Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Artikel Ilmiah

Fenomena Banjir di Sepanjang Pantura Semarang sampai Sayung Demak Menjadi Langganan Setiap Tahun, Ke Manakah Pemerintah Provinsi?

×

Fenomena Banjir di Sepanjang Pantura Semarang sampai Sayung Demak Menjadi Langganan Setiap Tahun, Ke Manakah Pemerintah Provinsi?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Mutiara Khansa Ramadhani, Mahasiswi Program Studi Ilmu Perikanan/Manajemen Sumber Daya Perairan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto

Kabupaten Demak merupakan wilayah pesisir di Provinsi Jawa Tengah yang didominasi oleh dataran rendah dengan elevasi mendekati muka laut. Kondisi fisiografis tersebut menyebabkan wilayah ini memiliki tingkat kerawanan banjir yang sangat tinggi, baik akibat curah hujan dengan intensitas tinggi maupun fenomena banjir rob yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Intensitas curah hujan yang ekstrem secara signifikan meningkatkan volume debit air limpasan yang memperparah genangan, terutama di daerah aliran sungai dan dataran rendah yang padat penduduk. Kerawanan banjir di Kabupaten Demak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor hidrometeorologi, tetapi juga diperparah oleh fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) yang terjadi secara progresif di wilayah pesisir. Kecamatan Sayung tercatat mengalami laju penurunan tanah yang tinggi, bahkan mencapai nilai maksimum 19,5 cm per tahun berdasarkan analisis satelit InSAR dan pengamatan GNSS (Haq et al., 2026).

Example 300x600

Perubahan pada garis pantai serta kejadian banjir rob di Kabupaten Demak sebagian besar disebabkan oleh kegiatan manusia, seperti konversi lahan yang melindungi pantai yang mengganggu proses pengangkutan sedimen dan penambangan pasir yang menyebabkan pergeseran pola arus serta gelombang (Ramadhani et al., 2021). Banjir ini timbul akibat naiknya air laut yang menggenangi area sekitarnya. Saat terjadinya pasang tertinggi air laut, wilayah yang terdampak banjir rob akan bertambah luas mengikuti elevasi tanah. Tanah dengan kemiringan rendah akan lebih rentan terhadap banjir pasang. Salah satu faktor yang menyebabkan banjir rob adalah peningkatan permukaan air laut yang merupakan konsekuensi dari perubahan iklim dan kegiatan manusia (Sasmito, 2020). Fenomena lainnya yang terjadi di Kecamatan Sayung adalah penurunan permukaan tanah. Penurunan permukaan tanah atau subsidence tanah adalah suatu keadaan di mana tinggi permukaan tanah berubah baik dalam jangka pendek maupun panjang dan tidak merata di seluruh kawasan (Wirawan et al., 2019).

Banjir rob merupakan salah satu masalah bagi warga setempat maupun masyarakat pengguna transportasi yang melalui daerah tersebut, khususnya Semarang Utara yang sering terkena rob dan masyarakat merasakan tidak nyaman dalam berkendara (Hakam & Harsato 2018). Fenomena rob yang tergenang menyebabkan kendaraan masyarakat cepat keropos dan mengganggu pertumbuhan sektor lain, salah satunya perekonomian. Gangguan lainnya, termasuk penurunan produktivitas pertanian dan peningkatan risiko wabah penyakit (Indahsari & Hidayatullah, 2023). Selain memberikan dampak terhadap sektor sosial, banjir rob memberikan respon pada kerusakan lingkungan, salah satunya terhadap perubahan garis pantai. Penggunaan lahan di kawasan pesisir Kota Semarang direklamasi sebagai area permukiman, industri, dan pariwisata. Seiring dengan fenomena banjir rob setiap tahunnya, kawasan tersebut mengalami abrasi sepanjang 4,55 Km dengan luas 92 ha, yang meliput Kecamatan Tugu seluas 30 ha, Semarang Barat seluas 20 ha, Semarang Utara seluas 10 ha, dan Genuk seluas 32 ha. Sungai-sungai yang selama ini memasok aliran air rob ke pemukiman warga akan ditutup. Total ada lima sungai: Sringin, Sungai Tenggang, Kali Sriwulan, Kali Kaidin, dan Kali Menyong. Nantinya, luapan air sungai-sungai itu dari hulu akan masuk pada kolam retensi, yang terbangun tidak jauh dari tanggul laut. Ada dua kolam retensi: sistem Terboyo dan sistem Sriwulan.

