Oleh: Nawwaf Absyar Rajabi, Santri-Murid Kelas X Planet Nufo
Absyar duduk termenung di ruang tengah dengan ponsel yang masih tergenggam di tangannya. Air matanya sudah kering sejak tadi. Ruangan terasa begitu hening. Tidak ada suara yang terdengar, tetapi di dalam hatinya masih ada sesuatu yang terus berteriak dan meronta.
“Kenapa?!”
Saat itu, Absyar masih berusia sembilan tahun. Ayahnya sedang menderita leukemia dan harus menjalani perawatan di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Rumah Absyar berada jauh dari rumah sakit tersebut, sehingga ia tidak bisa selalu berada di sana. Selama ayahnya dirawat, ibunya menemani sang ayah di rumah sakit. Sementara itu, Absyar tinggal di rumah teman orang tuanya yang bernama Agus. Karena usianya sudah lebih tua, Absyar biasa memanggilnya Wa Agus.
Sudah sekitar seminggu ayahnya menjalani perawatan di rumah sakit. Bagi Absyar yang masih kecil, keadaan itu terasa seperti sesuatu yang biasa saja. Ia tahu ayahnya sedang sakit dan dirawat, tetapi ia tidak benar-benar memahami seberapa serius penyakit yang sedang dideritanya. Ia hanya tahu bahwa ibunya sedang berada jauh, menemani ayahnya di rumah sakit.
Hari itu adalah hari Jumat. Setelah selesai melaksanakan salat Jumat, Absyar berjalan menuju rumah Wa Agus, tempat ia menginap selama orang tuanya berada di Yogyakarta. Dalam perjalanan, ia melewati rumah Tante Pipir. Saat melewati rumah itu, Absyar mendengar suara tangisan dari dalam.
Awalnya, Absyar tidak terlalu memperhatikannya. Ia tetap berjalan seperti biasa. Namun, belum terlalu jauh dari rumah Tante Pipir, tiba-tiba terdengar suara memanggil dari belakang.
“Absyar!”
Absyar berhenti dan menoleh.
Ternyata yang memanggilnya adalah Wa Agus. Absyar memperhatikan wajah Wa Agus. Wajahnya tidak terlihat terlalu serius, tetapi matanya tampak sembap, seperti baru saja menangis.
“Kenapa, Wa?” tanya Absyar.
Wa Agus kemudian mengajaknya pergi ke rumah Tante Pipir. Absyar menurut tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sesampainya di rumah Tante Pipir, ia melihat sesuatu yang membuatnya semakin bingung.
Tante Pipir sedang menangis dengan sangat histeris.
Absyar hanya berdiri dan melihatnya. Ia belum mengerti mengapa Tante Pipir menangis seperti itu. Tidak ada yang menjelaskan kepadanya apa yang sedang terjadi. Yang ia tahu hanyalah suasana di rumah itu berbeda dari biasanya. Tangisan Tante Pipir terdengar begitu kuat, sementara mata Wa Agus juga terlihat sembap.Setelah itu, Absyar bersama Wa Agus meninggalkan rumah Tante Pipir dan kembali ke rumah tempat mereka menginap.
Sesampainya di rumah, Absyar masih memikirkan apa yang baru saja dilihatnya. Ia merasa penasaran. Mengapa Tante Pipir menangis sampai seperti itu? Mengapa mata Wa Agus sembap? Dan sebenarnya apa yang telah terjadi?Akhirnya, Absyar bertanya kepada Wa Agus.
“Kenapa, Wa?”
Wa Agus kemudian mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan Absyar.
“Bapakmu udah mati, udah meninggal.”
Absyar terdiam.
Kalimat itu begitu singkat. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada kata-kata yang rumit. Namun, bagi seorang anak berusia sembilan tahun, kalimat tersebut terasa begitu berat.
“Bapak?”
“Sudah meninggal?”
Absyar tahu bahwa ayahnya sedang dirawat di rumah sakit. Ia tahu bahwa ibunya sedang menemani ayahnya di sana. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa perawatan itu akan berakhir seperti ini.
Tidak lama setelah itu, Absyar masuk ke rumah Wa Agus. Ia masih memegang ponselnya. Pikirannya penuh dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Wa Agus.Kemudian, ponselnya berdering.
Ibu menelepon.
Absyar mengangkat telepon tersebut. Dari seberang terdengar suara ibunya yang masih berada di rumah sakit. Pada saat itulah, kabar yang sebelumnya disampaikan oleh Wa Agus terasa semakin nyata.
Ayahnya benar-benar telah pergi.
Orang yang selama ini Absyar kenal sebagai sosok yang kuat. Orang yang bekerja keras untuk menafkahi keluarganya. Orang yang menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarganya, kini sudah tidak ada.
Absyar hanya bisa terdiam. Air matanya mengalir lagi.
Ia belum sepenuhnya memahami mengapa semua ini harus terjadi. Ia hanya tahu bahwa seseorang yang selama ini ia panggil Bapak, yang sebelumnya masih ada meskipun sedang sakit, kini telah pergi untuk selamanya.
Dan hari itu, setelah salat Jumat, perjalanan pulang yang awalnya terasa biasa berubah menjadi sebuah hari yang tidak akan pernah Absyar lupakan.


















