, tetapi cara berpikir, kebijakan yang mereka dorong, dan kepentingan yang mereka bela sepenuhnya demi keuntungan asing. Mereka berselingkuh dengan korporasi global demi keuntungan pribadi atau kelompok, sambil mengorbankan masa depan ekologi dan ekonomi bangsa sendiri. Kita harus membantu Presiden Prabowo menelanjangi kedok lembaga-lembaga dan aktor-aktor seperti ini.

PB: Dalam analisis ekonomi-politik Anda, seberapa besar sebenarnya keuntungan yang didapatkan pihak asing dari penguasaan atas Indonesia ini? Anda sempat menyinggung korelasi ini dengan lonjakan PDB negara-negara tertentu.

MN: Sangat luar biasa besar, bahkan menjadi pilar utama kemakmuran mereka. Secara historis dan empiris, negara-negara atau korporasi yang berhasil mencengkeramkan pengaruhnya di Indonesia terbukti berhasil melonjakkan Produk Domestik Bruto (PDB) mereka hingga menjadi yang tertinggi di dunia pada zamannya.

Mari kita bedah sejarahnya. Belanda melalui VOC bisa menjadi pusat kapitalisme awal Eropa dan membangun negerinya karena menyedot rempah-rempah dan kerja paksa di Nusantara. Setelah itu, masuk era Amerika Serikat yang melalui korporasi-korporasi besarnya menguasai sektor tambang tembaga, emas, serta migas kita selama puluhan tahun. Dan belakangan, kita lihat bagaimana Singapura—dan beberapa kekuatan ekonomi baru di Asia—menjadi simpul utama atau hub finansial dan perdagangan raksasa yang sebagian besar perputarannya disokong oleh pelarian modal (capital flight), komoditas, dan bahan mentah dari bumi Indonesia. Indonesia ini adalah “jantung” yang darahnya terus-menerus disedot untuk menghidupkan tubuh negara lain.

PB: Jika keuntungannya begitu masif, artinya perlawanan balik dari pihak asing dan antek-anteknya juga akan sangat total. Bagaimana strategi kita untuk membentengi dan membantu Presiden Prabowo dalam menghadapi tekanan ini?

MN: Kuncinya adalah persatuan rakyat dan pemutusan rantai ketergantungan. Presiden tidak boleh berjalan sendirian di koridor kekuasaan formal. Kita harus memperkuat benteng pertahanan dari bawah. Jalan yang harus ditempuh adalah:

Pertama, daulat pemikiran. Kita harus membersihkan kurikulum pendidikan dan diskursus publik kita dari infiltrasi pemikiran neo-liberal yang melemahkan semangat nasionalisme.

Kedua, hilirisasi total dan kemandirian ekonomi. Kita harus mendukung penuh kebijakan menyetop ekspor bahan mentah. Kekayaan alam harus diolah di dalam negeri oleh putra-putri bangsa sendiri.

Ketiga, ketegasan hukum. Aktor-aktor internal yang terbukti menjadi perantara sabotase ekonomi atau pemburu rente asing harus ditindak tanpa kompromi. Sifat permisif terhadap pengkhianat bangsa harus diakhiri.

PB: Bulan ini kita memperingati momentum Sumpah Pemuda. Bagaimana Anda mengontekstualisasikan semangat tahun 1928 tersebut untuk menghadapi penjajahan modern saat ini?

MN: Pada tahun 1928, para pemuda dari berbagai suku dan agama sadar bahwa mereka tidak akan pernah menang melawan kolonialisme jika bergerak sendiri-sendiri. Maka lahirlah komitmen Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Hari ini, momentum Sumpah Pemuda harus kita revitalisasi menjadi Sumpah Pemuda Abad ke-21: Membangkitkan Semangat Perlawanan Terhadap Penjajah Modern. Kalau dulu musuhnya jelas terlihat memakai seragam militer Hindia Belanda, hari ini musuhnya memakai setelan jas mahal, berbicara bahasa diplomasi internasional, dan membawa iming-iming investasi mengikat.

Tugas pemuda hari ini adalah menjadi garda depan intelektual dan ekonomi. Kita harus melahirkan generasi pemuda yang tidak bisa dibeli oleh asing. Pemuda yang bangga pada tanah airnya dan memiliki kapasitas sains-teknologi untuk mengelola kekayaan alam secara mandiri.

PB: Sebagai pengasuh Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Rembang, bagaimana langkah konkret yang Anda lakukan dalam mencetak generasi yang siap melawan cengkeraman asing tersebut?

MN: Di Planet NUFO, kami mendidik santri menjadi ideolog sekaligus praktisi yang mandiri. Melalui konsep sekolah alam, kami mendekatkan mereka pada tanah, air, dan potensi riil bangsa ini. Dimulai dengan menggarap top soil dulu. Karena kalau kita memiliki kemampuan mengolah yang ada di permukaan bumi saja, kita sudah akan hidup dengan makmur. Itu sudah dibuktikan oleh VOC dulu. Mereka diajari bertani, beternak, dan berbisnis secara sinergis, memiliki paradigma teologi pembebasan dan wawasan politik.

Kami ingin membuktikan bahwa dari desa, dari Rembang, bisa lahir anak-anak muda yang mandiri secara ekonomi dan kokoh secara ideologi. Jika ribuan pesantren dan sekolah di Indonesia bergerak serentak melahirkan pemuda yang berdikari secara pangan, energi, dan pemikiran, maka otomatis fondasi pertahanan bangsa kita tidak akan bisa dirobohkan oleh konspirasi asing mana pun.

PB: Terakhir, apa pesan pamungkas Anda untuk seluruh elemen bangsa Indonesia yang saat ini mungkin masih ragu atau bahkan terpengaruh oleh narasi-narasi yang menyudutkan sikap tegas Presiden terhadap asing?

MN: Kepada seluruh rakyat Indonesia, sadarlah bahwa kemakmuran yang kita nikmati hari ini belum sebanding dengan potensi asli yang dianugerahkan Allah Swt. kepada bumi Nusantara. Jangan mau ditakut-takuti oleh narasi bahwa kita akan miskin tanpa bantuan asing. Itu adalah mitos yang sengaja diproduksi oleh para penjajah agar kita terus bermental budak.

Saatnya kita merapatkan barisan. Bersatu di belakang pemimpin yang berani membela kedaulatan bangsa. Mari kita bakar kembali semangat perlawanan. Kita adalah bangsa besar, bangsa yang bisa menjadi pemenang, karena kita bukan bangsa yang ditakdirkan untuk terus-menerus dihisap kekayaannya. Kuncinya kita memiliki kesadaran lalu mengikutinya dengan langkah ikhtiar untuk benar-benar merdeka!

PB: Terima kasih banyak atas waktu dan pemikiran yang sangat mencerahkan ini, Dr. Mohammad Nasih.

MN: Sama-sama, terima kasih kembali. Semoga diskusi ini menjadi pemantik kesadaran nasional bagi pembaca sekalian.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *