Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Dunia AktivisE-Koran

Jangan Tidur Nyenyak, Kamu WNI

×

Jangan Tidur Nyenyak, Kamu WNI

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Ahmad Yusron Chasani, Kader HMI Salatiga

Salatiga, 13 Juli 2026 — Pekan ini, publik Indonesia disuguhkan beragam peristiwa yang gedebak-gedebuk menggambarkan kompleksitas dinamika ke tidak jelasan bangsa. Mulai dari pusaran kasus mega korupsi yang menyeret Institusi penegak hukum dan keamanan sampai ke pejabat tinggi dan cukong-cukongnya, hingga arah kebijakan ekonomi ruwet yang dicanangkan pemerintahan Prabowo Subianto, semuanya terjadi dalam tempo yang hampir bersamaan.

Example 300x600

Semua mata akhir-akhir ini tertuju pada kasus dugaan korupsi yang melibatkan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah. Sosok yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi ini justru kini berstatus tersangka. Pemicunya adalah penggeledahan yang dilakukan kepolisian di kediamannya di Sentul, Bogor, yang menemukan bukti mencengangkan yaitu 74 kilogram emas batangan serta uang tunai dan valuta asing senilai sekitar Rp540 miliar.

Kasus ini tidak hanya menggemparkan karena nominalnya yang fantastis, tetapi juga karena pelaku adalah aparat penegak hukum. Febrie diduga terlibat dalam tiga perkara korupsi besar, yakni pengadaan batu bara PLTU, korupsi di PT Asabri dan Jiwasraya, serta dugaan pencucian uang.

Akibatnya, imigrasi pun melarang Febrie bepergian ke luar negeri untuk kepentingan penyelidikan. Di sisi lain, DPR juga ikut angkat bicara. Dua fraksi di Komisi III bahkan mendorong agar hukuman mati dijatuhkan kepada Febrie sebagai efek jera atas pengkhianatan kepercayaan public, yang kemudian setelahnya febri melakukan skema klarifikasi khas ala pejabat, klarifikasi bahwa harta itu bukan miliknya dan kemudian mengundurkan diri. Sementara itu, Komisi Kejaksaan RI menilai pentingnya segera mengisi kekosongan posisi Jampidsus definitif.

Kasus ini semakin memanas dengan beredarnya foto pengusaha Tan Kian yang viral di media sosial. Beredar isu bahwa pengusaha tersebut ditangkap terkait kasus Febrie. Namun, Polri dengan tegas membantah hal tersebut, menyatakan bahwa Tan Kian hanya diperiksa sebagai saksi dan tidak ditahan.

Selain kasus korupsi, sejumlah peristiwa viral juga mewarnai lanskap berita nasional, menunjukkan keprihatinan publik terhadap isu sosial dan keamanan privasi. Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan seorang mahasiswa senior di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi perhatian luas. Hingga kini, 58 orang mengaku sebagai korban dengan modus yang diduga serupa, mendorong kampus untuk segera bertindak.

Di wilayah Bekasi, sebuah video seorang wanita dengan luka memar dan lebam di wajah viral, memicu keprihatinan warganet atas dugaan penganiayaan dan penyekapan oleh pacarnya. Polisi pun bergerak cepat memeriksa saksi-saksi di lokasi kejadian di Cikarang.

Di tengah hiruk-pikuk isu hukum dan sosial, Presiden Prabowo Subianto terus menggemakan visi ekonominya melalui pidatonya di tiap-tiap acara yang dinilai masyarakat sebagai bentuk terror karena selalu memberikan pernyataan yang membuat warga merasa tertekan, takut kemudian di aminkan oleh para Menteri nya kemudian menjadi kebijakan yang selalu tanpa landasan akademik. Pada Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 lalu, ia menegaskan bahwa Indonesia harus kembali ke ekonomi kerakyatan sesuai amanat UUD 1945. Presiden secara terang-terangan mengkritik paham ekonomi neoliberal dan teori trickle down effect, yang dinilainya tidak mampu menghadirkan kesejahteraan merata. Menurutnya, koperasi adalah instrumen kunci untuk mengembalikan kekayaan negara kepada rakyat dan memastikan hasil pembangunan dinikmati secara merata. Yang kita ketahui bersama bahwa koperasi-koperasi yang dibangun masih jauh sama sekali dari kata ideal. Bahkan ada laporan yang menyatakan bahwa setelah 3 bulan berjalan koperasi di salah satu kota hanya untung 78 ribu, ini sungguh miris. Jatuhnya kepercayaan rakyat pada proyek-proyek pemerintah lah yang menjadi akarnya.

Di sisi lain, gempuran informasi bencana alam dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga September 2026, dengan sejumlah daerah seperti Sumatera Utara dan Makassar mencatat suhu di atas 35 derajat Celcius-. Sebagai bagian dari antisipasi bencana, BPBD Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, mengimbau warga untuk tetap tenang pasca-gempa berkekuatan magnitudo 5,1 yang mengguncang wilayah tersebut.

Pekan ini harusnya menjadi cermin bagi Indonesia, satu sisi, skandal korupsi besar menguji integritas aparat penegak hukum dan memicu tuntutan hukuman mati, di sisi lain, isu sosial viral mengingatkan pada pentingnya keadilan dan keamanan privasi bagi warga negara. Sementara itu, pemerintah terus bergerak dengan agenda ruwet khasnya yaitu ekonomi baru di tengah tantangan alam mulai dari banjir Sumatra hinga penggusuran tanah ulayat di Papua. Semua peristiwa ini menjadi narasi yang menunjukkan bahwa Indonesia sedang berada di persimpangan antara harapan reformasi dan realitas sosial, lingkungan, ekonomi, yang amburadul. Maka, tetaplah bernafas walaupun kau WNI

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *