Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

Puisi Nihalun Nada

×

Puisi Nihalun Nada

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Seekor Burung Kecil

Dari sekor burung kecil
Yang berhasil mengusir malaikat maut
Dari oretan yang selalu dicicil
Menjelma raja bertaut

Example 300x600

Menjelma Batu

Kupersembahkan laguku
Untuk kau hirup bersama ratu
Lirik yang kucatat satu persatu
Menjadi parau seperti madu
Dan instrumen yang kupetik selalu
Membias menjelma batu

Benar yang Disalahkan

Kuajari mereka berjalan di atas duri-duri
Supaya ia tau tanpa paku ia pun jadi
Ketika mereka mulai berbicara
Aku beri bara api, sebab perkataan mereka telah membakar hati-hati
Maka berikan aku hukuman atau penghargaan sekarang!

Berseteru

Tali-tali berubah tengkorak
Padahal kita telah mengenal warna hitam atau pun putih
Dan kita pernah mewarnai hidup bersama
Kita tidak sedang buta warna
Tapi mata, hati dan juga mata hati
Sepertinya miskin solusi
Sepanjang sejarah kita berjalan di atas terjal
Menapaki keangkuhan
Berakhir mengesankan
ada apa dengan pagi ini?
Tak ada sepatah kata atau sarapan di sini
Sajak dan puisipun sudah tak berambisi
Baiklah, jika aku adalah kamu
Lalu, kita ini siapa?

Mereka

Tubuh yang kekar
Tak ajalnya sebatas psikopat nurani
Mereka menginjak dan memakan hatinya sendiri
Menusuk dan membunuh pikirannya
Kedholiman ini mereka mahkotai dengan manikam
Mengerikan!

Tentang Penulis

Nama lengkap Nihalun Nada, ia berasal dari Sumenep Madura. Sekarang menjadi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Beberapa puisinya seringkali menjadi langganan Media cetak, dan beberapa puisinya sudah banyak yang bukukan. Saat ini, ia bergelut diberbagai organisasi internal kampus salah satunya adalah LPM Arrisalah, dan anggota pusat studi konstitusi dan legislasi (Puskolegis).
No Tlp: 081333710110; IG, FB, TIKTOK: Nihalun Nada

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…