Oleh: Florentinus Bora, Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Perkembangan dunia dewasa ini ditandai dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Segala sesuatu dapat dilakukan dengan cepat dan mudah melalui teknologi. Dengan menjentikkan jari di layar handphone segala sesuatu dapat diakses dan memudahkan pekerjaan. Perubahan ini tidak serta merta membawa manusia pada hidup yang lebih bermakna. Sebaliknya, perubahan ini justru menghadapkan generasi muda pada tingkat kecemasan yang cukup tinggi yang disertai dengan perasaan hampa dan kehilangan tujuan hidup.
Jonathan Haidt dalam bukunya yang berjudul The Anxious Generation menguraikan efek budaya digital yang berpengaruh pada tingkat krisis kesehatan mental, yang tercermin dalam kondisi kecemasan serta kebingungan dalam memahami makna hidup.
Pergeseran Cara Membangun Relasi Sosial
Pergeseran dari masa kanak-kanak berbasis permainan nyata menuju masa kanak-kanak berbasis ponsel membawa konsekuensi yang serius terhadap cara remaja membangun relasi sosial. Interaksi sosial yang dulu dialogis dan mendalam berubah menjadi serba singkat, dangkal, dan impersonal. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di ruang privat, sementara relasi yang seharusnya menumbuhkan mereka justru tergantikan oleh koneksi virtual yang rapuh (Haidt, 2024).
Hal yang mesti direnungkan adalah bagaimana krisis ini bukan sekadar soal kecanduan gawai, melainkan soal identitas. Masa remaja memang secara alami adalah masa pencarian jati diri dengan pertanyaan yang sering kali dihadapkan pada remaja seperti “siapa saya”, “untuk apa saya hidup” (Herdiani et al, 2025). Tapi ketika pencarian itu dimediasi oleh layar, standar yang dipakai untuk menilai diri sendiri pun berubah. Remaja tidak lagi hanya membandingkan diri dengan lingkungan nyata, tetapi dengan citra-citra digital yang sering kali tidak realistis. Validasi diri diukur lewat jumlah like dan follower, sesuatu yang bisa membuat seseorang tampak punya banyak teman di layar, namun kosong dan sendirian dalam kenyataan.
Kehilangan Makna Hidup sebagai Fenomena Utama
Kecemasan yang seringkali muncul diantaranya yaitu kecemasan menghadapi nasib dan kematian, kecemasan akibat kekosongan eksistensial serta hilangnya makna hidup, dan kecemasan yang bersumber dari rasa bersalah serta ketakutan akan hukuman (Weems et al, 2004). Di antara berbagai bentuk tersebut, kecemasan akan kehilangan makna hidup menjadi salah satu fenomena yang paling menonjol di kalangan remaja.
Banyak remaja mengalami kebingungan mengenai tujuan hidup, identitas diri, serta arah masa depan, sehingga mudah terjerumus pada perasaan hampa dan kehilangan orientasi. Kondisi ini semakin diperkuat oleh berbagai tekanan kehidupan modern, seperti tuntutan akademik, kompetisi sosial, pengaruh media digital, dan budaya yang cenderung menilai seseorang berdasarkan pencapaian serta pengakuan dari orang lain. Akibatnya, tidak sedikit remaja yang mengalami krisis makna, yaitu keadaan ketika mereka merasa hidup namun kehilangan tujuan dan nilai yang mampu memberikan alasan mendalam untuk terus menjalani kehidupan.
Kehampaan Eksistensial di Tengah Kelimpahan
Inilah akar dari apa yang oleh sejumlah pemikir disebut sebagai kehampaan eksistensial, situasi ketika seseorang memiliki begitu banyak sarana untuk hidup, tapi tidak menemukan alasan untuk hidup. Ironisnya, kemewahan materi dan kemudahan teknologi tidak otomatis menjawab pertanyaan paling mendasar manusia: untuk apa semua ini?
Ketika pertanyaan itu tidak terjawab, yang muncul adalah gejala-gejala klinis yang serius seperti depresi, perilaku agresif, kecanduan, bahkan dalam kasus paling tragis, keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Hal yang paling perlu digarisbawahi adalah bahwa krisis ini sesungguhnya adalah krisis relasi. Ketika komunitas yang dulu menjadi tempat seseorang menemukan pijakan hidup mulai memudar, digantikan oleh individualitas yang difasilitasi teknologi, maka wajar jika muncul rasa terisolasi meski secara teknis seseorang “terhubung” dengan ratusan orang di dunia maya.
Solusi: Membangun Ruang Perjumpaan Nyata
Solusi atas krisis ini tidak cukup hanya dengan membatasi waktu layar, meskipun itu penting. Hal yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana keluarga, komunitas, dan lingkungan pendidikan kembali menghadirkan ruang-ruang perjumpaan yang nyata di mana remaja bisa membangun identitas melalui relasi yang tulus, bukan melalui algoritma yang dirancang untuk membuat mereka terus kembali menatap layar.
Pendampingan yang bijak, bukan sekadar larangan, merupakan kunci agar generasi ini bisa menemukan kembali makna hidup yang autentik, bukan yang dipinjam dari validasi digital yang fana.


