Problematika banjir Semarang tidak dapat dipisahkan dari tata kelola saluran air, termasuk pengelolaan sungai yang kewenangannya seringkali tidak hanya berada di tangan pemerintah daerah. Sungai Sringin dan Tenggang, yang menjadi sorotan utama saat banjir, ternyata berada di bawah kendali Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, sebuah unit pelaksana teknis Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini menunjukkan kompleksitas koordinasi antarlembaga dalam penanganan bencana. Meskipun Rumah Pompa Sringin dan Tenggang telah beroperasi, kapasitasnya dinilai belum memadai untuk mengatasi debit air yang sangat besar saat curah hujan ekstrem. Data dari BBWS Pemali Juana menunjukkan total kapasitas pompa di empat titik utama penanganan banjir, yaitu Sungai Sringin, Terboyo, Kali Tenggang, dan Pasar Waru, mencapai 30.360 liter per detik. Upaya lain juga dilakukan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jateng-DIY dengan membangun sodetan Sungai Sayung sepanjang 168 meter untuk memperlancar aliran air.

Pembangunan di kawasan Kecamatan Sayung di pesisir Kabupaten Demak meningkatkan permintaan lahan. Salah satu proyek tersebut adalah pembangunan jalan tol Semarang – Demak yang dibagi menjadi dua seksi, yaitu dari Semarang menuju Sayung dan dari Sayung menuju Demak. Di wilayah Kecamatan Sayung, yang terletak di dalam jalur tol, terdapat tujuh desa termasuk Desa Sriwulan, Bedono, Purwosari, Sidogemah, Sayung, Loireng, dan Desa Tambakroto. Situasi ini tentu memicu perubahan dalam penggunaan lahan yang berdampak pada nilai tanah di wilayah tersebut. Selain itu, area ini juga mengalami banjir yang disebabkan oleh pasang surut, mengakibatkan fungsi tanah menurun karena lahan terendam oleh air laut yang meningkat saat pasang, sehingga akan memengaruhi baik penggunaan lahan maupun nilai tanah di lingkungan sekitarnya.

Di tengah menunggu pengerjaan tanggul laut selesai, Pemerintah Provinsi Jateng melakukan berbagai langkah penanganan, yakni pompanisasi di sejumlah titik pusat genangan hingga di tengah pemukiman warga. Selain itu, Pemprov juga melakukan pengerukan pendangkalan sungai, normalisasi sungai, hingga drainase. Bahkan, warga terdampak banjir rob diberikan bantuan cuma-cuma. Kurangnya edukasi ekologis kepada masyarakat, lemahnya pengawasan terhadap perusakan mangrove, serta belum maksimalnya restorasi pesisir menjadi catatan kritis yang perlu segera ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat maupun daerah. Untuk penanganan dampak banjir di jalan pantura sendiri, telah diajukan ke pusat terkait penanganan cuaca ekstrim, tetapi masih dalam pembahasan. “Untuk Titik lokasinya tersebar yaitu di batas kota Pemalang – batas kota Pekalongan, Jalan Sriwijaya (Pekalongan), Jalan Sudirman (Batang), Batas kota Batang – Batas Kabupaten Kendal lokasi tersebut sesuai dengan genangan saat banjir.

REFERENSI

Fatimah, B. N., Wijaya, A. P., & Yusuf, M. A. (2023). Analisis Estimasi Zonasi Nilai Tanah di Kawasan Banjir dan Pembangunan Jalan Tol Semarang – Demak (Studi Kasus: Kecamatan Sayung Kabupaten Demak). Jurnal Geodesi Undip, 12(4), 415.

Haq, M. N., Herlambang, B. A., & Anam, A. K. (2026). Analisis spasial kerawanan banjir di Kabupaten Demak berdasarkan sebaran desa terdampak dan penurunan muka tanah. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 3(1), 493-503. https://doi.org/10.1061722/jmia.v3i1.7979

Khairullah, K. K., Rifai, A., & Indrayanti, E. (2024). Studi luasan genangan banjir rob akibat kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah di Kecamatan Sayung, Demak. Indonesian Journal of Oceanography (IJOCE), 6(4), 316-323. https://doi.org/10.14710/ijoce.v6i4.24645

https://www.detik.com/jateng/bisnis/d-8203541/sederet-penanganan-jalan-pantura-semarang-usai-11-hari-direndam-banjir
https://www.merdeka.com/peristiwa/banjir-semarang-problematika-tak-kunjung-rampung-solusi-jangka-panjang-diharapkan-492538-mvk.html?page=2#google_vignette

www.mongabay.co.id › 2025/04/08 › solusi-semu-tol-tanggul-laut

www.suaramerdeka.com › semarang-raya › 0415400478

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *