Jika perempuan hari ini sudah disebut “bebas”, mengapa masih banyak yang memilih diam ketika diperlakukan tidak adil? Mengapa dalam banyak situasi, diam justru terasa lebih aman daripada mengatakan apa yang sebenarnya terjadi?
Pertanyaan ini menunjukkan satu hal: kebebasan yang dimiliki perempuan hari ini belum sepenuhnya menghadirkan rasa aman.
Di satu sisi, perempuan kini memiliki lebih banyak kesempatan dibanding sebelumnya. Akses pendidikan terbuka lebar, pilihan karier semakin beragam, dan ruang untuk menentukan hidup sendiri semakin diakui. Namun di balik itu, realitasnya belum sepenuhnya setara. Rasa khawatir akan penilaian orang lain dan takut tidak dipercaya masih menjadi bayang-bayang ketika perempuan mencoba bersuara.
Setiap 21 April, kita mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan untuk berpikir dan belajar tanpa batas. Apa yang ia perjuangkan telah membuka banyak jalan yang kini bisa dirasakan. Perempuan bisa sekolah, berkarya, dan memiliki pilihan hidup.
Namun, pertanyaannya hari ini bukan lagi apakah pintu sudah terbuka, melainkan: apakah semua perempuan benar-benar merasa aman untuk melangkah melewatinya?
Kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan menjadi cerminan nyata. Dimana masih banyak korban ragu untuk melapor karena takut disalahkan atau tidak dipercaya. Data dari Komnas Perempuan juga menunjukkan bahwa laporan kekerasan terhadap perempuan masih tinggi setiap tahunnya. Ini menegaskan bahwa persoalannya bukan hanya pada individu, tetapi juga pada sistem dan cara pandang masyarakat.
Banyak perempuan hari ini telah mencapai posisi penting dan berkontribusi di berbagai bidang. Namun, kemajuan itu belum dirasakan secara merata. Masih ada yang harus berpikir dua kali sebelum berbicara, dan masih ada yang memilih diam demi menghindari risiko yang lebih besar.
Karena itu, Hari Kartini hari ini bukan lagi tentang membuktikan bahwa perempuan mampu karena itu sudah jelas. Tantangan yang tersisa adalah memastikan bahwa perempuan merasa aman dan dihargai ketika menggunakan kemampuannya.
Perubahan ini tidak bisa hanya dibebankan pada keberanian individu. Lingkungan baik kampus, keluarga, maupun masyarakat perlu menjadi ruang yang aman, yang mendengar tanpa menghakimi dan berpihak tanpa meremehkan.
Karena pada akhirnya, perjuangan hari ini bukan lagi sekadar membuka pintu, tetapi memastikan tidak ada perempuan yang merasa takut untuk melangkah melewatinya. Selama perempuan masih merasa lebih aman untuk diam, maka perjuangan itu belum selesai.
Selamat Hari Kartini untuk semua perempuan yang terus berjuang, bahkan ketika dunia masih membuat diam terasa lebih aman.
Oleh: Tiara Dewinta Aditya, Anggota Bidang RPK PK IMM FKM UMJ 2025–2026


















