Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Menjebol Tembok Lonely Together di Ruang Keluarga

×

Menjebol Tembok Lonely Together di Ruang Keluarga

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Indryarta Nailul Hidayah , Mahasiswi Prodi Manajemen Dakwah UIN Salatiga

Bayangkan sebuah pemandangan malam hari di ruang keluarga masa kini ketika ayah sibuk menonton konten reels di Instagram sementara ibu sudah terlelap karena kelelahan. Di sudut ruangan yang sama, terdapat seorang anak kecil yang masih terjaga dan setia menunggu kepulangan orang tuanya hanya untuk sekadar bercerita atau berharap bisa bermain bersama sebentar sebelum tidur. Secara fisik mereka berada di ruang yang sama dan berjarak tak sampai dua meter, namun secara emosional masing-masing anggota keluarga ini sebenarnya berada di tempat yang berbeda.

Example 300x600

Inilah potret nyata fenomena lonely together atau kesepian bersama yang menjadi ironi domestik di mana rumah mengalami penyusutan fungsi. Anggota keluarga yang beraktivitas di luar rumah sering kali mengalami burnout akibat tuntutan ekonomi yang tinggi dan beban kerja yang menguras energi. Ketika tiba di rumah, alih-alih membuka ruang dialog, tiap individu memilih menarik diri ke dalam dunia digital masing-masing sebagai pelarian instan. Dampaknya akan sangat fatal bagi pertumbuhan anak karena tanpa sadar orang tua sedang membangun tembok pembatas yang tebal di bawah atap yang sama.

Secara ideal, keluarga memegang peran sakral sebagai safe space atau ruang aman dan madrasah pertama tempat identitas anak dibentuk serta tangki emosional mereka dipenuhi sebelum bertarung dengan dunia luar. Namun realitasnya, niat baik orang tua yang bekerja tekun demi masa depan agar tidak kesulitan ekonomi sering kali melupakan aspek afektif anak. Anak tidak melulu soal kecukupan materi, mereka butuh didengar dan dipahami bahwa diri mereka layak dicintai lewat saling berbagi kasih sayang secara verbal maupun tindakan nyata di dalam rumah.

Jika momen pengabaian ini terjadi konsisten, otak anak yang bekerja seperti spons akan merekam kesimpulan pahit bahwa apa yang ada di hati mereka tidak selalu perlu disampaikan karena tidak ada yang mau mendengar. Kesalahpahaman ini kerap memuncak menjadi konflik verbal melalui kalimat seperti, “Kamu gak usah ribut, Mamah dan Papah capek kerja itu buat kamu! Sampe rumah bukannya tenang malah mikirin kamu yang gak bisa diatur,” yang mungkin terasa ringan terucap dari bibir orang tua yang telanjur penat.

Namun bagi seorang anak, mereka tidak menangkap omongan tersebut seringan yang dibayangkan melainkan sebagai penolakan emosional yang menghancurkan fondasi interaksi. Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena ini memicu lahirnya pseudo-communication atau komunikasi semu yang bersifat transaksional belaka, sehingga mematikan komunikasi dialogis dan membentuk anak tumbuh menjadi pribadi yang menutup diri atau social withdrawal.

Guna mengatasi matinya ruang temu emosional ini, solusinya harus dimulai dari kesadaran berkomunikasi yang sengaja dibangun kembali oleh orang tua melalui mindful communication. Keluarga perlu menyepakati adanya aturan konsensual seperti gerakan Media-Free Hour untuk meluangkan satu jam saja di malam hari tanpa gawai sama sekali agar fungsi komunikasi dialogis yang menyentuh aspek afektif bisa kembali hidup. Orang tua harus menurunkan ego dari sekadar menjadi penyedia materi atau provider menjadi pendengar yang penuh empati atau emotional coach bagi anak-anak mereka.

Menjebol tembok lonely together pada akhirnya tidak membutuhkan renovasi fisik rumah yang mewah atau biaya yang mahal. Ketika fungsi afektif keluarga runtuh, anak akan terdorong mencari validasi semu di luar lingkungan rumah yang belum tentu sehat hanya karena tempat tinggal mereka terlanjur sunyi. Kita hanya perlu meletakkan gawai, saling menatap mata, dan mengembalikan kebiasaan saling mendengarkan secara mendalam. Rumah sejati bukanlah tentang seberapa megah dan kokoh bangunannya, melainkan tentang seberapa hangat komunikasi dan pelukan emosional di dalamnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *