Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
NewsPendidikan

Dari Ruang Kelas Madrasah Menuju Pengembangan Guru Berskala Nasional, Insan Faisal Ibrahim Lulus Wardah Inspiring Teacher Gen 8

×

Dari Ruang Kelas Madrasah Menuju Pengembangan Guru Berskala Nasional, Insan Faisal Ibrahim Lulus Wardah Inspiring Teacher Gen 8

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Garut, PikiranBangsa.co — Kabar membanggakan kembali hadir dari dunia pendidikan madrasah. Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr., guru MIS Ar-Raudhotun Nur Bayongbong, Kabupaten Garut, berhasil menyelesaikan rangkaian Program Wardah Inspiring Teacher (WIT) Generation 8 yang diselenggarakan oleh ParagonCorp bersama Guru Belajar Foundation. Program pengembangan guru berskala nasional tersebut berlangsung sejak 6 Februari hingga 26 September 2026 dan menjadi salah satu ruang belajar bagi para pendidik dari berbagai wilayah Indonesia untuk terus mengembangkan kompetensi, kepemimpinan pembelajaran, serta menghadirkan perubahan nyata dari ruang kelas. Program WIT Gen 8 sendiri mengusung semangat “Dari Kelas untuk Dampak Nyata” dan mendorong guru untuk bertumbuh, berinovasi, serta menciptakan pengalaman belajar yang berdampak bagi peserta didik.

Perjalanan tersebut diikuti oleh puluhan ribu guru dari berbagai daerah dan jenjang pendidikan. Dari sekitar 30 ribu peserta yang mengikuti rangkaian program, sekitar 5 ribu guru berhasil menuntaskan proses hingga dinyatakan lulus. Selanjutnya, sebanyak 500 guru terpilih dalam sesi Cerita Perubahan, sebuah ruang yang menampilkan pengalaman dan perubahan nyata yang lahir dari proses pembelajaran serta aksi yang dilakukan guru. Keberhasilan Insan dalam menuntaskan program tersebut menjadi catatan tersendiri bagi MIS Ar-Raudhotun Nur, khususnya dalam menunjukkan bahwa guru madrasah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, belajar, berjejaring, dan berkontribusi dalam ruang pendidikan nasional.

Example 300x600

Sejak awal mengikuti program, Insan tidak menempatkan WIT Gen 8 hanya sebagai kegiatan untuk memperoleh sertifikat atau menambah daftar pengalaman profesional. Baginya, keikutsertaan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus belajar sekaligus membuktikan bahwa guru madrasah mampu bersaing dan mengambil bagian dalam program pengembangan pendidikan berskala nasional. Terlebih, program tersebut diikuti oleh guru dari berbagai latar belakang satuan pendidikan. Dalam sejumlah publikasi mengenai WIT Gen 8, program ini memang melibatkan guru dari berbagai daerah dan mendorong peserta untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kontekstual, kreatif, serta berdampak melalui proses belajar dan implementasi proyek. “Bagi saya, mengikuti Wardah Inspiring Teacher bukan sekadar mencari ilmu atau mengejar kelulusan. Saya ingin membuktikan bahwa guru madrasah juga mampu ikut serta dalam program nasional dan mampu menyelesaikan prosesnya dengan sungguh-sungguh. Ini adalah bagian dari ikhtiar untuk terus belajar dan membawa nama baik madrasah serta Kementerian Agama, khususnya Kementerian Agama Kabupaten Garut, di dunia pendidikan,” ungkap Insan.

Perjalanan menuju kelulusan tentu tidak berlangsung secara instan. Peserta harus mengikuti berbagai tahapan pembelajaran, menyelesaikan tugas, melakukan refleksi, mengikuti sesi pendampingan, serta menunjukkan komitmen dalam menerapkan hasil belajar. Pada tahap awal, WIT Gen 8 memberikan ruang bagi peserta untuk mengikuti modul Guru Belajar dan Pemimpin Belajar, kemudian berlanjut pada proses pendampingan dan implementasi Project Based Learning (PjBL). Kementerian Agama Kabupaten Bantul dalam publikasinya mengenai salah satu peserta WIT Gen 8 menyebutkan bahwa tahapan program mencakup pembelajaran mandiri, refleksi praktik mengajar, pendampingan PjBL, implementasi proyek di sekolah, evaluasi, hingga graduation.

