Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Dunia AktivisMimbar Mahasiswa

Komisariat HMI: Kaderisasi Formal, Esensi yang Hilang

×

Komisariat HMI: Kaderisasi Formal, Esensi yang Hilang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Alif Fahruzain Shabrian-Sekretaris Umum HMI Komisariat Buya Hamka Unimus

Himpunan Mahasiswa Islam sejak dulu dikenal sebagai organisasi kader yang melahirkan banyak tokoh intelektual, aktivis, dan pemimpin bangsa. Identitas HMI bukan hanya terletak pada atribut hijau-hitam, tetapi pada proses panjang pembentukan karakter, intelektualitas, dan kesadaran perjuangan kadernya. Namun, realitas yang terjadi di sebagian komisariat hari ini justru memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Permasalahan formalitas kaderisasi yang sering muncul di komisariat bukan lagi menjadi hal baru. Pasifnya kader setelah mengikuti LK1, lemahnya rasa memiliki terhadap komisariat, hingga menjadikan HMI hanya sebagai batu loncatan kepentingan organisasi intra kampus atau sekadar alat menghimpun suara permira menjadi persoalan yang terus berulang.

Example 300x600

Komisariat perlahan kehilangan ruh kaderisasinya. Budaya diskusi, bedah buku, dan tradisi intelektual yang dahulu menjadi ciri khas HMI kini mulai jarang terlihat. Banyak kader yang lulus LK1 tetapi tidak benar-benar memahami apa itu HMI, untuk apa mereka bergabung, dan nilai perjuangan apa yang seharusnya mereka jalankan. Akibatnya, fenomena hilangnya kader selepas LK1 kerap terjadi dan kaderisasi hanya menjadi formalitas administratif tanpa menghasilkan kualitas kader yang matang secara pemikiran maupun loyalitas organisasi. Fenomena hilangnya kader setelah LK1 juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada kader itu sendiri.

Ada persoalan yang lebih mendasar dalam pola kaderisasi di komisariat. Penarikan kader sering kali dilakukan tanpa melihat kesiapan dan niat berproses calon anggota. Tidak sedikit yang masuk HMI hanya karena ajakan teman, kebutuhan relasi organisasi, atau kepentingan politik kampus. Ketika sejak awal orientasi kaderisasi sudah keliru, maka wajar jika setelah LK1 mereka perlahan menghilang. Di sisi lain, pimpinan komisariat juga perlu melakukan evaluasi terhadap pola pengayoman kader. Kader baru yang bahkan belum memahami kultur dan mekanisme organisasi sering kali langsung dilempar menjadi pengurus atau didelegasikan ke tingkat cabang hanya demi memenuhi permintaan.

Padahal, menjadi pengurus HMI bukan sekadar mengisi jabatan, tetapi memerlukan pemahaman ideologis, pengalaman proses, dan kesiapan mental dalam menjalankan amanah organisasi. Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menilai kualitas kader hanya berdasarkan kinerja mereka di organisasi intra kampus. Memang pengalaman organisasi penting, tetapi keberjalanan HMI memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi intra universitas. HMI bukan hanya ruang administrasi dan kepanitiaan, melainkan ruang perjuangan intelektual dan ideologis. Karena itu, kader yang aktif di intra kampus belum tentu siap secara pemahaman untuk mengemban tanggung jawab di kepengurusan HMI.

Ironisnya, ada kader-kader yang telah lama berproses, aktif mengikuti diskusi, dan memahami dinamika organisasi justru sering diabaikan. Hal ini menimbulkan rasa kecewa dan membuat kader yang sebenarnya potensial kehilangan semangat untuk berproses lebih jauh. Tulisan opini ini bukan bertujuan untuk menjelekkan komisariat, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi komisariat yang katanya sebagai lumbung kaderisasi HMI tetapi faktanya saat ini mulai kehilangan arah. Komisariat perlu kembali memperbaiki pola penarikan kader dengan mengutamakan kualitas dan niat berproses, bukan sekadar untuk menambah kuantitas anggota.

Kader baru juga perlu mendapatkan pengawalan yang baik agar merasa dihargai sebagai bagian dari keluarga besar HMI, bukan hanya pelengkap data keanggotaan. Selain itu, kaderisasi nonformal seperti diskusi santai, forum ngopi, bedah buku, dan ruang berbagi pengalaman perlu kembali dihidupkan. Dari forumforum sederhana itulah biasanya rasa kekeluargaan, loyalitas, dan kesadaran perjuangan tumbuh secara alami. Sebab pada akhirnya, HMI tidak akan hidup hanya karena struktur organisasi, tetapi karena adanya kader yang benar-benar ingin belajar, bertumbuh, dan berjuang bersama.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka komisariat hanya akan menjadi tempat singgah sementara tanpa melahirkan kaderkader yang memiliki kualitas dan loyalitas terhadap perjuangan organisasi. Namun jika mulai dibenahi dari sekarang, bukan tidak mungkin komisariat kembali menjadi ruang kaderisasi yang hidup, kritis, dan melahirkan insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *