Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Dunia KampusRegional

Mengungkap Pesona Candi Sumberawan, Warisan Sejarah, Budaya, dan Spiritual di ‎Singosari

×

Mengungkap Pesona Candi Sumberawan, Warisan Sejarah, Budaya, dan Spiritual di ‎Singosari

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pikiranbangsa.co, Malang – Candi Sumberawan di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, ‎tidak hanya menjadi peninggalan sejarah bercorak Buddha, tetapi juga menyimpan nilai ‎budaya, tradisi, serta sumber mata air yang masih dijaga kelestariannya hingga kini. Situs ‎cagar budaya ini terus menarik perhatian peneliti, arkeolog, wisatawan, hingga umat ‎beragama yang datang untuk beribadah maupun melakukan meditasi.‎

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada Selasa (28/7/2026), Juru Pelihara Candi ‎Sumberawan, Ahmad Akmal Basyar, menjelaskan bahwa kawasan tersebut memiliki sejarah ‎panjang yang berkaitan dengan Kerajaan Majapahit. Dahulu, kawasan ini dikenal dengan nama ‎Kasurangganan atau Taman Bidadari, sebagaimana tertulis dalam kitab Negarakertagama ‎karya Mpu Prapanca. Kawasan tersebut juga dipercaya pernah dikunjungi oleh Raja Hayam ‎Wuruk pada tahun 1359 ketika melakukan perjalanan ke berbagai wilayah kekuasaan ‎Majapahit. Berdasarkan kajian para ahli, bangunan Candi Sumberawan diperkirakan didirikan ‎sekitar abad ke-14.‎

Example 300x600

Nama Sumberawan berasal dari dua kata, yakni sumber yang berarti mata air dan rawan atau ‎rawa yang berarti telaga. Penamaan tersebut menggambarkan kondisi kawasan candi yang ‎pada masa lalu dikelilingi oleh telaga yang terbentuk dari beberapa sumber mata air di ‎sekitarnya.‎

Keberadaan Candi Sumberawan mulai dikenal masyarakat setelah ditemukan sekitar tahun ‎‎1904 dalam kondisi rusak dan tertutup akar-akar pepohonan. Penelitian arkeologi kemudian ‎dilakukan pada tahun 1934 hingga 1937. Dari penelitian tersebut tidak ditemukan rongga ‎ataupun ruang di dalam tubuh stupa maupun pada bagian fondasi candi. Karena itu, para ahli ‎menyimpulkan bahwa Candi Sumberawan bukan merupakan tempat pendharmaan raja, ‎melainkan berfungsi sebagai tempat pemujaan umat Buddha pada masa lampau.‎

Seiring berjalannya waktu, kawasan Candi Sumberawan mulai dikembangkan sebagai ‎destinasi wisata sejarah. Situs ini ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2010 dan ‎kemudian memperoleh status Cagar Budaya Peringkat Provinsi pada tahun 2013. Sejak saat ‎itu, jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat, baik dari kalangan akademisi maupun ‎masyarakat umum.‎

Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, kawasan Candi Sumberawan juga menyimpan cerita ‎rakyat yang masih dipercaya masyarakat hingga sekarang. Di kawasan tersebut terdapat dua ‎mata air yang disakralkan, yaitu Sendang Kamulyan dan Sendang Kahuripan. Sendang ‎Kamulyan dipercaya sebagai tempat pemandian putri kerajaan pada masa lampau, ‎sedangkan Sendang Kahuripan dikenal sebagai “air kehidupan”. Menurut cerita yang ‎berkembang di masyarakat, seekor babi hutan yang terluka akibat tembakan pada masa ‎penjajahan Belanda pernah masuk ke sendang tersebut dan keluar dalam keadaan sembuh.‎

Tradisi masyarakat di kawasan Sumberawan juga masih berlangsung hingga kini. Setiap bulan ‎Suro, masyarakat menggelar ritual Selametan Banyu sebagai bentuk rasa syukur atas ‎keberadaan sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan. Prosesi diawali dengan ‎berkumpul di rumah kepala dusun menggunakan pakaian adat, kemudian berjalan kaki ‎menuju kawasan Candi Sumberawan untuk melaksanakan doa bersama.‎

Bagi sebagian masyarakat, khususnya penganut Islam Kejawen, kawasan Sumberawan ‎dipandang sebagai tempat yang sakral dan dipercaya membawa keberkahan maupun ‎kesembuhan. Di sisi lain, Candi Sumberawan juga masih dimanfaatkan umat Buddha sebagai ‎tempat beribadah, terutama saat perayaan Hari Raya Waisak. Selain untuk beribadah, ‎kawasan ini kerap dijadikan lokasi penelitian sejarah, arkeologi, serta meditasi.‎

Mayoritas pengunjung yang datang merupakan peneliti, sejarawan, arkeolog, hingga ‎wisatawan yang ingin mempelajari sejarah Kerajaan Majapahit dan peninggalan Buddha di ‎Jawa Timur. Tidak sedikit pula pengunjung dari berbagai latar belakang kepercayaan yang ‎datang untuk mengambil air dari mata air di kawasan tersebut sebagai bagian dari kebutuhan ‎ritual keagamaan.‎

Saat ini, pengelolaan Candi Sumberawan berada di bawah Balai Pelestarian Kebudayaan ‎‎(BPK) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Masyarakat tidak terlibat secara ‎langsung dalam pengelolaan situs, namun tetap dilibatkan dalam berbagai kegiatan ‎kolaboratif yang berkaitan dengan pelestarian budaya dan penyelenggaraan kegiatan di ‎kawasan cagar budaya tersebut.‎

Pelestarian sumber mata air juga menjadi perhatian utama. Selain dimanfaatkan untuk ‎kegiatan ritual, air di kawasan Sumberawan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-‎hari masyarakat melalui sistem pipanisasi yang dikelola oleh masing-masing RT. Pengawasan ‎terhadap sistem tersebut dilakukan secara berkala sebanyak dua kali dalam sebulan. ‎Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan, air di kawasan ini memiliki tingkat ‎keasaman (pH) sebesar 7,7, sehingga tergolong dalam kondisi yang baik.‎

Keberadaan Candi Sumberawan juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. ‎Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan membuka peluang bagi warga untuk membuka ‎usaha dan berjualan di sekitar kawasan wisata.‎

‎”Harapan kami, semakin banyak masyarakat mengenal Candi Sumberawan melalui media ‎digital. Kami juga membuka peluang kolaborasi dengan mahasiswa agar potensi sejarah dan ‎budaya di sini semakin dikenal luas,” ujar Ahmad Akmal Basyar.‎

Ia berharap pemanfaatan media digital dapat menjadi sarana efektif dalam memperkenalkan ‎Candi Sumberawan kepada masyarakat yang lebih luas. Menurutnya, kolaborasi antara ‎pengelola, pemerintah, dan mahasiswa akan menjadi langkah penting untuk menjaga ‎kelestarian sekaligus meningkatkan daya tarik wisata sejarah ini tanpa menghilangkan nilai ‎budaya, spiritual, dan lingkungan yang telah diwariskan selama berabad-abad.‎

Penulis: Setyaning Puspita Sari, Jurnalistik KKN-T 08 Universitas Islam Raden Rahmat Malang

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *