Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

Angkara Murka

×

Angkara Murka

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Apakah dunia ini adil, Tuhan?

Ketika yang kuat menindas yang lemah,

Example 300x600

Ketika air mata jatuh tanpa suara,

Sementara tawa meramaikan dunia yang sepi

Di jalan hidup yang penuh tanda tanya,

Ada yang terjatuh, ada yang melangkah tinggi,

Kenapa yang benar kadang tak menang

Dan yang salah terus berdiri tegak, penuh kebanggaan.

Apakah dunia ini adil, jika harapan sering dipatahkan?

Jika impian dihancurkan oleh kenyataan,

Ketika mimpi menjadi luka yang terpendam,

Sementara kebohongan berkelimpahan di sana sini?

Namun di balik awan gelap yang tebal,

Ada matahari yang tak pernah hilang,

Adakah keadilan tersembunyi di balik itu,

Menanti waktu yang tepat untuk bersinar terang?

Apakah dunia ini adil jika kesedihan datang tanpa diduga?

Jika yang baik harus menanggung beban yang berat,

Namun masih ada cinta yang tumbuh di hati,

Menghapuskan luka dengan kelembutan yang tak terukur

Tuhan, apakah dunia ini adil?

Saat penderitaan tak kunjung berakhir,

Namun aku percaya, di balik setiap ujian,

Ada hikmah yang tersembunyi, memberi pelajaran

Di dunia yang tampak penuh ketidakpastian,

Adakah keadilan yang tersembunyi dalam jiwa?

Biarpun dunia ini kadang terasa tak adil,

Aku percaya, kasih-Mu tetap abadi, tak terbantahkan

Karena keadilan sejati tak selalu tampak di mata,

Namun ia hidup dalam hati yang tulus,

Bersabarlah, meski dunia tak adil,

Karena pada akhirnya, kebenaran akan menang juga

Oleh: Putri ‘Aisyah Nurul Iman atau PAN-1, Wakil Ketua Osis 2021/2022 SMP Alam Nurul Furqon, Ketua Perdana Majalah Universe Planet Nufo 2022/2023, sekretaris umum 2023 PR IPM Planet Nufo, Ketua Pondok PONPES Nufo 2024

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…