Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

Lelahku, Juangku, Hanya Untuk-Nya

×

Lelahku, Juangku, Hanya Untuk-Nya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Di dalam kalbu, niat terpatri
Menghafal Al-Quran, hidup penuh arti
Setiap ayat, setiap huruf yang diselami
Menjadi cahaya, penuntun hati ini

Lisan bergetar, bibir berusaha
Menyebutkan firman-Nya dengan penuh rasa
Walau terkadang sulit, terkadang terlupa
Semangat tak pudar, tekad tak sirna

Hari-hari penuh dengan ujian
Namun keyakinan menjadi pegangan
Dengan doa dan usaha tanpa henti
Al-Quran menjadi bagian hidup ini

Menghafal bukan sekadar tugas semata
Tapi perjalanan menuju cahaya-Nya
Di setiap ayat, ada hikmah yang mendalam
Menjadi petunjuk, kehidupan yang lebih indah

Dengan sabar dan istiqomah, aku berjalan
Menghafal Al-Quran, menuju kebahagiaan
Sungguh, setiap usaha takkan sia-sia
Di akhirat nanti, ganjaran-Nya menanti jua.

Lantunan ayat kualunkan dengan seksama
Menggetarkan jiwa, menyejukkan rasa
Setiap huruf mengandung makna yang dalam
Menuntun langkah menuju ridha-Nya yang agung

Lelah tak terasa, meski kadang jatuh
Bangkit kembali, tak ingin kehilangan peluang
Setiap hafalan adalah doa yang terucap
Menjadi pelita, di tengah kegelapan yang mencekam

Ya Allah, mudahkanlah jalan ini
Berikan kekuatan untuk mengingat setiap janji-Mu
Dengan Al-Quran sebagai petunjuk hidup
Aku berjalan, mendekat pada-Mu, dengan penuh harap

Oleh: Putri ‘Aisyah Nurul Iman (PAN-1), Wakil Ketua OSIS 2021/2022 SMP Alam Nurul Furqon, Sekretaris Umum 2023 PR IPM Planet Nufo, Ketua Pondok PONPES NUFO 2024, Ketua majalah Univers perdana 2022/2023

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…