Oleh: Aruna Fajria, Santri-Murid Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Rembang asal Pekalongan
Kisah ini tentang seseorang. Seseorang yang dahulu ceria dan penuh warna, tetapi harus menghadapi perlakuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab hingga membuatnya layu sebelum berkembang.
Ketahuilah, seseorang itu bisa saja orang tua, keluarga, teman, sahabat, pasangan, anak, atau siapa pun yang hadir dan berperan dalam kehidupan kita.
Termasuk diri sendiri.
…
Namanya Olivia.
Waktu itu ia adalah seorang gadis kecil manis berumur empat tahun. Senyumnya selalu terukir di bibirnya, memamerkan lesung pipi yang tersembunyi. Ia sangat suka bermain dan berteman dengan siapa saja. Olivia adalah gadis yang baik.
Di usia sekecil itu, kedua orang tuanya tidak selalu bisa menemaninya tumbuh karena sibuk bekerja. Gadis kecil itu biasanya berada di rumah bersama seorang pembantu. Ia menjalani hari-harinya hampir tanpa kehadiran kasih sayang orang tua.
Namun, bukan itu masalah utamanya.
Semuanya berubah sejak ia berumur enam tahun.
Orang tuanya memasukkannya ke SD yang berada dekat rumah. Awalnya, Olivia tetap ceria seperti biasanya. Ia berteman dengan teman-teman sekelasnya dan menjalani hari-hari yang menyenangkan.
Namun, beberapa anak yang “disegani” di kelas itu membuat sebuah grup. Awalnya hanya grup untuk bermain-main, tetapi lama-kelamaan mereka mulai menindas sesuka hati.
Dan incaran mereka adalah Olivia.
“Kamu ngapain di sini? Ini wilayahku!”
Ketua grup itu mendorong Olivia hingga terjatuh. Rok merahnya kotor karena tanah. Ia meringis menahan sakit.
“Ih, dia mah cupu!” ejek ketua kelompok itu.
Teman-temannya di belakang ikut tertawa dan mengejek.
Olivia hanya tertunduk diam. Padahal halaman itu adalah tempat bermain bersama yang seharusnya boleh digunakan siapa saja. Namun, siapa yang akan membelanya?
Sejak saat itu Olivia terus ditindas. Semakin ia mencoba melawan dan membela diri, semakin keras pula mereka menindasnya. Tidak hanya itu, ketua grup tersebut juga menyuruh satu kelas—termasuk anak laki-laki—untuk mengucilkannya. Dan akhirnya, hampir seluruh kelas mengikuti perintah itu.
Suatu ketika Olivia menceritakan semuanya kepada orang tuanya. Ia sebenarnya telah meminta agar orang tuanya tidak melapor kepada guru karena ia takut akan akibatnya. Namun sayangnya, orang tuanya tetap melaporkan hal itu kepada wali kelas.
Lebih sialnya lagi, wali kelas tersebut justru mengumumkannya di depan kelas.
Akibatnya, para penindas itu menjadi sangat marah.
Di depan guru, mereka berpura-pura mengaku salah dan bahkan meminta maaf kepada Olivia. Namun di belakang, saat jam istirahat, mereka kembali menghajarnya habis-habisan. Sampai jam pelajaran selesai, seragam Olivia berantakan dan penampilannya tidak lagi rapi.
“Kamu yang harusnya nangis! Gara-gara kamu harga diri kami di depan guru hilang!” bentak ketua kelompok itu.
Air mata Olivia jatuh. Percuma ia menahannya. Tubuh kecilnya didorong dan dipukul oleh lebih dari lima orang anak. Tubuhnya terjatuh ke sana kemari.
Sejak saat itu, segala warna dalam dirinya seolah sirna.
Olivia tumbuh menjadi gadis yang pendiam. Ia menjadi murid yang kurang berkembang, introver, dan cenderung antisosial. Kejadian tersebut meninggalkan trauma yang dalam di hatinya. Ia benar-benar menghindari kehidupan sosial, membenci kegiatan kelompok, bahkan takut untuk berbaur dengan orang lain.
Rasa itu terus tumbuh perlahan-lahan hingga ia lulus SMP.
Dengan sifatnya yang antisosial dan introver, tentu sulit baginya untuk memiliki teman. Terlebih lagi trauma masa lalu yang membuatnya takut untuk kembali percaya pada orang lain.
Namun ketika beranjak remaja, Olivia mulai menyadari sesuatu. Apakah selamanya ia harus hidup dalam penjara ketakutan masa lalunya?
Walaupun tidak mudah, Olivia mulai berusaha. Ia mencoba lebih aktif di kelas, perlahan belajar berbaur kembali dengan lingkungan sekolah. Bahkan, ia memberanikan diri mengikuti organisasi OSIS dan akhirnya terpilih menjadi sekretaris umum saat kelas II SMA.
Perlahan, jiwa Olivia yang dulu mulai kembali bersinar.
Meskipun prosesnya panjang dan tidak selalu mudah, Olivia akhirnya menemukan jati dirinya kembali. Ia bangkit dari sakit dan luka masa lalu. Kini, hidup Olivia kembali bersinar dengan warna yang lebih indah.
Ia membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Janganlah menindas orang yang menurutmu lebih lemah darimu. Sesungguhnya setiap makhluk ciptaan Tuhan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Terlebih lagi, setiap makhluk ciptaan-Nya memiliki perasaan.
Mereka bukan boneka mainanmu.


















