Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

Si Macan Asia

×

Si Macan Asia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Nafidzatun Naylia, Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Sulang, santri-murid Sekolah Alam Nurul Furqon Rembang

Katamu, banyak mimpi ingin kau wujudkan
Banyak orang ingin kau selamatkan
Banyak janji yang kau lantunkan
Tapi hanya berujung bahan ledekan

Rakyat miskin kau dustai
Para petinggi kau lindungi
Jabatan kau jadikan tameng diri
Lantas, apakah hidupmu berarti?

Indonesia tak perlu mulut manis
Mana tindak pikir yang strategis?
Haruskah ada rintihan tangis
Atau malah berujung tragis

Makan bergizi kau serukan
Walau bermodal ceban
Nasionalis kau pertanyakan
Tapi tiada jaminan kehidupan

Kau sungguh tega
Keserakahan telah berkuasa
Kedzaliman telah membabi buta
Korban mana lagi yang kan kau terka

Cihhh, Indonesia emas kau damba
Tapi wujud negara bak neraka dunia
Lantas, generasi sepeti apa yang kau suka?
Bila aturan negara tak masuk logika

Orang mengenalmu sebagai Macan Asia
Menghormati mu bagai dewa
Tapi bagiku kau tikus berdasi yang tak kenal jera
Dan terus menggerogoti tahta semata

Kaulah pengendali negeri ini
Kami hanya bisa berdoa pada illahi
Agar kau tau diri
Dan tidak pergi terlalu jauh lagi

Masa depan Indonesia berada di tangan kita
Mari buat rumah yang kita damba
Menuju Indonesia jaya
Untuk kesejahteraan umat dan bangsa

Sulang, 20 Februari 2025

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…