Oleh: Jona Kharisma Rahma Dhani, Mahasiswi Prodi Pendidikan Geografi Univesitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta
Setelah Gen Millenial, muncul generasi baru yang dinamakan Gen Z. Gen Z atau Generasi Z adalah Generasi yang lahir di antara tahun 1995 sampai 2010. Berarti saat ini gen z berusia sekitar 16 sampai 31 tahun yang duduk di bangku sekolah, kuliah dan bekerja atau menikah. Generasi Z ini memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh McKinsey, Gen Z lebih melek teknologi, kreatif, menerima perbedaan di sekitar, peduli terhadap masalah sosial, dan senang berekspresi baik di dunia nyata maupun digital.
Gen Z tumbuh di era teknologi yang berkembang pesat, bahkan gen z di Indonesia menempati posisi teratas yang paling banyak menghabiskan waktu di internet. Rata-rata 7 sampai 13 jam setiap harinya.
Penelitian dalam Journal of Abnormal Psychology pada tahun 2019 menunjukkan peningkatan besar dalam Tingkat depresi di kalangan remaja dan dewasa muda. Data lain menunjukkan bahwa angka bunuh diri pada remaja 15-19 tahun dan dewasa muda 20-24 tahun juga mengalami peningkatan signifikan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association, stress yang dialami gen z disebabkan karena pandemi, ketidakpastian mengenai masa depan, berita buruk di internet, dan media sosial. Gen Z memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap kehidupan pribadi mereka, sehingga jika tidak berjalan sesuai keinginan akan memicu timbulnya stres. Media sosial telah menciptakan standar dalam berbagai aspek, contohnya standar TikTok yang sering dibicarakan akhir-akhir ini.
Gen Z menghabiskan waktunya sehari untuk bermain internet rata-rata 10 jam yang mengakibatkan waktunya lebih sedikit untuk berinteraksi secara langsung atau tatap muka denghan orang lain di sekitarnya. Dampaknya adalah mereka menjadi lebih rentan terhadap gangguan mental.
Beberapa faktor yang meningkatkan kerentanan gangguan mental oleh gen z adalah yang memiliki Riwayat gangguan kecemasan atau suasana hati (mood), kurangnya dukungan oleh keluarga, mengalami pengalaman traumatis (bullying, pelecehan, dll), serta memiliki tekanan untuk memperoleh yang terbaik dalam bidang akademik.
Untuk mengatasi atau memitigasi kerentanan tersebut adalah dengan berkonsultasi ke psikolog atau psikiater jika mengalami gejala tersebut secara konsisten. Setelah melakukan konsultasi atau terapi yang diharapkan adalah dapat menciptakan ruang aman dan dapat memahami serta mengelola kondisi mental. Selain itu, merubah gaya hidup menjadi lebih sehat juga penting untuk pemulihan dan ketahanan mental seperti membatasi bermain sosial media, berinteraksi dengan orang-orang terdekat, tidur cukup, olahraga teratur, nutrisi seimbang dan terakhir yaitu jangan ragu untuk meminta tolong kepada seseorang yang dipercaya.
Referensi:
American Psychological Association (APA). (2023). Stress in America: Generation Z.
Brain Academy. (2023, 14 Juli). Mengenal Gen Z: Karakteristik, Kelebihan, dan Tantangannya. Brain Academy. https://www.brainacademy.id/blog/gen-z
Halodoc. (2023, 11 Mei). Ini 5 Alasan Gen Z Lebih Rentan Terhadap Gangguan Mental. Diakses pada 11 Mei 2026, dari https://www.halodoc.com/artikel/ini-5-alasan-gen-z-lebih-rentan-terhadap-gangguan-mental
Journal of Abnormal Psychology. (2019). Increases in Depressive Symptoms, Suicide-Related Outcomes, and Suicide Rates Among U.S. Adolescents After 2010 and Links to Increased New Media Screen Time.
Rumah Sakit Pusat Pertamina. (2023, 20 Oktober). Lonjakan Gangguan Kecemasan dan Depresi pada Gen Z. https://share.google/PPusNVDuXyFYBBnWj


















