Mendapatkan modal merupakan salah satu tantangan bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan bisnis. Selain menggunakan keuntungan usaha atau mengajukan pinjaman, perusahaan dapat mencari pendanaan melalui modal ventura. Namun, mendapatkan investor bukan hanya soal menyampaikan ide yang menarik. Pengusaha juga perlu menyiapkan penawaran yang masuk akal, memahami nilai bisnisnya, dan bernegosiasi mengenai ketentuan investasi.
Modal Ventura untuk Usaha yang Berpotensi Tumbuh
Modal ventura adalah kegiatan pendanaan yang ditujukan kepada perusahaan pasangan usaha, termasuk perusahaan rintisan atau startup dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bentuk pendanaannya dapat berbeda-beda, mulai dari penyertaan modal hingga pembiayaan melalui instrumen tertentu sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam penyertaan modal, investor memperoleh kepemilikan di perusahaan berdasarkan kesepakatan. Karena itu, pendanaan ini berbeda dari pinjaman biasa yang umumnya mewajibkan pembayaran kembali sesuai jadwal.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 17 Januari 2024 mengumumkan penerbitan Peraturan OJK Nomor 25 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Modal Ventura Syariah. OJK menjelaskan bahwa perusahaan modal ventura memiliki peran dalam mendukung pendanaan startup dan UMKM yang belum tentu dapat dijangkau oleh lembaga jasa keuangan lainnya. Aturan tersebut juga membedakan fokus kegiatan perusahaan modal ventura, termasuk yang berfokus pada penyertaan modal dan yang berfokus pada pembiayaan atau utang ventura.
Investor Lebih Berhati-hati
Tantangan memperoleh pendanaan terlihat dalam pemberitaan Bisnis.com pada 22 Oktober 2025. Mengutip Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo), Eddi Danusaputro, laporan itu menyebut situasi pendanaan startup masih cenderung “wait and see” di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dalam berita yang sama, data Tracxn menunjukkan pendanaan startup Indonesia sepanjang 2024 mencapai US$693 juta dari 78 putaran pendanaan. Nilai tersebut disebut sebagai yang terendah dalam beberapa tahun terakhir dan masih di bawah catatan tahun 2016.
Angka tersebut memberi gambaran bahwa pelaku usaha perlu lebih siap ketika mengajukan pendanaan. Data pendanaan agregat tidak berarti semua startup akan kesulitan mendapatkan investor, tetapi menunjukkan bahwa pengusaha tidak bisa hanya mengandalkan antusiasme pasar. Investor akan mempertimbangkan apakah produk dibutuhkan konsumen, apakah perusahaan memiliki pengelolaan keuangan yang baik, serta apakah model bisnisnya dapat bertahan dan berkembang.
Penawaran Harus Menjawab Pertanyaan Investor
Sebelum bertemu calon investor, pengusaha sebaiknya menyusun proposal yang ringkas tetapi lengkap. Isinya dapat mencakup masalah yang ingin diselesaikan, produk atau layanan, target pelanggan, kondisi persaingan, cara perusahaan memperoleh pendapatan, perkembangan penjualan, kebutuhan dana, dan rencana penggunaan modal. Jika perusahaan sudah beroperasi, data seperti jumlah pelanggan, pertumbuhan penjualan, biaya operasional, dan arus kas dapat membantu menjelaskan kondisi bisnis secara lebih konkret.
Pengusaha juga perlu menjelaskan mengapa dana tambahan dibutuhkan pada saat itu. Misalnya, modal akan digunakan untuk menambah kapasitas produksi, merekrut tenaga kerja, memperbaiki teknologi, atau membuka pasar baru. Rencana penggunaan dana sebaiknya disertai perkiraan biaya dan target yang ingin dicapai. Dengan begitu, investor dapat menilai apakah jumlah pendanaan yang diminta sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Proyeksi keuangan perlu disusun secara realistis. Janji keuntungan yang terlalu tinggi tanpa dasar yang jelas justru dapat mengurangi kepercayaan. Jika ada risiko, seperti persaingan yang kuat, ketergantungan pada pemasok tertentu, atau pendapatan yang belum stabil, pengusaha sebaiknya menjelaskannya sekaligus menyampaikan langkah untuk mengantisipasinya.
Negosiasi Bukan Sekadar Menentukan Jumlah Dana
Ketika investor tertarik, proses berlanjut pada negosiasi. Hal yang dibahas bukan hanya jumlah uang yang akan diberikan, tetapi juga nilai perusahaan, persentase saham jika pendanaan berbentuk penyertaan modal, hak investor, peran pendiri, target usaha, dan ketentuan jika terjadi perubahan strategi. Semua hal tersebut dapat memengaruhi hubungan kerja sama setelah investasi berjalan.
Sebagai ilustrasi, sebuah startup membutuhkan Rp1 miliar untuk mengembangkan layanan digitalnya. Investor bersedia memberikan dana, tetapi meminta bagian kepemilikan saham. Pendiri perlu menilai apakah nilai perusahaan yang digunakan sebagai dasar penawaran masuk akal dan apakah persentase saham yang dilepas sebanding dengan dana serta dukungan yang diterima. Angka ini hanya contoh, bukan gambaran kesepakatan tertentu. Besaran kepemilikan dalam transaksi nyata bergantung pada penilaian dan syarat yang disetujui kedua pihak.
Dalam negosiasi, pendiri sebaiknya menentukan kebutuhan minimum yang harus dipenuhi, memahami bagian yang masih dapat dinegosiasikan, dan tidak terburu-buru menerima tawaran hanya karena dana tersedia. Di sisi lain, investor perlu menjelaskan alasan di balik syarat yang diajukan. Komunikasi yang terbuka membantu kedua pihak mengetahui harapan masing-masing dan mengurangi kemungkinan salah paham.
Pemeriksaan dan Perjanjian Perlu Diperhatikan
Sebelum investasi disepakati, investor biasanya melakukan pemeriksaan yang dikenal sebagai due diligence. Pemeriksaan ini dapat mencakup laporan keuangan, dokumen hukum, kepemilikan aset atau kekayaan intelektual, kontrak dengan pelanggan dan pemasok, serta risiko operasional. Pengusaha perlu memastikan dokumen yang diminta tersedia dan informasi yang diberikan sesuai keadaan sebenarnya.
Setelah kedua pihak sepakat, ketentuan utama perlu dicantumkan dalam perjanjian tertulis. Dokumen tersebut sebaiknya menjelaskan jumlah investasi, cara pencairan dana, kepemilikan saham atau instrumen yang digunakan, hak dan kewajiban, pelaporan, serta mekanisme penyelesaian perselisihan. Untuk transaksi yang kompleks, pihak perusahaan sebaiknya meminta bantuan penasihat hukum dan keuangan agar ketentuan yang disepakati dapat dipahami sebelum ditandatangani.
Memilih Investor yang Sesuai
Selain menilai apakah investor bersedia memberikan dana, pendiri juga perlu melihat kecocokan cara kerja dan tujuan bisnis. Investor yang tepat bukan selalu pihak yang menawarkan jumlah uang terbesar. Pengusaha dapat mempertimbangkan pengalaman investor di sektor yang sama, jaringan yang bisa membantu perusahaan, serta cara investor terlibat dalam pengambilan keputusan. Kecocokan ini penting karena kerja sama dapat berlangsung selama beberapa tahun dan memengaruhi arah perusahaan.
Pendiri sebaiknya menyiapkan daftar pertanyaan sebelum pertemuan, misalnya mengenai tahapan pencairan dana, dukungan setelah investasi, target yang diharapkan, dan bentuk laporan yang perlu disampaikan. Calon investor juga perlu diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan secara terbuka. Dengan persiapan tersebut, pertemuan tidak hanya menjadi ajang presentasi, tetapi juga kesempatan bagi kedua pihak untuk menilai apakah mereka dapat bekerja sama dengan baik.
Jangan Mengabaikan Kesiapan Internal
Persiapan mencari modal sebaiknya berjalan seiring dengan perbaikan pengelolaan internal perusahaan. Catatan transaksi, pembukuan, dokumen perizinan, pembagian tugas, dan data pelanggan perlu ditata sejak awal. Jika informasi dasar masih berantakan, proses pemeriksaan investor bisa memakan waktu lebih lama dan menimbulkan keraguan terhadap kesiapan perusahaan.
Perusahaan juga perlu menentukan ukuran keberhasilan penggunaan dana, seperti peningkatan kapasitas produksi, perluasan jangkauan pelanggan, atau perbaikan layanan. Target yang terukur memudahkan pendiri mengevaluasi apakah modal digunakan sesuai rencana. Jika hasilnya berbeda dari perkiraan, perusahaan dapat menjelaskan penyebabnya dan menyusun langkah perbaikan bersama investor.
Membangun Kerja Sama Jangka Panjang
Modal ventura dapat memberikan manfaat lebih dari sekadar tambahan dana. Dalam sejumlah kerja sama, investor juga dapat membawa pengalaman bisnis, jaringan, atau masukan strategis. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena investasi telah diberikan. Perusahaan tetap membutuhkan pengelolaan yang disiplin, komunikasi rutin, dan pembagian peran yang jelas antara pendiri dan investor.
Pada akhirnya, negosiasi dan penawaran modal ventura perlu dipandang sebagai proses membangun kerja sama, bukan sekadar cara cepat memperoleh uang. Pelaku usaha yang memahami kondisi bisnisnya, menggunakan data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan terbuka mengenai risiko akan lebih siap menghadapi pertanyaan investor. Sementara itu, kesepakatan yang ditulis dengan jelas membantu kedua pihak memahami tanggung jawab masing-masing. Dalam situasi pendanaan yang lebih selektif, kesiapan tersebut menjadi bekal penting agar modal yang diperoleh benar-benar mendukung perkembangan usaha.
DAFTAR PUSTAKA
Otoritas Jasa Keuangan. (2024, 17 Januari). OJK Terbitkan POJK Nomor 25 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Modal Ventura Syariah. https://ojk.go.id
Untari, Pernita Hestin. (2025, 22 Oktober). Pendanaan Masih Lesu, Modal Ventura Minta Startup Berbenah Diri. http://Bisnis.com.https://teknologi.bisnis.com/read/20251022/266/1921176/pendanaan-masih-lesu-modal-ventura-minta-startup-berbenah-diri
Otoritas Jasa Keuangan. (2023). Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 25 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Modal Ventura Syariah.
Penulis: Achmad Agus Yasin Fadli, Dhefani Aulia Dewi, dan Raehansyah Putra
Mahasiswa Universitas Pamulang


