Bagi Insan, tantangan tersebut justru menjadi motivasi untuk terus menyelesaikan setiap tahapan. Meskipun mayoritas peserta berasal dari lingkungan pendidikan umum di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya sebagai guru madrasah untuk tetap berproses. Ia memandang keberagaman latar belakang peserta sebagai kesempatan untuk belajar dari praktik baik guru-guru lain sekaligus memperkenalkan bahwa madrasah juga memiliki banyak pendidik yang terus bergerak melakukan inovasi. “Saya tidak ingin menjadikan perbedaan naungan lembaga sebagai batas untuk belajar. Justru ketika kita berada di ruang yang lebih luas, kita bisa melihat bahwa guru memiliki persoalan yang hampir sama, yaitu bagaimana menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Saya ingin terus belajar, membawa pengalaman yang saya dapatkan kembali ke madrasah, dan mengimplementasikannya dalam pembelajaran,” lanjutnya.

Keberhasilan menyelesaikan WIT Gen 8 juga menjadi bagian dari perjalanan profesional Insan sebagai guru madrasah yang selama ini aktif mengembangkan inovasi pembelajaran. Berbagai pengalaman sebelumnya, mulai dari pemanfaatan teknologi dan AI dalam pembelajaran, pengembangan asesmen kreatif, penerapan Project Based Learning, hingga pengembangan aktivitas belajar yang lebih menyenangkan, menjadi modal penting dalam mengikuti proses pengembangan diri. Program WIT Gen 8 sekaligus memberikan ruang baginya untuk merefleksikan kembali praktik pembelajaran yang telah dilakukan serta melihat kemungkinan pengembangan yang lebih luas.

Lebih dari sekadar capaian personal, keberhasilan tersebut diharapkan menjadi energi positif bagi lingkungan MIS Ar-Raudhotun Nur. Insan berkomitmen untuk membawa pengalaman belajar yang diperoleh selama mengikuti program agar dapat dibagikan kepada rekan-rekan guru dan diterapkan sesuai kebutuhan peserta didik di madrasah. Menurutnya, guru yang telah memperoleh kesempatan belajar memiliki tanggung jawab untuk tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi mampu mengubah pengetahuan tersebut menjadi praktik yang memberikan manfaat bagi lingkungan pendidikan. “Saya ingin apa yang saya dapatkan dari program ini tidak berhenti pada saya. Ilmu, pengalaman, jejaring, dan berbagai praktik baik yang saya peroleh harus kembali ke kelas dan madrasah. Saya ingin terus belajar agar ke depan dapat memberikan kontribusi yang lebih baik untuk siswa, madrasah, dan tentunya membawa nama baik Kementerian Agama Kabupaten Garut,” tegas Insan.

Dengan selesainya rangkaian Wardah Inspiring Teacher Gen 8, Insan berharap perjalanan tersebut bukan menjadi titik akhir, melainkan awal dari proses belajar berikutnya. Ia menyadari bahwa dunia pendidikan terus berubah dan guru dituntut untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pendidik. Bagi guru madrasah di daerah, kesempatan mengikuti program nasional menjadi ruang penting untuk membuka wawasan, membangun jejaring, sekaligus menunjukkan bahwa inovasi pendidikan dapat tumbuh dari mana saja.

Capaian Insan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kualitas guru tidak semata-mata ditentukan oleh tempat seorang guru mengabdi, tetapi juga oleh kemauan untuk terus belajar, mencoba, melakukan refleksi, dan menghadirkan perubahan. Dari MIS Ar-Raudhotun Nur Bayongbong, semangat belajar tersebut diharapkan terus tumbuh dan menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan madrasah yang semakin adaptif, inovatif, dan berdampak bagi peserta didik.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *