Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

Museum Perayaan Serpihan

×

Museum Perayaan Serpihan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

“Nama kamu siapa kak?” Dia bertanya kepadaku dengan nada paling lembut yang pernah aku dengar
“Aku Afia, kamu pasti Asya ya?”
“Loh tau dari mana kamu?”
“Waktu itu kamu kan memperkenalkan diri di acara seminar, aku ada disitu” satu kalimat ku berikan dengan hati yang paling berdebar sebagai jawaban.
“Wahh kebetulan banget” balasnya

Apa kebetulan-kebetulan itu tanpa sengaja?
Atau tipu muslihat alam saja?
Ala kadarnya mawar mekar ditengah riuhnya presipitasi
Sela pilu dan semarak predisposisi

Example 300x600

Dari seribu, aku adalah salah satu dari yang gagal memetik hatimu
Menerka-nerka adalah kesibukanku
Mencari jawaban tentangmu itu tujuanku

Hey kamu, bisakah kita tidak bersua kembali? aku sakit
Jika terukir warita menarik bersama itu sulit
Bolehkah aku menjadi bintang yang selalu di fantasimu Sya?

Kada nadin “tapi diterima”
Kataku “tapi tidak terambil hatinya”

Oleh: Selviana Safitri, Mahasiswa UIN Salatiga

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…