Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Dunia KampusMimbar Mahasiswa

Fenomena “Deadline Fighter” di Kalangan Mahasiswa

×

Fenomena “Deadline Fighter” di Kalangan Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Qonita Azka Aulia , Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah UIN Salatiga

“Nanti aja deh ngerjain tugasnya, kan masih lama.” Kalimat sederhana ini mungkin menjadi mantra yang paling sering diucapkan mahasiswa ketika menerima tugas baru. Namun tanpa disadari, hari demi hari berlalu hingga akhirnya tugas dikerjakan dalam kondisi panik pada H-1, bahkan beberapa jam sebelum batas pengumpulan. Fenomena yang dikenal sebagai deadline fighter ini sudah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar di lingkungan perkuliahan, meskipun dampaknya tidak sesederhana sekadar begadang malam.

Example 300x600

Kebiasaan menunda pengerjaan tugas hingga mendekati tenggat waktu masih banyak ditemukan di kalangan mahasiswa. Hampir setiap semester, mahasiswa dihadapkan pada berbagai tugas individu maupun kelompok yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Sayangnya, tidak sedikit yang memilih menunda oekerjaan dengan alasan masih memiliki banyak waktu. Akibatnya proses pengerjaan menjadi terburu-buru dan sering kali menimbulkan tekanan, baik bagi diri sendiri maupun anggota kelompok. Fenomena ini penting untuk dibahas karena tidak hanya memengaruhi hasil akademik, tetapi juga kualitas komunikasi dalam proses pembelajaran.

Idealnya, mahasiswa mampu mengelola waktu dengan baik dengan mulai mencicil tugas sejak awal diberikan. Jika mengalami kesulitan, mahasiswa dapat berkoordinasi dengan dosen atau teman kelompok untuk mencari solusi bersama. Dengan cara tersebut, tugas dapat diselesaikan secara maksimal tanpa harus mengandalkan sistem kebut semalam. Selain itu, komunikasi akademik juga dapat berjalan lebih sehat karena terdapat ruang untuk diskusi, konsultasi, dan perbaikan. Namun realitas yang terjadi menunjukkan hal sebaliknya, banyak mahasiswa masih menganut prinsip “ah nanti saja” dan baru mengerjakan tugas ketika deadline sudah sangat dekat. Walaupun tugas tetap berhasil dikumpulkan tepat waktu, kualitas hasil kerja sering kali kurang optimal karena minim riset, ide yang belum matang, dan penyusunan yang dilakukan secara terburu-buru.

Jika dilihat dari perspektif komunikasi akademik, tugas sebenarnya merupakan bentuk pesan tertulis yang disampaikan mahasiswa kepada dosen. Melalui tugas tersebut, mahasiswa menunjukkan pemahaman, kemampuan berpikir kritis, serta cara menyampaikan argumen. Ketika tugas dikerjakan secara tergesa-gesa, pesan yang disampaikan cenderung tidak terstruktur, argumennya lemah, kurang didukung data, dan sulit dipahami. Idealnya, komunikasi akademik bersifat dialogis, yaitu mahasiswa mengerjakan tugas, dosen memberikan umpan balik, kemudian mahasiswa merespons dan berkembang melalui revisi. Namun pola deadline fighter sering kali memutus siklus tersebut karena mahasiswa hanya berfokus pada penyelesaian tugas, bukan pada proses belajar. Selain itu, perilaku menunda juga memunculkan dampak komunikasi interpersonal berupa kecemasan, kepanikan, hingga konflik dalam kelompok akibat kurangnya kesiapan anggota. Fenomena ini menunjukkan bahwa procrastination bukan hanya persoalan manajemen waktu, melainkan juga masalah komunikasi. Salah satu faktor yang memicu kebiasaan ini adalah distraksi digital. Banyak mahasiswa lebih aktif berinteraksi di media sosial dibandingkan di grup tugas atau forum akademik. Kondisi ini dapat disebut sebagai displacement communication, yaitu energi komunikasi lebih banyak dihabiskan pada hal-hal yang kurang produktif sehingga tanggung jawab akademik terabaikan.

Untuk mengurangi fenomena deadline fighter, mahasiswa perlu membangun kebiasaan manajemen waktu yang lebih baik, seperti membuat jadwal pengerjaan tugas, membagi pekerjaan menjadi beberapa tahap, dan menetapkan target harian yang realistis. Selain itu, penting untuk meningkatkan kesadaran bahwa tugas bukan sekadar kewajiban yang harus dikumpulkan, tetapi juga sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi. Dosen juga dapat mendorong proses pembelajaran yang lebih aktif melalui umpan balik yang konstruktif sehingga mahasiswa memahami pentingnya revisi sebagai bagian dari proses belajar.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mampu mengumpulkan tugas tepat waktu, tetapi juga tentang bagaimana memanfaatkan setiap tugas sebagai kesempatan untuk berkembang. Jika kebiasaan menunda terus dipelihara, mahasiswa mungkin berhasil mengejar deadline, tetapi kehilangan kesempatan untuk menghasilkan karya terbaik dan membangun kemampuan yang akan berguna di masa depan. Sebab, kualitas tidak lahir dari kepanikan menjelang tenggat waktu, melainkan dari proses yang direncanakan dan dijalani dengan sungguh-sungguh.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *